REVIEW - HOPPERS

Tidak ada komentar

Benar bahwa sihir Pixar tak lagi semujarab dahulu, kala kualitas "bintang lima" serta kejayaan di Oscar sudah jadi garansi. Hoppers sendiri takkan menyediakan bangunan dunia perhewanan sedetail Finding Nemo maupun karya kebanggaan perusahaan induk mereka, Zootopia, namun film buatan Daniel Chong ini punya pencapaian lain yang tak kalah mengagumkan, yakni eksplorasi genre secara kaya. 

Kisahnya diawali oleh prolog berupa montase khas Pixar: Mabel (Piper Curda) si bocah penyendiri yang gagal dipahami oleh lingkungannya, menemukan kebahagiaan dengan menghabiskan waktu bersama sang nenek (Karen Huie) menikmati ekosistem suatu padang rumput penuh hewan. Kita sudah belajar dari Up, bahwa montase tersebut bakal dipungkasi oleh kepergian si nenek. Hubungan kekeluargaan keduanya tak digali seberapa mendalam, tapi menyediakan motivasi memadai bagi aksi protagonisnya. 

Sepeninggal nenek, Mabel menjaga perjuangannya tetap hidup lewat perlawanannya terhadap niat Jerry (Jon Hamm), Wali Kota Beaverton, yang hendak meratakan padang rumput tempat beragam spesies tinggal guna membangun jalan bebas hambatan. Masalahnya, terjadi anomali. Tidak satu pun hewan bisa ditemukan di sana, termasuk koloni berang-berang yang eksistensinya begitu esensial bagi ekosistem. Semua mendadak hilang. 

Beruntunglah Mabel mengetahui keberadaan teknologi "Hoppers" hasil kreasi profesor biologinya, Dr. Samantha (Kathy Najimy), yang memungkinkan manusia memindahkan kesadaran mereka ke tubuh robot hewan. Sederhananya, seperti Avatar. Mabel sendiri sempat berceloteh mengenai kemiripan itu, sebelum bertindak nekat mentransfer dirinya ke robot berang-berang guna menginvestigasi misteri hilangnya para hewan.

Sampai di titik ini, naskah buatan Jesse Andrews masih serba familiar. Mabel pun menyusup ke koloni hewan, lalu mempelajari dinamika hidup mereka yang melahirkan banyak komedi situasi, termasuk kelakar menggelitik antara beruang dan berang-berang mengenai "aturan kolam" yang sudah diungkap oleh trailernya. Humornya takkan memecah tawa secara luar biasa, tapi cukup untuk memotori daya hibur filmnya. 

Terselip satu detail kecil yang menarik. Ketika disimak lewat perspektif manusia, para hewan memiliki mata kecil realistis berwarna hitam. Menggemaskan tapi kosong. Sebaliknya, sewaktu kita diajak memandang hewan melalui perspektif mereka sendiri, mata itu berubah jadi "lebih kartun", konyol, juga kaya emosi. Manusia memang punya tendensi melihat hewan sebagai makhluk imut belaka, bak boneka tanpa nyawa yang bisa diperlakukan semaunya.

Biar demikian, secara keseluruhan, paruh awal Hoppers dipenuhi poin-poin formulaik yang jamak kita temui dalam judul-judul lain, bahkan animasi generik sekalipun. Begitu pula pesan mengenai harmoni alam raya, serta petualangan sepasukan hewan yang bakal memesona bagi penonton semua umur. Sehingga siapa sangka hal-hal itu merupakan gerbang, yang begitu dibuka akan seketika memperluas dunia kecil protagonisnya ke teritori yang tak terbayangkan sebelumnya. 

Seiring alurnya mendengungkan alarm pengingat bahwa senjata ciptaan manusia kelak berisiko berbalik menghancurkan kita (amat relevan dengan wajah dunia masa kini yang berada di bibir jurang peperangan), pelan-pelan naskahnya menggiring penonton menyatroni wilayah cerita yang tidak terduga. Transisinya begitu mulus, melebur apik dengan cerita utamanya, hingga bukan mustahil banyak yang melewatkan keliaran eksplorasi genrenya.

Hoppers tidak ragu melangkahkan kaki menuju kekonyolan khas b-movie yang serba hiperbolis. Salah satu adegan kejar-kejarannya menyuguhkan skenario "Apa jadinya kalau Pixar mengadaptasi Sharknado?" Di penghujung babak kedua pun, kala alurnya sejenak memindahkan latar ke laboratorium Dr. Samantha, Daniel Chong secara cerdik menyusun pengadeganan bak sedang mengarahkan horor fiksi ilmiah dari dekade lalu. 

Kehangatan milik babak ketiganya menjadi pelengkap. Saya mendapati diri menangisi kebaikan sekelompok makhluk hidup yang bersedia menolong spesies lain yang pernah menyakiti mereka. Mungkin kebaikan semacam itulah yang menunda kehancuran total dunia ini dan membuatnya terus bernyawa.

Tidak ada komentar :

Comment Page: