X-MEN: APOCALYPSE (2016)

17 komentar
Lima tahun lalu First Class menyelamatkan franchise X-Men dari kematian pasca The Last Stand dan X-Men Origins: Wolverine yang mengecewakan. Kembalinya Bryan Singer di kursi penyutradaraan serta Simon Kinberg sebagai penulis naskah kemudian menghasilkan Days of Future Past, membawa lagi X-Men menuju puncak kesuksesan komersial maupun critical. Memasuki 2016, genre superhero memasuki tingkatan lebih tinggi kala DC ikut meramaikan persaingan lewat Batman v Superman: Dawn of Justice, sedangkan Marvel mengandalkan Captain America: Civil War. Dalam kondisi seperti itu, keputusan memakai En Sabah Nur a.k.a. Apocalypse sang mutan tertua nampaknya adalah keputusan tepat supaya Fox tidak tenggelam di tengah persaingan tersebut.

Alkisah, sesosok mutan bernama En Sabah Nur/Apocalypse (Oscar Isaac) dianggap Tuhan dan berkuasa pada era Mesir kuno bersama keempat pengawalnya (Four Horsemen). Namun sebuah pengkhianatan membuatnya harus terkubur di bawah reruntuhan piramida, tertidur selama ratusan tahun sebelum bangkit di tahun 1983. Menyadari manusia memegang kuasa atas dunia, Apocalypse berencana menjadikan mutan sebagai raja dan mulai merekrut empat mutan sebagai Four Horsemen baru. Salah satu di antaranya adalah Erik Lehnsherr/Magneto (Michael Fassbender) yang baru saja kehilangan keluarganya. Mengetahui Erik tengah dalam bahaya, Raven/Mystique (Jennifer Lawrence) dan bersama beberapa mutan muda murid Charles Xavier (James McAvoy) bersatu, menghidupkan kembali X-Men guna menghentikan ambisi Apocalypse.
Memandang usungan ceritanya, Apocalypse jelas terasa sederhana cenderung medioker dibanding dua pendahulunya  First Class berisi rekonstruksi sejarah dan Days of Future Past berhiaskan time travel  yaitu sekedar pertarungan good versus evil tanpa banyak intrik. Ada potensi eksplorasi unsur agama atau Mesir Kuno (and another ancient myth), tapi Kinberg sekedar memposisikannya sebagai secuil hiasan, sehingga En Sabah Nur menjadi satu lagi villain dangkal dengan motivasi klise menguasai dunia. Walaupun digambarkan memiliki kekuatan tanpa batas tidak sampai muncul kesan sosoknya memberi ancaman besar bagi seluruh dunia. Apalagi mayoritas kemunculan ia habiskan untuk berbaring, merekrut four horsemen lalu memberi makeover pada penampilan mereka. Are you a fashion stylist or what?

Simon Kinberg seolah enggan mengakui kemediokeran naskahnya, malu tampak kurang dalam. Alhasil ia masukkan beberapa sub-arc tentang sulitnya mutan remaja mengontrol kekuatan mereka, tragedi kehidupan Magneto, usaha Peter Maximoff/Quicksilver (Evan Peters) mencari sang ayah, dan (as usual) perjuangan Xavier. Terlalu banyak cerita ditumpuk tanpa eksplorasi berarti, ujungnya saya merasa digelontori segunung konflik namun tak ada satu pun yang meninggalkan kesan. Kehidupan Magneto sedikit lebih dramatik dibanding kisah lainnya, tapi telah dimunculkan berkali-kali lewat film sebelumnya hingga terlampau familiar. Ororo/Storm (Alexandra Shipp) dan Elizabeth/Psylocke (Olivia Munn) turut tersia-siakan potensinya. Jangankan penggalian karakter, porsi kedua badass heroine tersebut unjuk gigi di medan pertempuran pun minim. 
Saya akan memaafkan kekurangan di cerita maupun karakter andai filmnya mampu menghibur. Sayangnya Bryan Singer bagai kekeringan kreatifitas mengemas action sequence. Tengok adegan Quicksilver yang bak repetisi atas scene serupa di Days of Future Past. Meski skala bertambah besar namun konsep dasarnya serupa, termasuk musik pengiring. But the most disappointing action sequence is the climax. Ketergantungan Singer terhadap CGI lebih parah dibanding Zack Snyder. Setidaknya Snyder tahu cara mengolah gambar memikat penuh fan service, sedangkan di sini penonton cuma disuguhi kehancuran random tanpa ketegangan. Minimnya intensitas dikarenakan segalanya nampak palsu, bukan saja akibat CGI  saya suka tone campy selaku dampak tinggnya pemakaian CGI  tapi juga ketiadaan rasa bahwa pertempuran bertempat di dunia nyata (di mana orang-orang???). Selain minim kreatifitas dan gagal mencapai puncak intensitas, klimaks pun diakhiri dengan amat mengecewakan. Kita semua tahu En Sabah Nur bakal terkalahkan, tapi eksekusi Singer begitu malas. 

Bertambah parah di saat usaha menyelipkan humor ikut gagal memancing tawa. Komedinya seperti dibuat oleh orang "kaku" yang memaksakan diri melucu. Hasilnya pun terasa dipaksakan berujung garing. Kembali lihat adegan Quicksilver di mana Singer bagai terpaku keharusan memasukkan sebanyak mungkin tingkah usil sang tokoh daripada murni kebutuhan. Timing pun luput diperhatikan ketika komedi dilontarkan. Bahkan muncul beberapa momen unintentionally funny, semisal "how often Apocalypse and his four horsemen just standing close to each other, doing nothing except trying to look cool". Saya paling tergelitik oleh ucapan En Sabah Nur berikut: "Everything they've built will fall!", seolah menyindir X-Men: Apocalypse sendiri selaku penghancur segala usaha membangun ulang franchise ini. Sekarang segalanya mundur ke belakang. X-Men sucks again

SPHERE X FORMAT: Biasanya, sajian blockbuster seperti ini wajib hukumnya ditonton dalam format layar raksasa, tapi dikarenakan kualitas CGI yang inkonsisten serta kurangnya momen "megah", lebih bijak rasanya menyaksikan film ini di format layar biasa. (2.5/5)


Ticket Powered by: Indonesian Film Critics

17 komentar :

  1. Huhuhuhu padahal ane dah berharap banyak pasca Days of Future Past yang keren itu :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sayang banget setelah DoFP malah jadi begini

      Hapus
  2. Really ? Just 2 stars ? Saya ga melihat reviewnya dulu, langsung liat rating yg mas kasih. Worth it ga nih buat bayar tiket nonton atau mending nunggu download ilegal nya aja ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih layak kok asal pasang ekspektasi nggak tinggi

      Hapus
  3. Setuju mas Rasyid... setelah DoFP memperbaiki timeline X-Men, sosok En Sabah Nur dan 4 horsemen terbarunya terbilang sangat mengecewakan... terburuk dari trilogi McAvoy-Fassbender...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Like Jean Grey said "the third movie always the worst" haha

      Hapus
  4. Setelah nonton dofp dua thn yg lalu, dan tahu bakal ada x men apokalip. Ekspektasi saya membumbung tinggi. Setelah trailernya keluar beberapa bln yg lalu, seketika ekspektasi saya turun drastis. Setelah baca review . ekpektasi saya ada di titik terndah. Setelah nontin sendiri saya hanya bisa berkata. "Payah!"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, udah pasang ekspektasi rendah masih kecewa

      Hapus
  5. Ada apa dengan Bryan Singer?

    BalasHapus
  6. Jadi, recomended ga nih utk tonton sm keluarga? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well, sekedar buat hiburan rame-rame masih bolehlah

      Hapus
  7. Bahkan muncul beberapa momen unintentionally funny, semisal "how often Apocalypse and his four horsemen just standing close to each other, doing nothing except trying to look cool".

    this is so trueeeee!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha itu cringe worthy banget. Bikin geli & risih

      Hapus
  8. kalau begini gua download torrent aja bulan depan :P

    BalasHapus
  9. Udah nonton dan bagus kok, setidaknya jauh lebih baik dr captain Amerika apalagi batman versus superman.

    BalasHapus
  10. Yup, saya pun termasuk orang yang kecewa melihat Apocalypse (akibat ekspektasi terlalu tinggi setelah DotFP). Adegan Quicksilver di DotFP bisa dibilang 'menyegarkan', namun kalo dipakai berkali-kali efeknya jadi biasa.

    BalasHapus