REVIEW - HAMNET

Tidak ada komentar

Perasaan manusia dapat bertransformasi menjadi seni bercerita. Di salah satu pertemuannya dengan Agnes (Jessie Buckley), William Shakespeare (Paul Mescal) mengaku tak jago perihal komunikasi. Tapi sebagaimana kita tahu, ia adalah pencerita handal. Alhasil sebagai ganti obrolan sekaligus cara menyampaikan isi hati, ia menuturkan legenda Orpheus dan Eurydice. Agnes pun terpikat. 

Prolog filmnya menampilkan teks yang menyampaikan kalau di Stratford, "Hamlet" dan "Hamnet" dianggap sebagai dua nama yang sama. Tulisan tersebut merujuk pada hipotesis bahwa William menjadikan naskah Hamlet selaku medium katarsis, upaya penebusan dosa dalam prosesnya memahami makna kehidupan dan kematian, pasca ia digerogoti rasa bersalah akibat kematian putranya, Hamnet.

Tapi karya terbaru Chloé Zhao ini bukan kisah mengenai sang pujangga semata. Bahkan William Shakespeare bukan manusia pertama yang penonton temui. Kita diajak memasuki hutan yang sibuk dengan kesunyiannya, bak sedang merayakan kesyahduan manusia yang berbaring di antara rimbunnya pepohonan. Dialah Agnes Hathaway (lebih jamak dikenal dengan nama "Anne", kendati wasiat mendiang ayahnya menuliskan "Agnes"). 

Mistisisme menyeruak dari pemandangan tersebut. Serupa karya-karya Zhao sebelumnya, emosi manusia dan alam raya saling berkelindan. Dibantu Łukasz Żal selaku penata sinematografi, Zhao berkali-kali menunjukkan kepiawaiannya memantik emosi lewat bahasa visual yang menyoroti ikatan spiritual tak kasat mata di atas. 

Agnes dicurigai sebagai anak penyihir hutan, yang tidak pernah secara tegas ia tampik atau akui. Tapi ia memang dipercaya memiliki beberapa kemampuan spesial, salah satunya melihat masa depan seseorang hanya melalui genggaman tangan. Agnes yang lebih suka berkeliaran di tengah hutan daripada bernaung di bawah atap rumah ibarat representasi ibu pertiwi (mother nature). 

Singkat cerita, Agnes yang tengah hamil bersedia menikahi William walau mesti melawan ketidaksetujuan ibu masing-masing. Semua berawal bahagia, khususnya berkat kehadiran tiga buah hati: Susanna (Bodhi Rae Breathnach), Judith (Olivia Lynes), dan Hamnet (Jacobi Jupe). Tapi suka cita William tertutupi oleh perasaan terkekang di kota kecil seperti Stratford. Luapan frustrasi William akibat kondisi tersebut, ditambah kebuntuannya menelurkan tulisan, diutarakan secara menusuk oleh akting Paul Mescal, dalam adegan berlatar kamar remang yang menyesakkan. 

Agnes pun meminta kakaknya, Bartholomew (Joe Alwyn), mengirim sang suami ke London guna memberinya kesempatan berkarir di dunia teater. Ibarat sepasang burung, William dibiarkan terbang bebas, sedangkan Agnes didomestikasi dalam sangkar, dipaksa menjauh dari alam yang selama ini jadi rumah tanpa sekat. Naskah buatan Chloé Zhao dan Maggie O'Farrell (mengadaptasi novel berjudul sama buatan O'Farrell sendiri), tidak luput menyentil dinamika peran gender secara subtil melalui kondisi tersebut. 

Banyak luka hadir akibat kepergian William. Hamnet si putra sulung senantiasa terlihat tegar, namun air matanya selalu tumpah. Jacobi Jupe yang belum genap 13 tahun, berakting dengan kepekaan ala pelakon dewasa, melalui sorot matanya yang menyalakan kenangan mengenai ketakutan kita semasa kecil perihal kepergian orang tua. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi anak daripada kehilangan tersebut.

Tapi dalam ironi takdir yang tragis, justru Hamnet yang meninggalkan orang tuanya. Wabah pes bubo yang mulai merebak merenggut nyawa si bocah. Agnes yang menyaksikan secara langsung kematian buah hatinya pun hancur seketika. Zhao menempatkan kamera di posisi close-up, membiarkan Jessie Buckley melepaskan jeritan emosi feral mencekik dalam adegan yang berkontribusi memposisikan namanya sebagai unggulan terdepan di musim penghargaan. 

Kemudian tibalah alurnya di bagian fiksi spekulatif yang jadi menu utama. Dipicu duka mendalam, William mulai menulis The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark. Kisah hidup mendiang putranya dimodifikasi, diterjemahkan ke ranah fiksi, lalu dipentaskan di depan lukisan hutan selaku backdrop panggung. Di tengah lukisan terdapat lubang hitam serupa goa pohon yang kerap Agnes kunjungi di hutan, dan sempat memancing rasa penasaran William. 

Semuanya palsu, tapi itulah kekuatan karya seni. Wujudnya mungkin maya, namun rasa yang dihasilkan amat nyata. Koneksi antara tragedi kematian Hamnet dengan cerita rekaan mengenai Hamlet bakal tersaji lebih mulus andai naskahnya tidak gemar menjabarkannya dengan lantang (adegan William mendeklamasikan monolog "To be, or not to be" misal), seolah menganggap penontonnya terlampau bodoh, atau buta literasi sampai gagal menarik benang merah antara keduanya. 

Gerak narasinya memang tak selalu lancar akibat terlampau sering beralih wujud. Pendekatannya berubah dari kisah naturalis lirih nan sederhana menjadi tearjerker dramatis serba besar, sebagaimana fokus alurnya terus bergeser (romansa, drama keluarga, gender, dunia anak, persoalan seni, dll.), hingga memantik pertanyaan, "Apa yang sebenarnya paling ingin Zhao dan O'Farrell kedepankan?"

Beruntung, konklusinya membuat berbagai kelemahan tadi seolah tak lagi perlu untuk dipusingkan. Di atas panggung, kisah fiktif dan realita penuh duka (bukan cuma Agnes dan William, penonton lain pun sedang mengakrabi luka hati akibat wabah) saling terhubung, sementara Zhao kembali unjuk kebolehan merangkai bahasa visual guna melantunkan emosi. Begitu juga akting Jessie Buckley, yang dalam momen tersebut, bergerak di area lebih subtil. Mata serta senyumnya bagaikan sajak indah yang tak lagi memerlukan kata-kata puitis untuk bicara. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: