MIDNIGHT SPECIAL (2016)

Tidak ada komentar
Apabila anda telah familiar akan karya-karya director/screenwriter Jeff Nichols, tentu tahu bakal seperti apa gaya bertutur Midnight Special. Jangan mengharapkan epic spectacle, karena serupa sajian science fiction "kecil" kebanyakan, film ini bakal sering menghabiskan waktu menyoroti drama karakter sembari menyibak lapisan-lapisan alur secara perlahan. Masih dibintangi Michael Shannon selaku aktor langganan Nichols, Midnight Special dibuka oleh berita hilangnya bocah delapan tahun bernama Alton (Jaeden Lieberher). Kabarnya Alton diculik oleh Roy Tomlin (Michael Shannon), namun dari bagaimana interaksi keduanya, kita dapat berasumsi bahwa fakta sesungguhnya berbeda. 

Sejurus kemudian kasus penculikan tersebut semakin kompleks dan melebar ketika FBI melakukan investigasi terhadap sebuah cult, menginterogasi anggotanya mengenai Alton. Dari situ terungkap bahwa kelompok itu memposisikan Alton sebagai messiah, karena sang bocah memiliki kemampuan misterius, salah satunya menangkap sinyal satelit rahasia pemerintah Amerika Serikat. Akhirnya terjadi kejar-kejaran antara pihak pemerintah  dibantu beberapa anggota cult  dengan Roy demi mendapatkan Alton sebelum hari Jumat tanggal 6 Maret yang oleh para cult dianggap sebagai hari penghakiman. 
Kesampingkan berbagai extraterrestrial mumbo jumbo-nya, Midnight Special akan menjadi sajian drama mengenai keluarga khususnya ayah-anak sebelum Sarah (Kirsten Dunst)  ibu Alton  terlibat dalam konflik. Nichols berulang kali membawa filmnya melompat-lompat dari setting jalan di mana banyak hal terjadi menuju tempat peristirahatan (rumah, motel) ketika intensitas diturunkan dan interaksi karakter kerap mengambil fokus. Sayangnya naskah garapan Jeff Nichols tak punya cukup kekuatan guna menyuntikkan dinamika emosi supaya drama itu mampu mengikat atensi. Berniat mengolah emosi secara subtil  kinda arthouse version of Spielberg's movie  rangkaian dialog dan momen kebersamaan karakter justru terasa dingin tanpa kekuatan, ditambah lagi berhiaskan tempo lambat. Alhasil tiap kali kisahnya "beristirahat" intensitas ikut menurun drastis.

Untung Midnight Special masih memiliki amunisi bernama Michael Shannon. Sang aktor sanggup membuat setiap kehadirannya di layar bermakna, bahkan sekedar duduk atau berdiri diam, sosoknya memancarkan kekalutan batin yang tengah dialami. Hal ini merupakan bukti konsistensi serta penyatuan seorang aktor dengan peran miliknya. Saya justru sedikit terganggu akan pembawaan Adam Driver sebagai Paul Sevier yang kental aura komedik lewat ekspresi serta gestur canggung. Akibatnya kemunculan Paul acapkali menghadirkan inkonsistensi tone. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan Adam, karena nampak jelas bahwa karakterisasi tersebut memang intensi dari Jeff Nichols, seolah ia ingin memberi "penyegar" supaya Midnight Special lebih mudah dinikmati penonton. Jadi kurang sinkron, sebab bagian lain film dikemas serius.
Walaupun unsur drama berakhir kurang memuaskan, pendekatan kuat ke arah realis ternyata punya manfaat positif. Saya serasa ditempatkan dalam dunia nyata di mana rentetan kejadian aneh semisal hujan satelit terasa mencengangkan. Momen-momen unearthly itu pun sukses meninggalkan impact besar pada saya. Dalam hal ini penyutradaraan Nichols patut menerima pujian tinggi. Akhirnya meski berulang kali intensitas menurun tatkala protagonisnya menepi untuk beristirahat, alurnya kembali menarik saat perjalanan dimulai lagi. But there's still one more flaw when we talk about the plot: the mystery. 

Sah-sah saja suatu film menyisakan pertanyaan tak terjawab, bahkan bagi saya suatu misteri akan semakin bermakna sewaktu tidak menawarkan keseluruhan jawaban atau memaparkannya dengan tersirat. Midnight Special mengambil langkah serupa saat penonton urung mendapat pemahaman teruntuk banyak hal, terutama tentang Alton dan kekuatannya. Namun untuk membuat penonton terpikat oleh unresolved mystery, harus ada rangkaian kemungkinan supaya penonton yakin bahwa sejatinya ada jawaban di luar sana, hanya saja sang pembuat film menolak menjabarkan. Tapi kondisi film ini berbeda, Jeff Nichols terkesan tidak menjawab karena ia sendiri tak tahu jawaban sesungguhnya sehingga menyisakan ambiguitas guna meminimalisir plot hole (cobalah berusaha menjawab beberapa misteri, besar kemungkinan anda menemui jalan buntu atau ketidaklogisan). Pilihan itu bukan kekeliruan, namun menguatkan kurang matangnya eksekusi premis Midnight Special. This one's not bad at all, but definitely the weakest effort from Jeff Nichols.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar