KETIKA MAS GAGAH PERGI (2016)

36 komentar
Pertama saya tegaskan dulu, bahwa saya bukan anti-film Islam. Lagipula dari nama pun sudah kelihatan saya pemeluk Islam, walau harus diakui tidak bisa disebut "alim" pula. Tapi alangkah bencinya saya kepada film-film yang menggurui. Definisi menggurui tidak sebatas dalam lingkup agama, tapi juga moral, budi pekerti, sopan santun dan lain sebagainya. Secara personal, saya berpendapat bahwa menggurui jika sampai pada taraf memaksa adalah contoh penyakit akut dalam penerapan agama di negeri ini. Bukan maksud bicara agama, (tahu apa saya?) melainkan sekedar menyuarakan keresahan. Karena jika anda ingin mengajak orang tidak taat agama menuju "jalan lurus", tuntun mereka, jangan malah ditarik paksa seolah perbuatan mereka itu sampah! Film berkonten ceramah berlebihan pun sama. Suatu geliat meresahkan yang tak hanya berbahaya bagi industri perfilman tapi juga sosial masyarakat.

Dua minggu lalu saya menonton "Tausiyah Cinta". Filmnya menggurui, dan berujung pada pemberian rating 0,5 (angka terburuk sepanjang sejarah blog ini). Tapi saya menganggap itu film "polos". Para pembuatnya ingin menyuguhkan sajian religi, dan menyadari formula paling mujarab untuk mengundang pangsa pasarnya. Ada harapan (semu) supaya penonton mendapat hidayah begitu menonton filmnya. Tapi "Ketika Mas Gagah Pergi" berada pada tingkatan berbeda untuk urusan ceramah menggurui. Jika diibaratkan, "Tausiyah Cinta" bak seorang ustadz yang tiap hari mendatangi saya, berceramah lewat tutur kata sopan walau menggurui. Sedangkan "Ketika Mas Gagah Pergi" adalah ustadz yang menggedor pintu rumah saya tiap pagi, memaksa masuk, lalu berteriak "Cepetan tobat hei kunyuk! Dasar pendosa biadab!" 

"Ketika Mas Gagah Pergi" diangkat dari novel berjudul sama karya Helvy Tiana Rosa berusungkan embel-embel "FROM THE BESTSELLING BOOK IN THE LAST 20 YEARS". Entah maksudnya novel itu mendapat penjualan terbanyak sepanjang 20 tahun terakhir atau telah mendapat status "Bestselling" selama 20 tahun saya tidak tahu. Mas Gagah (Hamas Syahid Izzuddin -this guy again???) adalah seorang kakak yang sempurna di mata adiknya, Gita (Aquino Umar). Karena namanya "Gagah", tentu ia punya wajah gagah pula, dan itu memberi modal baginya berprofesi sebagai model. Wajar jika Gagah digilai banyak wanita. Bahkan di kampus ia sering dikerubuti mahasiswi, meminta Twitter-nya di-follow (sungguh, ini terjadi). Tidak hanya rupawan, Gagah pun baik hati, orangnya easy going dan sangat menyayangi sang adik. Semakin sempurna ketika Gagah tidak melulu nongkrong dengan anak gaul di kampus, tapi juga rajin solat berjamaah bersama para rohis. 
Melihat karakteristik Gagah di atas, bukankah ia sempurna? Rupawan, baik hati, mudah bergaul, rajin solat pula. Dari titik inilah transformasi Gagah menjadi saya pertanyakan maksudnya. Suatu hari Gagah harus pergi ke Ternate selama dua bulan untuk proyek pengerjaan skripsi. Ketika pulang, ia pun berubah. Gagah selalu mengenakan baju muslim, menumbuhkan jenggot yang lebih mirip bulu "itu", selalu mendengarkan nasyid, tidak lagi dekat dengan sang adik, dan bergaul secara eksklusif bersama para rohis. Hanya para fanatik yang menyebut perubahan Gagah positif. Di samping itu ada kisah tentang Yudi (Masaji Wijayanto) yang rutin berkhotbah sambil berteriak-teriak di angkutan umum. Dia melakukan itu didasari alasan bahwa penyebaran agama harus meluas, di tempat umum. Akhirnya terpicu konflik dengan sang ayah (Mathias Muchus), karena Yudi memilih menyebarkan agama di luar dulu sebelum di lingkup sekitarnya, dan menolak membantu krisis perusahaan keluarga.

Seperti ini jadinya jika pesan-pesan mulia dalam Islam ditranslasikan secara dangkal. Lagi-lagi saya bukan ahli agama, tapi saya yakin bahwa ungkapan "dahulukan yang membutuhkan", "sebarkan Islam secara luas", atau "jangan tergoda nafsu duniawi" bukan begini seharusnya. Memang kita harus membantu mereka yang butuh, tapi jika orang terdekat justru terlantar dan tersakiti apa gunanya? Film ini beralasan bahwa itu merupakan cobaan dari Allah. Hei! Tidak adakah ajakan bertobat lain yang lebih merangkul? Pada satu adegan, Gagah bersedia memenuhi permintaan sang adik untuk kembali menghabiskan waktu bersama asal ia mau memakai rok dan berjilbab. Jika kamu merasa itu hal benar, sadarkan mereka Bung, bukan beri ancaman! 

Seharusnya hidayah membuatnya lebih sabar, tapi setelah kepulangannya, Gagah justru lebih mudah marah. Bahkan ketika dipalak preman dan berujung satu perkelahian, Gagah menantang ketiga preman untuk bangkit, lanjut berkelahi meski mereka sudah minta maaf. Sedangkan Yudi, kenapa ia langsung teriak-teriak masalah Islam di bus umum? Apa semua penumpang beragama Islam? Ada apa dengan orang-orang "alim" dalam film ini? Kenapa sebegitu mudahnya mereka tersulut emosi dan tak peduli pada mereka yang berbeda pendapat? Mana bentuk saling menghargai demi harmoni yang harusnya jadi esensi? 
Mempunyai judul "Ketika Mas Gagah Pergi", kita justru tidak diberi tahu kisah saat ia pergi. Tiba-tiba ia sudah pulang dan berubah. Kenapa bukan "Ketika Mas Gagah Pulang" saja kalau begitu? Bagaimana penonton bisa memahami transformasi Gagah jika tahu apa yang terjadi -kecuali ia jatuh dari tebing- pun tidak? Bayangkan ini: Seorang pria dengan social skill baik, ramah dan terbuka, tiba-tiba berubah menjadi introvert, ketus, dan bergaul hanya dengan "sesamanya". Saya rasa itu bukan hidayah dan Kiai itu bukanlah pemuka agama. Gagah sudah terjebak dalam cult dengan pemimpin berkedok Kiai. "Ketika Mas Gagah Pergi" bak film buatan para cult yang menganggap ajaran mereka itu kebenaran hakiki, dan mereka yang tidak bersedia mengikutinya adalah manusia rendah.

Satu-satunya penghalang saya untuk memberi nilai nol adalah akting beberapa pemainnya. Mathias Muchus, Wulan Guritno dan Epy Kusunandar menghadirkan performa kuat. Ketiganya menyuntikkan rasa dalam tiap kemunculannya, meski tidak didukung oleh naskah mumpuni. Tapi disaat mereka bertiga menghilang dari layar, filmnya kembali mudah menyulut amarah. Hamas Syahid tampil lebih baik dibanding dalam "Tausiyah Cinta", tapi itu lebih dikarenakan tidak ada adegan berisi luapan emosi besar. Coba jika Hamas diminta menangis lagi disini, entah seperti apa jadinya. 

Ya, saya sempat berniat memberi angka nol untuk "Ketika Mas Gagah Pergi", lebih buruk dari "Tausiyah Cinta" bahkan "Hantu Cantik Kok Ngompol?" Selama ini saya berpatokan bahwa suatu film tidak layak mendapat rating nol, karena angka itu artinya nihil, tidak eksis. Dan suatu film yang telah ditayangkan artinya tak perlu dipertanyakan eksistensinya. Tapi "Ketika Mas Gagah Pergi" sudah mengangkat suatu isu sosial penting, lalu mengambil sudut pandang "berbahaya" terhadapnya. Kenapa ormas pemuja kekerasan berkedok agama atau para fanatik ignorance tak pernah berkurang jumlahnya? Jawabannya karena perspektif minim toleransi seperti milik film ini. Tidak ada rasa cinta kasih, hanya kesombongan lantang berbunyi "Kepercayaanku paling benar!"


*Yang berharap review banjir satir/lawakan kayak "Tausiyah Cinta" maapin ya, film ini udah menyulut marah luar biasa*

Ticket Powered by: Bookmyshow ID

36 komentar :

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang, minggu depan "Surat Dari Praha" jadi nggak mungkin jeblok begini :D

      Hapus
    2. Kok bisa-bisanya sih bang mau nonton film yang kayak gini?

      Hapus
    3. Gratis kok, kalo bayar mah ogah :))

      Hapus
  2. mungkin film nya emg dibikin begitu cerita nya bro biar mengajarkan kalo dalam menjadi orang alim tdk melulu harus cerama dan memaksa orang lain agar tahan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Filmnya aja ceramah mulu kok :)

      Hapus
  3. Paling cuma ingin menjatuhkan film ini.. toh yg suka lebih banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah karena banyak yang suka, apa untungnya saya menjatuhkan film ini? Toh tidak mungkin satu review jelek merusak pendapatan film.

      Hapus
    2. Justru saya menilai review ini sebuah kejujuran dari penulisnya, pengalaman orang menonton bisa beda, begitu juga sudut pandangnya, jadi saya pikir review ini wajar adanya.

      Hapus
    3. Dan saya sangat menerima kok pendapat orang yang menyukai film ini :)

      Hapus
  4. Ini film malah di jual presale 100ribuan. Dgn uang yg milyaran harus nya bisa bikin film yg jauh lbh baik donk
    Saya sempat dikasih gratis juga tp g jadi karena g ada waktu n masih g yakin ma film nya. Dari awal saya juga g yakin c mas tentang film ini. Jual agama ajah n belum tentu bener isinya. Lah ternyata bener waktu baca review ini. Jadi yakin buat nolak tawaran filmnya

    BalasHapus
  5. Saya seorang muslim, dari keluarga muslim dan lebih dari 6 tahun pendidikan saya belajar di sekolah Islam yang dominan mempelajari Agama. Namun saya benci dengan para pemeluk islam yang pikirannya dangkal, picik, merasa paling suci namun tidak punya cukup referensi dalam beragama, walaupun tahu bahwa ayat pertama adalah perintah soal "membaca". Seperti saya benci Islam di cap teroris hanya karena pemeluk bodoh yang salah dalam mengartikan dan merepresentasikan Al-quran dan Hadist. Siapa sih sutradara Film ini bung??.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini saya setuju, karena alasan yang sama juga saya nggak suka film ini. Sutradara mungkin bisa mas googling, kalau dikasih tahu nanti saya dibilang "ingin menjatuhkan filmnya" haha

      Hapus
    2. Waah.. jangan jatuhkan bung, bikin semacam Razzie Award aja, dan berdoa semoga penonton di Indonesia semakin pintar. Idealnya bikin champaign "Baca review dulu sebelum nonton", supaya review2 berbobot seperti yang bung harry buat ini jadi landasan sebelum menonton, cocok??.

      Hapus
    3. Hehe nggak harus selalu baca dulu kok, cuma yang perlu orang paham, review (yang bener) bukan bertujuan sok tahu, tapi bentuk perspektif.

      Waah makasih yang review-nya dibilang berbobot, tersentuh :))

      Hapus

  6. HAHAHAHA

    Persis seperti dugaanku.
    Thx udah mereview ya mas.

    BalasHapus
  7. "....Kenapa ormas pemuja kekerasan berkedok agama atau para fanatik ignorance tak pernah berkurang jumlahnya? Jawabannya karena perspektif minim toleransi seperti milik film ini. Tidak ada rasa cinta kasih, hanya kesombongan lantang berbunyi "Kepercayaanku paling benar!"

    #TWO THUMBS Waaay up for Mas Harry

    BalasHapus
  8. Yang sedikit miris adalah beredar spanduk ajakan mengajak keluarga menonton film ini karena sambil menonton sambil beramal {mgkn sebagian pendapatan digunakan utk membantu sesama yg tidak mampu}, tp kalau message yg disampaikan tidak tepat,bukankah jd edukasi yg berbahaya??

    Thanks mas atas reviewnya~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well, tapi ini perspektif saya saja kok :)

      Hapus
  9. Kata kata ini dimananya ? Cepetan tobat hei kunyuk! Dasar pendosa biadab!" Bgs lah kalo merasa: )

    BalasHapus
  10. Dari instagram @helviers:

    Tinggal 15 Layar tersisa untuk #ketikamasgagahpergi #kmgpthemovie tinggal ini. Masihkah Anda menunda untuk menontonnya?

    Bikin film bagus itu sukarnya luar biasa, bisa 'berdarah-darah'. Tapi mengapa ketika film yang kita tunggu itu tayang di bioskop, kita tak juga menyegerakan menonton? Saat kita akhirnya memutuskan untuk pergi menonton, ternyata filmnya sudah tak tayang!

    Film bagus butuh dukungan sejak hari pertama ditayangkan di bioskop, Saudaraku! Jangan biarkan film bagus begitu saja berlalu hanya karena kita lalai untuk mendukungnya. Jangan-jangan ketakberdayaan kita datang ke bioskop untuk mendukung film baik membuat film-film sex, hantu, serta film-film bebas nilai kian bergentayangan di negeri ini menggerogoti karakter anak bangsa.

    Bagaimana pun semangat! Maju terus @kmgpthemovie.

    Kami tunggu segera #kmgpthemovie2 #inspiringmovie
    #Isupportkmgpthemovie

    BalasHapus
  11. Sebelum dihapus mendingan Anda taubatan nasuha dulu ya nak, Kalaupun Islam Anda hanya Islam KTP

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, komentar ini justru memperkuat opini dalam review saya, terima kasih :)

      Hapus
    2. Gue sampe ngompol baca komen ini.

      Hapus
    3. The Show Must Gogon, Bung Rasyid... :D
      itulah mereka

      Hapus
  12. setuju mas Rasyid:) dengan jalan yg "baik"~

    "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [Al-Qur’an 16:125]

    BalasHapus
  13. setuju mas Rasyid:) dengan jalan yg "baik"~

    "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” [Al-Qur’an 16:125]

    BalasHapus
  14. Assalamualaikum saudaraku ☺ membaca review di atas saya ada yg setuju ada yg kurg setuju, tp itu kan hak kita msg2 kan sbg penonton.. sebelumnya sya mohon maaf klo terkesan menggurui atau terlalu keras bahasanya di dlm film ini... saya lumayan mengikuti gmn proses pembuatan nya dr cara pendanaan yg crowd funding smpe syuting 2 bln an trus audisi utk menemukan pemainnya jg susah bgt, n memakan waktu syuting pemain smpe tghh malam..bahkan ada yg sampe sakit, ngantuk kurg tidur jg pasti mereka alami..itu harus kita hargai jg :-)

    jujur ada beberapa hal yg berbeda dr film dg buku nya sendiri yg bikin agak kecewa yg udh baca kisahnya. udah pernah baca bukunya ga? crita ini sbnrnya diangkat dr cerpen bukan novel. Dlm cerpen nya sendiri tokoh inti critanya bukan mas gagah nya tapi tokoh gita, seorg gadis yg mendapatkan hidayah berhijrah dan menggunakan jilbab justru setelah kakaknya pergi (meninggal dunia) dan di cerpen nya itu sbnr nya bgn yg plg menyentuh waktu mas gagah bicara dari hati ke hati pda gita ttg islam itu indah islam itu cinta, kondisi anak muda skrg dan ttg perdamaian palestina yg sampai skrg blm terwujud... tapi di film kmgp 1 blm tergambar,malah scene mas yudi n shireen main semacam teater aja yg menggambarkan palestine :-( sya kurg tau apakah di kmgp 2 scene nanti itu ada ato ga.. *sambung ke bawah

    BalasHapus
  15. Trus adegan scene awal2 itu yg mas gagah foto2 di ternate n then jatuh agak aneh sih jd nya kesannya film ini seperti flashback.. pdhl d bukunya alurnya maju..lbh baik berawal dr scene masa kecil trus lanjut ke scene sebelum hijrah smpe hijrah.. ketika scene mas gagah msh jd model ky khidupn remaja biasa jg kurg menampakkan "sisi keren" nya malah wktu adegan jd model sya agak mliat mas gagah kurg pede gtu. Kurang gaul juga.Trus di cerpen kan di gambarkan dia jago karate, tp bener kata kmu wktu adegan berkelahi kuda2 nya kya bukan atlet karate gtu.. :-(

    Utk gita menurut sya akting nya terlihat natural, pas dg penggambarannya ga kurg ga lebih. Cuma msh trasa kurg sih chemistry nya dg mas gagah. Ada di sbgn adegan kliatan bgt mas gagah jaga karak. Saya tau bahwa hamas (mas gagah) mmang sangat menjaga jarak dg yg bukan mahramnya (tidak ada adegan bersentuhan sama skali) tp msh kurg aja gtu rsanya dr tatapan mata or gesture nya kan bs utk dapet chemistry ade kakak.

    utk tokoh yudi sendiri memang di cerpen nya diceritakan dia berdakwah dari bis ke bis.. memang trasa aneh bahkan langka di zaman skrg. Tapi memang begitu critanya, terinspirasi dr sang penulis yg jg melakukan hal spt itu berdakwah di angkot2 bis gtu.. kalo penonton terkesan hal tsb terlalu keras menggurui nya ya trgantung persepsi msg2 aja.. tapi sya menghargai apa yg jd harapan penulis utk menyadarkan penonton bahwa berdakwah bisa dimana aja bukan cuma di masjid.

    Yg agak aneh jg tokoh nadia sama sekali tidak ada muncul di kmgp 1.Pdhl bagus nya sih muncul spy ntar di kmgp 2 orang yg baru nonton ga bingung ko ada tokoh baru.

    Pemain2 sperti para preman justru memberi percikan semangat n keseruan di film ini. Salut utk mereka..

    Secara alur cerita saya kurg puas sih krn byk adegan yg kurang pas, kurang memberi nyawa dan kurg ada benang merah nya antara scene 1 ke scene lainnya.

    Secara akting

    Hamas (mas gagah) masih kurang natural ketika berperan sbg mas gagah sebelum hijrah, klo perlu riset dlu deh ya klo mau jd model, atlet or mahasiswa teknik sipil yg populer n gaul. Hehee. Belum ada perbedaan yg signifikan antara Hamas n Mas Gagah, pdhl beda lo karakter nya. Sbg referensi bisa belajar dr Reza Rahardian atau Nicholas Saputra utk gmna bisa meranin karakter dg kuat dan orang2 jg bisa meliat perbedaan mana yg sbg aktor mna yg sbg sosok pribadi kamu.. but overall utk aktor baru akting kmu udh bagus ko di film ini meningkat dr film sebelumnya :-)

    Noy (Gita) sekilas meliat akting kamu mirip Nirina Zubir, overall akting kmu yg plg natural. Cuma msh agak meragukan gmn akting kmu di kmgp 2 ya setelah berhijab, gmn kesedihan gita ditinggal pergi mas gagah..

    Masaji (Yudi) scra looking org2 make up keren bgt memoles kmu shg ga klitan klo umur kmu sbnr nya baru 17 or 18 thn. Hehee.. utk akting masih agak kaku, keliatan dr cara ngomong waktu dakwah di bis. Mungkin kurg riset aja kali ya gmn dakwah yg tegas tp ngena di hati, itu kliatan nya kya lg demo cara ngomong nya di bis hehee but overall lumayan utk taraf aktor baru.

    Izzah (Nadia) saya ga bisa ksh komen apa2 krna belum muncul di kmgp 1.. hehe.. tp scara looking nya emang kliatan anggun sih..

    Secara penataan musik
    Mas dwiki memberikan sentuhan musik teater mewah.. keren sih.. n ost nya yg rabbana jg bagus.. walau sbnr nya saya berharap tema nya adalah hijrah.. bukan ttg ada yg "meninggalkan" krn inti dr film ini kan ttg hijrah nya seseorg bukan seseorg yg pergi.. :-)


    Sebenarnya agak kecewa sih knpa di bikin jd 2 season pdhl crita nya ga sepanjang kya Ketika Cinta Bertasbih yg memang pnya 2 series novel nya n critanya beda tempat.. tapi mungkin produser n crew pnya pemikiran yg beda. Pdhl klo mau dibikin kya film AADC aja yg walau udah lama film nya tp g bosen2 utk berkali2 di tonton. 

    Trims udh boleh numpang review jg disini..Mohon doa nya aja ya smoga film islami lebih bisa menyentuh hati yg nonton n tidak terkesan menggurui..yg nama nya manusia pst ga ada yg sempurna ko..Wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah makasih ya untuk komen yang panjang ini. Saya sama sekali belum baca novel/cerpennya, supaya lebih menjaga objektifitas juga dalam menilai film ini. Sebenarnya kekurangan terbesar film ini bukan ada di aspek teknis atau akting pemain (nggak bagus, tapi nggak busuk juga) tapi pada hakikat film religi itu sendiri. Alangkah baiknya film religi bukan cuma bisa menyentuh/menyadarkan mereka yang sedari awal sudah "beriman", tapi dampaknya lebih besar lagi kalau bisa merangkul penonton yang kurang dalam aplikasi agama. Contohnya 'Mencari Hilal', mau orang alim, orang bejat, atau bahkan yang bukan muslim sekalipun tetap bisa memaknai kedalaman pesannya. Adegan seperti khotbah di bus itu sah-sah saja, tapi lagi-lagi pengemasan & akting si aktor membuatnya terkesan memaksakan daripada merangkul. Permasalahan ini bukan cuma di KMGP, tapi mayoritas film religi Indonesia, padahal sebagai pemeluk Islam sendiri saya sangat memimpikan film religi yang bisa menyampaikan pesan dengan penuh kedamaian & universal.

      Terima kasih lagi untuk komentarnya, respect besar dari saya untuk orang-orang yang terlibat di film & bisa menyikapi "lebih bijak" saat filmnya dikritik :)

      Hapus
  16. Review Film KMGP

    1. "Ini yang Lama Dinanti; Ketika Mas Gagah Pergi Film Keluarga yang Renyah dan Bermutu" oleh Edi Sutarto http://edisutarto45.blogspot.co.id/2016/02/ini-yang-lama-dinanti-kmgp-film.html

    2. "Dakwah Inklusif dalam Film Ketika Mas Gagah Pergi" oleh Billy Antoro http://billyantoro.com/?p=1777

    3. "7 Bukti Islam itu Cinta dalam Film Ketika Mas Gagah Pergi" oleh Achmad Sidik Toha. http://www.kompasiana.com/achmadsiddikthoha/7-bukti-islam-itu-cinta-dalam-film-ketika-mas-gagah-pergi_56b9766fa3afbda910592d39

    4. "Film Ketika Mas Gagah Pergi yang Bikin Kesal" oleh Hendro Tri Rachmadi http://creativestore24.com/2016/02/01/film-ketika-mas-gagah-pergi-yang-bikin-kesal-sebuah-review/

    BalasHapus
  17. Selamat siang mas... kebetulan saya mampir di blog jenengan. dan membaca review jenengan.
    saya dalam posisi yang netral, sehingga jikapun anda memberi reting -0 pada film ini saya tak masalah. yang membuat saya sedikit mengerutkan dahi adalah. Anda ternyata mereview dengan kurang bahan. ini diangkat dari Cerpen, kawan. bukan Novel. jadi tahu kan alur Cerpen itu bagaimana?. sehingga banyak adengan atau v¥cerita yang dirubah agar menyatu dalam sebuah cerita yang berdurasi panjang. dan lagi kenapa anda bingung dan menulis sebaiknya "ketika mas gagah pulang" bukan "ketika mas gagah pergi", karena (mungkin) anda belum membaca Cerpennya.
    dan lagi nih, meguti apa yang jenengan katakan bahwa " islam itu tidak begitu", lalu bisakah anda menunjukan seharusnya islam itu (yang bagaimana yang anda maksudkan?".
    sekali lagi saya di sisi netral lo ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat siang mas
      Pertama, saya meyakini untuk bisa menikmati sebuah film seorang penonton tidak perlu terlebih dulu membaca novel (sumber adaptasi). Jika sebuah film sampai mengharuskan penonton membaca terlebih dahulu, artinya story telling film itu telah gagal.
      Kedua, saya meyakini bahwa Islam itu penuh toleransi, memberikan kesejukan baik bagi pemeluknya atau yang bukan, tidak memaksa atau menarik tapi memeluk :)

      Hapus