YANG TERUCAPKAN SAAT KITA MENGUCAPKAN CINTA

4 komentar
Tulisan berikut bukanlah sebuah review, bukan pula terkait film. Kali ini izinkan saya mempromosikan, beriklan tentang pertunjukkan drama musikal produksi Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST), badan kegiatan mahasiswa di Fakultas Psikologi UGM yang telah menjadi bagian penting hidup saya selama hampir tujuh tahun terakhir. Kebetulan, musikal berjudul "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta" ini dibuat berdasarkan naskah tulisan saya bersama dua orang lain selaku duet sutradara pementasan. Sebelumnya saya hendak bercerita seputar latar belakang serta sedikit membahas kandungan naskahnya.

Proses awal dimulai sekitar akhir 2015 sewaktu KRST tengah memilih ketua baru (disebut Kepala Keluarga). Kita sepakat ingin membuat pentas ringan, menghibur, dan mampu mewadahi minat mahasiswa seluas mungkin (aktor, tari, musik, tata lampu, make-up, kostum, properti, dan sebagainya). Karena itulah genre musikal yang belum pernah kami pentaskan pun dipilih. Saya mengajukan diri menulis naskahnya karena merasa tertantang mencoba ranah baru. Sebelumnya sudah dua naskah karya saya dipentaskan. Surealisme ala David Lynch berjudul "Romantika dalam Gelap" (saya juga menyutradarai) dan "Keluarga Bahagia", sebuah drama soal keluarga disfungsional. 

Keduanya bernuansa gelap, mengandung pokok bahasan sensitif termasuk seksualitas. Maka dari itu, saya ingin sesekali mengeksplorasi jalur berbeda, dan musikal ringan, ceria pula mengusung kisah cinta dua sejoli sebagai sentral adalah pilihan tepat. Sekitar bulan Februari 2016, naskah usai, lalu sempat mengalami sedikit penyesuaian oleh dua sutradara (Afra Imani Nasution dan Arswendi Dharmaputra). Judul "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta" mendapat inspirasi dari koleksi cerita-cerita pendek "What We Talk About When We Talk About Love" (1981) milik Raymond Carver. Saya merasa tak ada judul lain untuk mewakili ceritanya yang banyak mengandung kegombalan tutur yang sekilas terdengar menggelikan, namun sejujurnya, memang kegombalan itulah yang terucapkan saat kita dimabuk cinta dan ingin mengungkapkannya. 

Kisahnya sederhana saja, menyoroti pertemuan dua muda-mudi, Hendrik, seorang anak band yang kerap bertingkah seenaknya dan Nurlela, gadis berparas ayu yang sulit ditaklukkan hatinya. Cita-cita Hendrik untuk hidup dari musik mendapat tentangan keras dari sang ayah, sementara Nurlela yang gemar melukis berharap rutinitas membantu usaha jahit ibunya dapat membantu mewujudkan mimpinya menjadi desainer. Keduanya perlahan saling jatuh hati tanpa menyadari ada gejolak tengah mengintai. Latarnya mengambil "sebuah negeri yang dekat dan menyerupai tanah tempat kita tinggal". Beberapa film memberi inspirasi, terutama "Sound of Music", "Aach...Aku Jatuh Cinta", dan "Singin' in the Rain". Para aktor dan penari yang terlibat mayoritas berasal dari angkatan 2015 dan 2016. Ya, darah-darah segar. Bukan tua bangka seperti saya. 

Pementasan digelar pada Sabtu, 4 Maret 2017 pukul 19:30 di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Harga tiket sudah tertera pada poster di atas. Untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi contact person (Ninda: 081227155416, Besti: 081228475321) atau kolom komentar tulisan ini. Jika "La La Land" masih menyisakan rasa haus akan kisah cinta berbalut nyanyian dan tarian yang menyenangkan, ringan namun romantis silahkan menonton "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta". Selamat bersenang-senang dan jatuh cinta. 

4 komentar :

  1. hehe, jadi ingat Birdman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe yeah, mulai kepikiran judul itu pas iseng nonton ulang Birdman

      Hapus
  2. Sial, jadi pingin nonton. Apalah daya sudah kembali ke kampung halaman setelah hampir 6 tahun menjadi sivitas akademi kampus tercinta . .

    BalasHapus