BADLANDS (1973)

Tidak ada komentar
Seperti apa dunia beserta segala isinya di mata Terrence Malick? Ambil sehelai daun, mintalah orang biasa mendeskripsikannya, mungkin apa yang terlontar tidak jauh dari: "berwarna hijau" atau "bagian dari tumbuhan." Tapi berikan pada Malick, maka ia akan memberi deskripsi berupa untaian kalimat panjang bersayap nan filosofis yang menyentuh ranah pemaknaan hidup dan mati. Bisa jadi lebih. Badlands adalah debut penyutradaraan Malick yang naskahnya mulai ditulis saat ia baru berusia 27 tahun. Sekilas bukan hal spektakuler, namun menengok apa yang ia tuturkan dalam film, saya tidak bisa untuk tidak penasaran perjalanan self-discovery macam apa yang telah dia tempuh. Seperti mayoritas filmnya yang lain, Badlands juga mencakup berbagai tema besar mengenai hidup dan mati menggunakan kisah cinta sebagai perantara. Dua insan yang jatuh cinta adalah Kit (Martin Sheen) dan Holly (Sissy Spacek).

Holly yang baru berusia 15 tahun tinggal berdua bersama sang ayah di kota kecil daerah South Dakota. Akrab dengan kesendirian, Holly tumbuh sebagai gadis remaja pendiam, tidak populer dan lugu. Pertemuannya dengan Kit merubah jalan hidup Holly. Kit berusia 10 tahun lebih tua, bekerja sebagai pemungut sampah dan bergaya "rebel" ala James Dean. Diam-diam keduanya saling jatuh cinta. Perjalanan rumit romansa keduanya terjadi saat Kit terlibat kasus pembunuhan yang memaksa mereka kabur melintasi padang gurun, hidup di alam liar, sambil berusaha melindungi diri dari kejaran banyak pihak. Berisikan romansa berbumbu kriminalitas semacam itu, perbandingan dengan Bonnie and Clyde memang sulit terelakkan. Walau terkesan mirip, kedua film ini sejatinya amat berbeda. Karakter, pengemasan, suasana, tema, semuanya begitu berbeda.
Sejauh ini Badlands merupakan film Malick paling bersahabat yang pernah saya tonton, dalam artian minim simbolisme ala The Tree of Life atau free-flowing narrative macam To the Wonder (saya belum menonton Days of Heaven dan The Thin Red Line). Narasi memang lebih linear, tapi DNA Malick yang kita kenal sekarang sudah mengakar kencang sedari debutnya ini. Seolah menunjukkan bahwa gayanya bertutur merupakan panggilan rasa, bukan sekedar pengolahan trial & error secara teknis. Sepanjang film voice over dari Holly hampir selalu terdengar menarasikan kisah. Sissy Spacek tidak berbisik layaknya Jessica Chastain tapi tetap dengan intonasi datar yang dengan ajaibnya bisa terasa tragis, mengerikan, bahkan indah tergantung adegan di layar. Voice over digunakan Malick tidak dengan fungsi "memudahkan" penonton layaknya film mainstream Hollywood, melainkan benar-benar sebagai alat bantu bertutur. 
Momen yang tak sempat disajikan gambarnya jadi tetap bisa terwakili dengan narasi tersebut. Gambar dan suara akhirnya jadi kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Saling mengisi dan melengkapi untuk membangun plot layaknya mimpi yang digerakkan oleh mood. Alurnya memang bersahabat, dimana ada titik awal, tengah serta akhir yang jelas. Namun perjalanan dari satu titik menuju yang lain tetaplah sebuah mood-driven daripada plot-driven. Inilah keajaiban seorang Terrence Malick. Disaat film pada umumnya menggunakan kejadian signifikan alias "terjadi sesuatu" untuk membuat penonton ikut merasakan batin karakter, Badlands langsung membawa kita pada perasaan itu. Tidak perlu terjadi apapun untuk bisa tahu isi rasa karakternya. Rasanya seperti jatuh cinta. Saat jatuh cinta, alasan seperti kecantikan, kebaikan hati, kepintaran adalah pendukung yang hadir belakangan. Momen pertama saat cinta itu datang, kita tak tahu kenapa. Saya juga tanpa sadar menyukai Badlands, namun kesulitan untuk menyebut alasan nyata secara terperinci.

Sepanjang perjalanan Kit dan Holly, begitu banyak yang coba dituturkan Malick. Narasi Holly merupakan perpanjangan verbal Malick dalam pencurahan isi hatinya. Begitu banyak yang dituturkan, tapi tidak terasa penuh sesak tak beraturan. Kehidupan dan kematian pastinya jadi pokok bahasan favorit sang sutradara. Sebagai kisah cinta, film ini berkisah tentang sepasang manusia yang bisa dibilang outsider. Holly penuh keluguan, tapi ekspresi dan intonasi bicara Sissy Spacek selalu memunculkan kesan dingin dan mencekam yang ditumpuk oleh rasa kesepian. Sedangkan Martin Sheen sebagai Kit adalah cool guy yang sekilas berkebalikan dari Holly, namun seiring perjalanan makin menunjukkan sisi psychotic yang berkulminasi pada ending. Inilah cara Malick menghadirkan kisah cinta terlarang. Keduanya sedari awal nampak begitu berbeda, hingga seusai perjalanan panjang kepribadian mereka bagai bersilangan. Tetap berseberangan namun bertukar posisi.

Verdict: Apa saja yang diharapkan dari film Terrence Malick baik dari aspek teknis (visual indah plus musik pembangun mood) sampai cerita filosofis dipunyai Badlands. Malick menunjukkan semua hal punya dua sisi. Romantis-Tragis, Indah-Kejam, Bahagia-Sedih, Hidup-Mati.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar