McFARLAND USA (2015)

Tidak ada komentar
Bagaimana membuat formula "Disney inspirational sport drama" yang sudah klise menjadi lebih klise? Tentu saja dengan menambahkan Kevin Costner yang kehadirannya dalam film drama olahraga sudah bisa disamakan dengan kemunculan DiCaprio dalam karya Martin Scorsese. McFarland USA memang tidak pernah sekalipun diniati untuk menjadi sajian yang berbeda. Teguh menggunakan formula standar secara menyeluruh, detail film ini bahkan sudah bisa diraba sejak menit pertama filmnya bergulir saat Jim White (Kevin Costner) tengah memarahi tim American Football asuhannya saat jeda pertandingan. Jim dipecat setelah melempar salah seorang pemain dengan sepatu. Karena reputas buruk itulah mau tidak mau ia menerima kenyataan pindah ke McFarland, California bersama istri dan dua puterinya. McFarland sendiri merupakan salah satu kota termiskin di Amerika yang mayoritas penduduknya diisi orang-orang Meksiko dengan kebanyakan bekerja sebagai pemetik buah dan sayuran.

Menjatuhkan kehidupan karakter utama adalah permulaan yang "wajib" dilakukan. Setelah itu ia akan menemukan sekelompok anak yang menjalani kehidupan berat dan hampir tidak punya harapan merangkai masa depan cerah. Hingga akhirnya sang karakter utama menemukan bakat terpendam mereka, memberikan kesempatan pada anak-anak yang dianggap remeh tersebut untuk membuktikan kehebatan mereka. Tentu saja hal itu butuh latihan dan perjuangan berat sehingga butuh montage untuk memperlihatkan proses latihan yang harus dikemas sesingkat dan seinspiratif mungkin. Pada akhirnya perjuangan itu mulai menemukan hasil. Tapi jangan lupa, sang karakter utama mempunyai keluarga, sehingga lagi-lagi "wajib" hukumnya menyelipkan konflik keluarga. Konflik yang paling populer adalah saat sang tokoh terlalu berfokus pada pekerjaan hingga lupa memberi perhatian khususnya pada sang anak. Tapi karena diawal cerita tokoh utama kita tidak serta merta "ikhlas" menerima kondisi berat itu, maka datangkanlah konflik yang membuatnya harus memilih antara penghidupan lebih baik atau kesetiaan. 
Apa yang saya tuliskan di atas bukanlah alur dari McFarland USA, melainkan formula yang selalu digunakan oleh film drama olahraga produksi Disney. Jika pada akhirnya segala deskripsi tersebut juga dimiliki oleh film ini, hal itu karena McFarland USA seperti yang saya bilang masih mengikuti pakem lama dari film-film serupa. Tidak ada yang baru disini, semuanya klise. Tapi darimana sebuah hl "klise" tercipta? Sebuah formula pastilah pada awalnya tidak langsung menjadi klise. Bisa seperti itu karena pada awal kemunculannya dianggap sukses, sehingga banyak pembuat film berduyun-duyun meniru pakem yang digunakan. Jadi pada dasarnya membuat sebuah film klise bukanlah keputusan buruk menurut sudut pandang saya. Klise identik dengan sederhana, yang berarti oleh penonton masa kini dianggap sebagai hal dasar untuk dilakukan. Menjadi kurang menarik disaat hal dasar tidak dikemas maksimal, tapi sebaliknya suatu hal dasar punya potensi untuk menjadi begitu kuat. Untuk formula drama inspirasional seperti ini, keberhasilan diukur dengan sejauh mana penonton mampu digiring supaya tersentuh perasaannya oleh kisah menggugah yang coba dihadirkan.

Naskah film ini juga dengan setia mengikuti formula klise tersebut tahap demi tahap. Tidak hanya beberapa, tapi semua aspek dari formula yang saya jabarkan diatas berusaha dimasukkan. Hasilnya adalah sebuah film yang penuh sesak dengan nuansa predictable dengan adegan demi adegan sudah bisa penonton tebak sebelum terjadi. Sutradara Niki Caro sendiri nampak mengalami dilema dalam mengemas filmnya. Untuk mengemas kisah sebanyak itu akhirnya proses pendalaman ia korbankan. Berbagai konflik dicampur aduk hingga bertumpuk menjadi satu. Bahkan dalam beberapa kali terjadi, dalam satu sequence film ini menawarkan sebuah resolusi sebelum tiba-tiba bersambung menuju kemunculan konflik berikutnya. Contoh sempurna adalah apa yang terjadi saat acara quinceanera yang diadakan Jim untuk memperingati ulang tahun puteri sulungnya, Julie (Morgan Saylor) yang ke-15. Belum sempat penonton merasa terikat oleh permasalahan yang ada, penyelesaian sudah ditawarkan begitu cepat. Belum sempat pula kita memaknai konklusinya, konflik berikut sudah hadir. Dinamika emosi pun kurang bergejolak.
Naskahnya ditulis bagai mengikuti aturan baku, dan Niki Caro menyutradari filmnya seperti mengikuti naskah apa adanya. Terlihat jelas dari perpindahan momentum yang kurang mengalir. Seolah sudah disiapkan babak A, B, C dan seterusnya. Penonton dibawa ke babak A, dan setelah selesai langsung dipindah ke B tanpa ada jembatan yang menghubungkan keduanya. Alurnya yang sederhana memang membuat kita tidak kesulitan mengikuti jalan cerita, tapi satu kesatuan utuh sebagai pembangun kepedulian terhadap karakter dan pemupuk emosi akhirnya begitu minim. Untung film ini punya Kevin Costner dan para aktor yang cukup baik memerankan ketujuh muridnya. Hubungan antara mereka tersaji cukup hangat berkat chemistry kuat dan akting natural. Costner tampak begitu mudah melakoni perannya disini, seolah-olah sudah menjadi keseharian sang aktor. Sedangkan para atlit khususnya Carlos Pratts yang memerankan Thomas berhasil mengundang simpati. Mungkin film ini tidak cukup menggali keseluruhan karakter itu, tapi momen kecil berhasil mereka maksimalkan untuk mencuri perhatian.

Klimaks yang seharusnya emosional pun tidak begitu kuat. Momen kemenangan setelah perjuangan panjang nan berat khususnya dalam olahraga haruslah menghadirkan luapan emosi yang tinggi. Klimaks film ini sedikit menghadirkan getaran, tapi hanya dalam skala ringan. Tapi apakah keseluruhan film ini buruk? Nyatanya tidak. Niki Caro memang kurang berhasil mengemas McFarland USA sebagai tontonan emosional, tapi tidak pula menyuguhkan sesuatu yang berantakan. Memang pakem standar sungguh ia ikuti satu demi satu, tapi cukup solid, setidaknya per-momen karena lagi-lagi film ini bagaikan babak demi babak yang mengalir kurang menyatu. Seperti yang saya sebut sebelumnya, klise berarti dasar. Jika satu hal dasar disajikan dengan "cukup" saja, maka penonton setidaknya bisa menerima itu sebagai sebuah tontonan yang juga biasa. Tidak luar biasa, namun juga tidak buruk. 

Verdict: Cliche and formulatic, but "McFarland USA" still ended up as a nice heartwarming tale, even it wasn't really inspirational. Forgettable, but the strong chemistry between the actors made this well-made movie worth-watching.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar