HACKSAW RIDGE (2016)

10 komentar
Anda tentu telah acapkali mendengar serangkaian kisah kepahlawanan berbalut keajaiban di medan perang tatkala seorang prajurit mampu menghabisi sekawanan musuh sendirian, sebut saja Audie Murphy, Alvin York, atau Simo "The White Death" Hayha. Nama-nama tersebut dianggap legenda, pahlawan, pembawa maut bagi tentara musuh. Tapi bagaimana bila sang pahlawanan bukan laksana Rambo sang "one man army", bahkan tak menembakkan satu peluru pun? Begitulah kisah Desmond Doss (Andrew Garfield), seorang paramedik Amerika Serikat pada Perang Dunia II yang alih-alih mencabut justru menyelamatkan ratusan nyawa.

Saat kecil, Desmond pernah terlibat perkelahian dengan sang kakak dan memukul kepalanya memakai batu. Kakaknya selamat, namun peristiwa itu meninggalkan ketakutan dalam diri Desmond. Karena andai kakaknya tewas, Desmond telah melanggar perintah keenam Tuhan, yaitu larangan membunuh. Ayahnya, Tom (Hugo Weaving) merupakan mantan prajurit Perang Dunia I yang mengalami PTSD akibat kematian rekan-rekannya. Tom menjadi pemabuk dan sempat nyaris menembak istrinya, Bertha (Rachel Griffiths). Peristiwa itu jadi pendorong utama Desmond kukuh menolak membawa senapan kala bergabung di angkatan bersenjata walau hal itu terdengar bodoh dan ancaman pengadilan militer turut menanti Desmond akibat dianggap membangkang.
Ditulis oleh Andrew Knight dan Robert Schenkkan, naskahnya terbagi ke dalam dua babak: sebelum dan saat peperangan. Paruh pra-peperangan menggali alasan Desmod memegang teguh kepercayaannya, menjadikan karakter Desmond believable, bukan semata sosok "suci" melainkan manusia biasa yang perbuatannya didorong oleh masa lalu (cliche yet effective Freudian touch). Penggarapan Mel Gibson turut memunculkan kontradiksi antara kedua babak. Babak pertama bernuansa ringan, diisi konflik keluarga emosional bahkan romansa Desmond dengan Dorothy (Teresa Palmer), suster yang ia temui di rumah sakit. Kemudian penonton diajak mengunjungi neraka dunia di tebing "Hacksaw Ridge", Okinawa.

Sebagaimana karya-karya sebelumnya, Mel Gibson enggan menahan diri dalam menghadirkan kekerasan. Pertama para prajurit  dan penonton  tiba di Okinawa, mereka langsung disambut tetesan darah segar, pembuka sebelum peperangan brutal di mana tubuh manusia hancur berantakan, isi perut berhamburan, mayat gosong bergelimpangan. Gibson tahu cara menggedor jantung penonton. Ledakan tak terdengar layaknya gemuruh hiburan blockbuster, namun bak genderang perang pemantik kengerian. Berbalut sinematografi bernuansa warna kelam (muted colors) garapan Simon Duggan, "Hacksaw Ridge" memiliki visualisasi horror medan perang paling realistis sejak "Saving Private Ryan". Kontrakdiksi dua babak memudahkan filmnya hadirkan ketegangan di medan peperangan.
Tubuh kurus dan mata lembut Andrew Garfield cocok mewakili kebaikan Desmond Doss, membuat sosoknya likeable. Bersama Teresa Palmer yang adorable, keduanya menyuntikkan kehangatan lain dalam kehidupan Desmond meski romansa Desmond-Dorothy agak dikesampingkan di paruh kedua. Hugo Weaving menjaga kompleksitas karakter Tom yang sikapnya didasari trauma masa lalu sembari sesekali memancarkan ketersiratan rasa sayang pada keluarganya (ekspresi terkejut mendapati Hal terluka, tatapannya pada Desmond di ruang sidang). Vince Vaughn berusaha mereplikasi performa R. Lee Ermey di "Full Metal Jacket", which isn't as strong or fresh but still entertaining

"Hacksaw Ridge" sejatinya menuturkan setumpuk pesan agama, tapi Gibson tak hanya berceramah belaka. Bersama ungkapan verbal, ia turut pamerkan bukti nyata melalui visual dengan medan perang sebagai panggungnya, memancing pergolakan dalam pemikiran penontonnya. Seperti para atasannya, awalnya sulit menerima keengganan Desmond mengangkat senjata, namun begitu diperlihatkan bagaimana aksi saling bunuh di peperangan, sulit untuk tidak berandai-andai, "bila banyak orang berpikiran layaknya Desmond, akankah kedamaian dunia tercipta?". Sebagai suguhan kental unsur agama, "Hacksaw Ridge" mampu memunculkan dialektika sekaligus menyulut pemikiran kritis tanpa membuat penonton merasa digurui.

10 komentar :

  1. Apakah Andrew Garfield bisa dapat nominasi Oscar? Filmnya saja oscar bait

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Golden Globe mungkin bisa, Oscar mungkin susah, tapi perannya di "Silence" punya peluang

      Hapus
  2. Kalau pernah menonton Flag Our Father (2006), Letter From Iwo Jima (2006), dan The Pacific (2010), Okinawa dipaparkan lebih dahulu kepada penonton dengan menyuguhkan banyak ‘landscape’ pulau itu; sehingga saat adegan ‘battle’ dimulai, kita bisa merasakan suasanannya. Nah, Hacksaw Ridge tampaknya melupakan itu. ‘Landscape’ Okinawa hanya disuguhkan dalam satu-dua shoot seingat saya. Bahkan, tebing ‘Hacksaw Ridge’ yang divisualkan sepertinya over-dramatic. (Setelah saya cek di internet ternyata memang benar. Lihat di sini potretnya: https://goo.gl/RQZAVf)

    Kemudian, tentu saja setiap film memiliki agenda. Tapi yang satu ini berlebihan menurut saya. Amerika semuanya digambarkan baik: tidak menginjak mayat, menolong pihak lawan yang terluka, dan mengampuni lawan yang menyerah (walau dengan risiko akan merugikan mereka sendiri). Padahal, bisa saja itu berkebalikan. Apalagi seperti perang di Okinawa yang memakan waktu paling lama bagi Amerika.

    Kesimpulan: Hacksaw Ridge (2016) memang bagus, tetapi belum bisa melampui Saving Private Ryan (1998) sejauh ini (termasuk objektivitas). Jadi, kalau pun mendapat Best Picture pada pergelaran Oscar tahun depan, sekedar keberuntungan saya pikir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agreed, Letter From Iwo Jima masih lebih bagus, tapi masalah Okinawa nggak ditunjukkan lebih dulu karena Mel ingin penonton merasakan hal serupa para tentara, clueless, tidak tahu seperti apa horror yang sudah menanti.

      Overall filmnya memang masih kalah dibanding Saving Private Ryan, dan kalau berjaya di Oscar itu karena tema yang diangkat sangat disukai para juri (because Oscar isn't just about quality)

      Hapus
    2. Kita lihat saja...

      Tapi buat saya film ini memang ada perpaduan unsur dari bberapa referensi film yang saya pernah tonton..

      Pertama saya merasa ceritanya mirip2 Pearl Harbor, terus Full Metal Jacket, selanjutnya Saving Private Ryan, dan terakhir Letters from Iwo Jima...

      Hapus
    3. Ohya... Btw...
      Salam kenal,

      Saya juga blogger dan reviewer movie...

      Sama kayak mas rasyid...

      Hapus
    4. Udah ada yg nonton "Brotherhood of war" dan "the front line" itu film perang terbaik menurut versi ku. Ya, aku udah nonton "saving private ryan dan 2 film itu lebih baik menurut ku.

      Hapus
  3. Kocak gan si hollywood 😂😂😂

    BalasHapus
  4. gabungan dari bebeeapa unsur film perang lainnya. platoon, full metal jacket, saving private ryan dan letter from iwo jima...

    BalasHapus