REVIEW - GOOD LUCK, HAVE FUN, DON'T DIE

Tidak ada komentar

Apa jadinya bila pemerintah secara serakah mengeruk keuntungan dari AI tanpa membuat regulasi memadai (terdengar familiar?), dan harapan akan keselamatan kita terletak di pundak laki-laki gila yang mengaku datang dari masa depan sembari mengoceh tentang bahaya pemakaian smartphone?

Gagasan utama Good Luck, Have Fun, Don't Die amat dekat dengan realita, walau insiden-insiden kecil yang memenuhinya nampak begitu jauh. Tapi coba renungkan sejenak. Kalau satu dekade lalu muncul film yang bersikap anti terhadap smartphone atau media sosial, niscaya publik bakal melempar reaksi "OK boomer", namun sekarang keresahan tersebut beralasan. Secepat itu teknologi berkembang dan memengaruhi budaya. Kelak, mungkin saja deretan kemustahilan film ini menjadi potret keseharian.

Awalnya semua terlihat senada dengan dunia kita. Di tengah keriuhan para pengunjung restoran yang sedang menikmati makan malam, tiba-tiba muncul laki-laki tanpa nama (Sam Rockwell) yang mengaku datang dari masa depan, memperingatkan soal masa depan suram akibat ketidakmampuan manusia memalingkan wajah dari layar smartphone. 

Tentu para pengunjung menganggapnya gila. Kita pun akan bersikap serupa. Si laki-laki tak ubahnya gelandangan yang gemar berseloroh perihal kiamat di pinggir jalan. Tapi selepas menit-menit penuh kebingungan, si laki-laki menyampaikan tujuan utamanya, yaitu mengumpulkan tim berisi untuk menyelamatkan dunia dari ancaman AI. 

Tim pun terbentuk: Mark (Michael Peña) dan Janet (Zazie Beetz), sepasang kekasih yang sama-sama merupakan guru SMA; Bob (Daniel Barnett) si pembina pramuka; Scott (Asim Chaudhry) yang skeptis terhadap cerita tentang perjalanan si laki-laki menembus waktu; Susan (Juno Temple) yang secara misterius mengetahui rahasia mengenai restoran tersebut; dan Ingrid (Haley Lu Richardson) yang punya tendensi bunuh diri. 

Kemudian alurnya mengajak kita mundur ke belakang guna menggali apa yang orang-orang itu alami sebelum pertemuan di restoran. Sejak itulah penonton disadarkan bahwa dunia tempat Good Luck, Have Fun, Don't Die berlatar sudah lebih maju secara teknologi ketimbang realita. Pada segmen mengenai Mark dan Janet, digambarkan siswa SMA tak mampu lagi memalingkan wajah barang sedetik saja dari layar smartphone. 

Naskah buatan Matthew Robinson untungnya tidak terdengar seperti grumpy old man yang terus-terusan mengeluhkan perilaku generasi muda. Alih-alih sepenuhnya menyalahkan para remaja dalam fenomena di atas, Robinson mengacungkan jari ke arah pihak korporasi dan pemerintah, yang bukannya meregulasi justru mengeksploitasi. 

Kondisi serupa terpampang di segmen tentang Susan yang baru kehilangan putranya akibat penembakan di sekolah. Daripada secara serius mengusut isu yang telah mencapai titik kritis itu, pemerintah malah menerapkan prinsip aji mumpung demi menimbun profit. Di segmen itu pula Robinson menyentil fungsi teknologi sebagai alat untuk mempermudah hidup manusia, yang bak pisau bermata dua. Sebab bila kita terlalu gampang mencapai sesuatu, lambat laun hal itu akan kehilangan nilainya. 

Deretan segmen tersebut bakal lebih berkesan bagi penonton yang belum pernah menyaksikan serial Black Mirror, mengingat banyak elemennya, seperti manusia yang disulap menjadi iklan berjalan, pernah ditelusuri secara lebih menyeluruh di sana. Tapi masalah terbesar penceritaannya terletak pada pembengkakan durasi (134 menit) akibat kekacauan struktur, pula inkonsistensi perihal pernyataan yang ingin disampaikan. 

Di satu kesempatan, filmnya berpesan bahwa eksistensi AI tak bisa dihindari sehingga manusia perlu menemukan titik tengah, namun selang beberapa saat, ia secara tegas menuding kecerdasan buatan selaku iblis kejam yang perlu ditumpas. 

"Energi" adalah faktor yang menghalangi Good Luck, Have Fun, Don't Die kehilangan kekuatan. Setiap departemennya kaya akan energi. Pengarahan Gore Verbinski, cara Sam Rockwell menangani kalimat demi kalimat secara manik, juga naskahnya yang biarpun acap kali berantakan, tetap mendatangkan pesona melalui kreativitasnya. Tengok kemunculan tiba-tiba sesosok monster aneh yang tak ubahnya dibuat memakai prompt ngawur nan aneh khas konten AI TikTok.

Keseluruhan babak finalnya sendiri terasa seperti ditulis memakai AI dalam hal kekacauan yang ia sajikan, namun tetap punya sisi humanis berkat hadirnya satu poin yang mustahil ditiru kecerdasan buatan: emosi. Klimaks Good Luck, Have Fun, Don't Die dipenuhi kekhawatiran serta amarah yang meluap-luap. 

Saya suka caranya mengakhiri cerita (setidaknya sebelum berpaling ke arah konklusi aman penuh harap ala Hollywood), yang mengingatkan pada daya kejut khas horor masa lalu, yang gemar meninggalkan penonton dengan nuansa kelam sarat ketidakberdayaan. Tapi di saat bersamaan, harapan yang akhirnya disertakan mungkin bukan sebatas keputusan "mengalah pada pasar", melainkan sebuah pernyataan betapa umat manusia akan selalu unggul, selama mereka bersedia menebar kepedulian pada sesama. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: