REVIEW - JUMBO

4 komentar

Ada setumpuk stigma yang mesti dihadapi oleh medium animasi, salah satunya anggapan sebagai "tontonan anak", yang kerap disamakan dengan sebuah hiburan (super) ringan, seolah para bocah tak memiliki kapasitas untuk mencerna suguhan yang lebih "berat". Jumbo terasa spesial karena ia menolak memandang sebelah mata penonton muda, sehingga bersedia menaruh hormat kepada mereka. 

Ryan Adriandhy selaku sutradara, bersama Widya Arifianti yang menjadi partnernya dalam menulis naskah, adalah pencerita yang ulung. Keduanya tahu cara mengolah berbagai pokok bahasan berat supaya bisa diterima oleh anak-anak, tanpa harus menganggap mereka bodoh atau menerapkan simplifikasi bagi suatu isu secara berlebihan sampai kehilangan bobotnya. 

Ambil contoh soal kondisi keluarga Don (Prince Poetiray), si protagonis yang mendapat julukan "Jumbo" karena berat badannya. Benda paling berharga dalam hidup Don adalah buku dongeng peninggalan orang tuanya (Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari), yang pada suatu hari pergi tanpa pernah kembali. 

Kita tahu ayah dan ibu Don sudah meninggal. Don sendiri memahami itu, yang tersirat dari ceritanya tentang kondisi jalanan licin pada hari kepergian mereka. Situasi tersebut jelas menyakitkan, tapi Jumbo juga tak ingin memotret kematian sebagai konsep yang sebatas dipandang "menyeramkan" sehingga tak lagi memiliki ruang untuk didiskusikan. Alhasil tak sekalipun kata "mati"    yang cenderung memiliki konotasi negatif    disebutkan. Apakah kematian jadi kehilangan bobotnya? Tentu tidak. 

Kita tetap bisa merasakan luka yang Don rasakan, khususnya rasa sepi yang kerap menghantui. Don kerap mendapat penolakan dari teman sebaya, khususnya Atta (M. Adhiyat) yang gemar melempar ejekan. Untungnya Don masih punya dua sahabat, yakni Nurman (Yusuf Ozkan) dan Mae (Graciella Abigail). Kemudian terjadilah pertemuan dengan gadis cilik misterius bernama Meri (Quinn Salman). 

Siapa (atau mungkin lebih tepatnya "apa") sebenarnya Meri? Dia bisa terbang, tembus pandang, tak bisa disentuh, serta memiliki banyak kemampuan ajaib. Meri tidak lain adalah arwah gentayangan. Hantu. Tapi ketimbang digambarkan sebagai sosok mengerikan, Ryan dan tim lebih mengedepankan sisi magis si karakter. Daripada memakai istilah "mati", Meri membahasakan kondisinya sebagai "beristirahat dengan tenang". 

Jumbo enggan mengutamakan kengerian dalam presentasinya terkait dunia mistis, karena sebagaimana kematian, hal itu merupakan bagian dari kehidupan. Ketimbang menjebak anak-anak dalam kotak rasa takut sejak dini, bukankah lebih baik menyediakan sudut pandang yang lebih positif bagi mereka? 

Elemen mistisnya menyediakan pondasi konflik yang cukup kreatif, sebelum melebarkan eksplorasi menuju isu-isu relevan seperti penggusuran tanah, yang sekali lagi, tak pernah tampil terlalu berat bagi penonton anak berkat kecerdikan pengemasan dari departemen penulisan. 

Pencapaian naskahnya tak berhenti di situ. Penokohan Don pun patut dipuji, sebab dari situ, Jumbo membuktikan bahwa pesan baik tak mengharuskan kesempurnaan dalam diri si penyampai pesan. Melalui kekurangan demi kekurangan yang Don punya, kita belajar tentang pentingnya memenuhi janji dan menekan ego. Ketidaksempurnaan Don pun menjadikannya karakter anak kecil yang wajar. 

Prince Poetiray yang belum mencapai usia 10 tahun tatkala mengisi suara Don turut berjasa menebalkan kompleksitas karakternya. Bukan cuma terdengar "angelic" saat bernyanyi, Prince juga memiliki jangkauan emosi yang luas dalam isian suaranya. Terkadang ia meledak-ledak penuh tenaga, namun ada kalanya terdengar lirih kala tenggelam dalam suatu pemikiran atau perasaan. 

Kualitas Jumbo selaku karya audiovisual pun tidak main-main. Lagu Selalu Ada di Nadimu buatan trio Laleilmanino yang dibawakan oleh Bunga Citra Lestari tak hanya mudah menancap di kepala tapi juga efektif menyentuh hati. Sedangkan level animasinya membuat saya percaya bahwa dari segi kemampuan, sumber daya kita layak diadu dengan negara-negara lain. 

Salah satu pemandangan favorit saya hadir saat kita diajak mengunjungi rumah Atta, yang tinggal bersama kakaknya, Acil (Angga Yunanda). Perhatikan bagaimana dinding rumah mereka dipenuhi tambalan-tambalan semen. Bagi saya itu bukti kalau Ryan dan tim menaruh perhatian tinggi pada detail, termasuk tentang ketepatan dalam representasi. 

Mereka boleh mengambil inspirasi dari karya luar negeri, baik judul-judul produksi Pixar maupun anime Jepang (saya mencium sedikit kecintaan untuk Akira), tapi Jumbo tetaplah suguhan yang khas Indonesia. "Cerita tidak akan jadi cerita tanpa pendengar", ucap salah satu karakternya. Ryan dan tim telah mendengar cerita dan keluh kesah kita mengenai minimnya animasi Indonesia di bioskop. Sekarang waktunya kita dengarkan cerita yang mereka sampaikan dengan hati dalam Jumbo. 

4 komentar :

Comment Page: Oldest1Latest
susan mengatakan...

Terharu banget baca reviewnya...

(So.Cie.Ty)Tips ELITIS.com mengatakan...

Emang bener bener pake hati dan sensitifitas ini film❤

Edot Herjunot mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Edot Herjunot mengatakan...

Dari awal teaser ini dikasih tahu ke publik, lalu trailernya. Ada rasa bangga dan terharu sama film Jumbo ini. Selain kualitas animasinya yang tidak perlu diperdebatkan. Saya langsung ngerrasa sayang banget sama Don. Anak kecil yatim piatu, dijauhi temennya, nggak diajak main karena lamban, punya buku kesayangan yang jadi kenangan dari orangtuanya. Lalu dia pengen menunjukkan cerita itu kepada banyak orang. Meskipun Don sesekali terlihat egois, tapi tetap saja pada akhirnya Don tahu kalau itu bukan sesuatu yang baik melalui perkataan Oma. Dan di akhir cerita, kita dibikin nyesss ketika Don menyimpan rasa kangen dan sayang yang sangat dalam pada orangtuanya lewat sebuah radio.