REVIEW - SENIN HARGA NAIK

Tidak ada komentar

Judulnya mengacu pada jargon populer dari era 2010-an, yang mengeksploitasi kebutuhan individu akan ruang huni menjadi praktik konsumerisme. Padahal rumah bukan soal tempat, melainkan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Setidaknya itu nilai yang sering diangkat oleh drama keluarga, termasuk Senin Harga Naik karya Dinna Jasanti yang mengingatkan supaya kita menempatkan keluarga di atas materialisme. 

Kisah berawal kala Mutia (Nadya Arina) kabur dari rumah akibat merasa sang ibu, Retno (Meriam Bellina), yang juga pemilik toko roti sukses bernama Mercusuar, terlalu mengendalikan hidupnya. Sebab dari hubungan percintaan hingga pekerjaan, semua dicampuri oleh sang ibu. Alih-alih menghalangi, Retno malah berujar, "Kamu tidak akan jadi apa-apa tanpa ibu!" 

Selang tiga tahun, Mutia meniti karir cerah di perusahaan properti, sebagai salah satu karyawan terbaik yang jago merayu pemilik rumah guna menyetujui pembebasan lahan. "Menggusur secara halus" adalah keahlian Mutia. 

Di waktu bersamaan, popularitas Mercusuar meredup. Si anak laki-laki, Amal (Andri Mashadi), telah pergi karena seringnya Retno melontarkan komentar pedas terhadap sang istri, Taris (Givina), meninggalkan si bungsu, Tasya (Nayla D. Purnama), seorang diri menjaga ibu di rumah. Familiar? Naskah buatan Rino Sarjono memang menyertakan berbagai pakem khas tearjerker bersampul drama keluarga. Tentunya bakal ada adegan atap rumah jebol yang belakangan jadi cara favorit penulis film Indonesia untuk menggambarkan kemiskinan. Jangan mengharapkan kebaruan di sini. 

Lalu datanglah misi sulit bagi tokoh utama kita: Dia mesti menggusur ibunya sendiri dari toko roti sekaligus rumah yang sudah ditempati selama puluhan tahun. Mutia tak bisa berbuat apa-apa, sebab tugas itu diberikan langsung oleh si bos (Hamish Daud), pun ia diiming-imingi kenaikan jabatan serta beragam bonus besar. Nyatanya, selepas kabur dari rumah pun hidup Mutia tetap dikendalikan oleh pihak lain. 

Tidak sukar mengira-ngira jalur mana yang hendak filmnya tempuh. Keunggulan Senin Harga Naik memang bukan urusan progresi cerita, tapi momen-momen emosional yang dimotori ketepatan Dinna Jasanti mengolah dinamika rasa, juga akting barisan pemain. Tidak semuanya berbentuk peristiwa besar. Misal obrolan di depan toko roti antara Retno dengan Ida (Nungki Kusumastuti), karyawan senior Mercusuar yang sudah seperti kerabat sendiri. Tiada ledakan emosi. Hanya dua manusia berbagi suasana intim yang menguarkan kehangatan. 

Nadya Arina punya kapasitas menyeimbangkan drama dan humor, tapi jangkar bagi Senin Harga Naik adalah Meriam Bellina. Senyum yang cuma sesekali menghiasi bibirnya, bagi saya merupakan perihal paling menyentuh. Senyum simpul mendapati respon singkat Mutia di grup obrolan, atau tatkala ia diomeli anak-anaknya akibat menyimpan obat kedaluwarsa, ibarat jendela yang memfasilitasi penonton untuk sejenak mengintip isi hati Retno, seorang ibu yang menumpahkan cinta memakai cara yang tidak selalu diinginkan para buah hatinya. 

Sayang, konklusinya cenderung mencuatkan kesan buru-buru ketimbang memantik haru. Titik balik sikap protagonis, juga solusi yang ditawarkan bagi masalah utamanya, terasa dirangkum paksa dalam 5-10 menit terakhir. Setidaknya, sebagai drama keluarga konvensional, Senin Harga Naik bekerja dengan baik. 

Film ini tidak menawarkan dobrakan, namun subteks dalam alurnya mengandung kesesuaian dengan status selaku "film lebaran". Di area halaman toko roti Mercusuar, dibangun sebuah mercusuar yang dijadikan alat pemandu (literal maupun metaforikal) oleh Retno bagi anak-anaknya, supaya mereka dapat pulang ke rumah kendati sempat tersesat. Senin Harga Naik adalah tentang kepulangan, juga kenangan yang selalu terjaga biarpun bangunan fisik sebuah rumah tak lagi ada.  

Tidak ada komentar :

Comment Page: