THE LITTLE HOUSE (2014)

2 komentar
Suatu rumah dapat merepresentasikan hidup kita. Orang-orang yang tinggal di dalam rumah tersebut sama dengan mereka yang mengisi kehidupan kita. Sama seperti rumah pula, dalam hidup kita seringkali ada orang yang datang untuk singgah, dan ada pula yang pergi. Ada saatnya suatu rumah tampak begitu kokoh dan indah, disaat hal yang sama terasa dikala hidup kita memasuki masa-masa terbaiknya. Tapi ada juga waktu dimana rumah itu nampak lapuk, dan disaat itulah hidup kita memasuki masa-masa rapuh. Hal-hal itu terpancar dari film terbaru Yoji Yamada ini yang sempat berkompetisi pada Berlin International Film Festival tahun ini. Pada ajang itu pula aktris Haru Kuroki berhasil meraih penghargaan Silver Bear untuk aktris terbaik. The Little House sendiri merupakan adaptasi dari novel berjudul Chiisai Ouchi (The Little House) karya Kyoko Nakajima. Film ini ber-setting pada tahun 1930 saat Jepang tengah berada dalam sebuah perang melawan Cina dan akan segera menghadapi Perang Dunia II. Seperti judulnya, The Little House akan memfokuskan ceritanya pada kehidupan seorang pelayan di sebuah keluarga yang tinggal di suatu rumah kecil yang indah dengan atap berwarna merah.

Ceritanya dinarasikan oleh seorang wanita tua bernama Taki (Chieko Baisho) melalui autobiografi yang sempat ia tulis sebelum akhirnya meninggal dunia. Disitu Taki bercerita tentang masa mudanya saat bekerja sebagai seorang pelayan di rumah sebuah keluarga berada (Taki muda diperankan oleh Haru Kuroki). Taki sendiri adalah seorang gadis kampung yang dengan bermodalkan impian besarnya datang ke Tokyo. Keluarga tempat Taki bekerja adalah sebuah keluarga kecil yang hidup bahagia. Hirai (Takataro Kataoka) sang kepala keluarga adalah seorang direktur di sebuah perusahaan mainan yang cukup sukses. Sedangkan sang istri adalah seorang wanita muda yang sangat cantik bernama Tokiko (Takako Matsu). Dengan seorang anak laki-laki yang masih kecil, keluarga sederhana itu tampak hidup bahagia dalam kehangatan, begitu pula dengan Taki yang senang hati menjadi pelayan disana. Suatu hari masuklah seorang pemuda bernama Shouji Itakura (Hidetaka Yoshioka) dalam kehidupan mereka. Itakura adalah seorang arsitek muda yang merupakan anak buah Hirai. Kehadiran Itakura itulah yang perlahan memercikkan api dalam rumah tersebut.

Cerita dalam film ini sejatinya amatlah sederhana, dan mengingatkan saya akan film-film romansa klasik dari Hollywood. Ada cinta segitiga, hasrat, dan perselingkuhan disana, semuanya sederhana tanpa ada terlalu banyak intrik atau gimmick di dalamnya. Ketiadaan aspek komedi adalah pembeda terbesar film ini dengan romansa klasik milik Hollywood. Filmnya serius, menghadirkan banyak kesedihan tapi tanpa pernah terlalu kelam apalagi depresif. Cinta memang menjadi penggerak utama film ini, tapi The Little House tidak melulu bicara soal cinta. Ada sedikit selipan observasi tentang kehidupan rakyat Jepang pada masa perang, sampai tentunya perenungan tentang hidup dan memori masa lalu. Disinilah semuanya semakin terasa menarik. Kehidupan rakyat Jepang pada masa itu selalu kita lihat sebagai masa yang sulit (meski pasca meledaknya bom atom jauh lebih sulit), dimana hal itu direpresentasikan juga dengan kata-kata Takeshi yang memprotes penggabaran sang nenek akan masa itu. Bagi Takeshi apa yang ditulis oleh Taki terasa mengada-ada, karena disaat masa sulit, apa yang tergambar dalam atuobiografinya justru kehidupan yang tentram dan bahagia. The Little House seolah menggambarkan bahwa kebahagiaan memang relatif. Membayangkan kehidupan seorang pelayan di masa perang memang terdengar berat, tapi nyatanya Taki merasa bahagia, dan kebahagiaan simpel itu memberikan kehangatan luar biasa pada filmnya.
Hangat. Itulah yang saya rasakan saat menonton film ini khususnya di dua pertiga awal durasi. Saya bisa diajak ikut merasakan tentramnya kehidupan Taki di sebuah rumah kecil beratap merah yang nampak begitu indah, ia hidup dalam harmoni bersama satu keluarga kecil yang bahagia. Senyuman simpul Haru Kuroki menggambarkan semua itu dengan sempurna. Lewat senyumannya, lewat tatapannya, saya bisa melihat dengan jelas sebuah perasaan damai dan tenang yang ia alami dalam fase kehidupan tersebut. Tapi semuanya berubah saat konflik mulai datang. Disaat cinta terlarang mulai terjalin kehangatan itu perlahan mulai menghilang. Sampai akhirnya menjelang akhir saya diberikan momen demi momen yang begitu mengharukan tanpa pernah putus. Rasa haru yang sampai membuat air mata saya mengalir deras itu bukan semata-mata hadir karena konten ceritanya, karena sekali lagi cerita dalam film ini begitu sederhana, familiar dan cukup bisa ditebak. Yang membuatnya terasa mengharukan adalah keberhasilan Yoji Yamada memasukkan kesan "kenangan" dalam ceritanya. Fakta bahwa film ini dinarasikan oleh Taki dalam autobiografinya membuat The Little House tidak semata-mata hanya menjadi sebuah drama tentang kisah cinta dan kehidupan, tapi keping demi keping memori berharga dari masa lalu yang jika diingat berpuluh-puluh tahun kemudian akan membuat orang yang mengenangnya tenggelam dalam haru dan nostalgia.

Saya sebagai penonton merasa ada di posisi yang sama seperti Taki. Saya bukan hanya observer, tapi juga diajak untuk merasakan lagi perasaan yang sama seperti ketika saya mengingat suatu kejadian emosional nan berharga di masa lalu. Film ini mengajak penontonnya untuk tidak hanya mengingat, tapi kembali dan merasakan lagi apa yang pernah terjadi di masa lalu. Penuh dengan momen emosional, The Little House menjadi bukti bisa sejauh dan sekuat apa pencapaian dari suatu film. Film tidak hanya sanggup memperlihatkan sesuatu, karena film juga sanggup menjadi representasi dari aspek manapun dalam kehidupan kita, dan jika suatu film begitu kuat, maka akan sanggup mewakili emosi dan berbagai perasaan yang muncul dalam tiap sendi kehidupan kita. Pada akhirnya setelah menonton The Little House, rumah kecil beratap merah itu selalu terbayang di benak saya dan rumah itu pun menjadi identik dengan dua hal, yaitu kenangan dan kedamaian. Film yang indah.

2 komentar :