REVIEW - IRON LUNG

Tidak ada komentar

"Gamers tahu apa tentang pembuatan film?" Ungkapan merendahkan macam itu kerap menuntun film adaptasi game menuju malapetaka. Pihak studio yang sebatas memandang game selaku properti pengeruk uang, sehingga bukan mustahil ogah repot-repot memainkannya, secara arogan memercayai superioritas mereka, kemudian berujung menghancurkan dunia imajinatif tersebut daripada membuatnya bertransformasi. 

Lalu tibalah Mark "Markiplier" Fischbach lewat Iron Lung, debutnya sebagai sutradara yang mengadaptasi game berjudul sama buatan David Szymanski. Dia mungkin belum menjadi sineas berkompetensi tinggi, namun sebagaimana materi aslinya, Markiplier hadir bermodalkan kobaran jiwa indi, dengan mengedepankan semangat dan niat yang berakar dari cinta.

Selain sutradara, Markiplier turut mengisi posisi produser eksekutif, penulis naskah, editor, serta aktor utama. Diperankannya Simon, seorang narapidana yang dikirim untuk mengeksplorasi sebuah bulan yang terendam dalam lautan darah. Simon mengendarai kapal selam seorang diri, tanpa diberi arahan pasti mengenai apa yang mesti dicari, kecuali bahwa ia perlu mengambil foto memakai kamera sinar-X. Tapi Simon yakin ada sosok misterius yang diam-diam mengintainya di balik remang-remang lautan darah. 

Alkisah, dunia dalam film ini baru mengalami kiamat yang dinamai "Quiet Rapture", di mana seluruh planet dan bintang tiba-tiba lenyap. Umat manusia pun nyaris seluruhnya punah, kecuali mereka yang berada di stasiun serta pesawat luar angkasa. Misi Simon bertujuan mencari kunci kelangsungan hidup para penyintas. 

Mayoritas informasi di atas tersebar acak melalui ragam bentuk suara: narasi voice over, instruksi via radio untuk Simon, sampai bisikan misterius di kepala si tokoh utama. Keengganan Iron Lung menyuapi informasi, termasuk tendensi naskahnya mengemas dialognya seambigu mungkin, berpotensi menyulut frustrasi penonton awam yang kurang familiar dengan permainannya. 

Tapi harus diakui, bila mampu menyusun keping teka-teki tersebut, filmnya menyediakan bangunan dunia menarik, selaku latar bagi ceritanya yang menyoroti persoalan spiritualitas, trauma, degradasi psikologis, dan upaya manusia menjaga eksistensi di tengah mortalitas mereka. 

Wajah Simon mendominasi 125 menit durasi, yang otomatis menuntut kapasitas akting sang pelakon. Markiplier punya kemampuan mengolah raut wajah, juga kapasitas menampilkan beberapa emosi dasar secara memadai, namun dinamika rasa yang masih cenderung berkutat di permukaan belum cukup untuk membuatnya mampu mengemban beban seorang diri selama lebih dari dua jam. 

Apalagi sebagai sutradara, Markiplier cenderung membiarkan beberapa momen mengalir berlarut-larut. Acap kali adegan masih berjalan jauh setelah poinnya tersampaikan, sehingga alih-alih intensitas, penonton justru kerap dihadapkan pada kehampaan. Setidaknya sebelum mencapai paruh kedua yang terasa lebih penuh karena Simon yang terdampar keluar jalur dituntut memeras otak di tengah keterbatasan sumber daya guna menemukan jalan keluar. 

Tapi Markiplier bukan sutradara buruk. Sangat jauh dari itu. Dia hadir dengan ragam pilihan shot yang membawa Iron Lung berhasil menghindari kemonotonan. Belum lagi, didukung kualitas mumpuni timnya kala meleburkan efek praktikal dan komputer, sang sutradara debutan sanggup menyulap biaya cekak (tiga juta dolar) jadi tontonan yang tidak nampak murahan. 

Penceritaan yang enggan mencekoki penonton dengan informasi, tempo lambat, juga keberanian mengeksplorasi horor kosmik sarat imagery beraroma sureal yang cenderung jarang disentuh sinema arus utama. Walau belum maksimal, aspek-aspek tadi membuktikan keberanian sang pembuat film untuk tidak tunduk pada pakem. Tengok babak ketiganya yang jadi puncak keliaran horor kosmik. Markiplier tahu apa yang ingin ia ciptakan, juga apa yang ia perlukan guna merealisasikan visinya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: