JOURNEY TO THE WEST: THE DEMONS STRIKE BACK (2017)

10 komentar
Sekuel bagi "Journey to the West: Conquering the Demons"  film terlaris China tahun 2013 sekaligus salah satu yang terbaik  ini mempertemukan Tsui Hark si "Raja Wuxia" dan "Raja Komedi", Stephen Chow. Sebelumnya, Hark sempat muncul selaku cameo di "The Mermaid" buatan Chow yang juga merupakan film berpendapatan terbesar sepanjang masa di "Negeri Bambu" tersebut. Kelihaian Hark mengkreasi adegan aksi dipadukan absurditas komedi Chow yang kali ini sendirian menulis naskahnya tentu menjadi magnet kuat. Terbukti lewat keberhasilan melampaui pendapatan film pertama. It's definitely bigger, but is it better?

Kisahnya melanjutkan perjalanan Tang Seng (Kris Wu) mencari kitab suci ke India bersama ketiga muridnya, Sun Wukong si Raja Kera (Lin Gengxin), siluman babi Zhu Bajie (Yang Yiwei) dan siluman air Sha Wujing (Mengke Bateer). Guna bertahan hidup mereka menawarkan jasa mengusir siluman dan memamerkan atraksi di kelompok sirkus. Namun perselisihan antara Wukong dan Tang Seng kerap menyulitkan perjalanan. Wukong jengah atas perlakuan seenaknya dari sang guru (memanggilnya "kera nakal", mencambuk dan menyanyikan lagu anak sebagai hukuman). Tang Seng pun kewalahan menghadapi kenakalan Wukong, dan masih menyimpan amarah akibat murid pertamanya itu membunuh Duan (Shu Qi), cinta sejati Tang.
Meneruskan jejak "Conquering the Demons", "The Demons Strike Back" walau kental komedi merupakan presentasi versi kelam "Journey to the West". Unsur kekerasan dan kematian tidak sekental film pertama, namun ada kompleksitas soal hubungan guru-murid khususnya Tang Seng dan Sun Wukong. Sebagai bekas siluman kejam, tentu logikanya mereka takkan semudah itu patuh. Chow menekankan itu ketika Wukong benar-benar membenci Tang, bahkan sekali waktu berniat membunuhnya dengan Bajie dan Wujing memberi dukungan. Layaknya proses alamiah, ketika "Conquering the Demons" adalah pertemuan, maka sekuelnya ini berfungsi menyatukan keempat protagonis, hingga apabila kelak ada installment ketiga, kita akan bertemu dengan tim yang telah solid. 

Chow menempatkan banyak pertengkaran sebagai rintangan, alat memaparkan konflik. Masalahnya, pemaknaan Chow pada istilah "konflik" terlampau dangkal, yaitu saling berteriak, mengeluh, dan dilakukan berulang kali, berujung repetitif pula menyebalkan ketimbang menghasilkan cengkeraman kuat drama seputar love/hate relationship. Biksu Tang versi Chow adalah sosok kompleks. Penyebar ajaran Buddha, tetapi bodoh dan terjebak dalam duka duniawi akibat cinta. Berbeda dibanding Wen Zhang pada film pertama yang simpatik, akting Kris Wu membuatnya bagai pemuda manja, hanya bisa merengek, tak berguna, seperti minta dihajar habis-habisan. The relatable, more human version of Tang Sen from the previous movie is gone, replaced by this spoiled brat
Tidak biasanya pula Chow miskin ide merangkai narasi ringan. "The Demons Strike Back" ibarat gabungan kasar dari berbagai story arc perjalanan Biksu Tang ketimbang satu skema besar yang saling berkaitan meski bagi penonton yang familiar terhadap kisahnya, kemunculan Siluman Laba-Laba dan Siluman Tengkorak dapat memunculkan nostalgia. Chow nampak memaksakan diri memanjangkan cerita dengan setumpuk filler tak substansial dan membosankan seperti beberapa sekuen pasca pertempuran di istana. Tapi bukan semata-mata kesalahan naskah, sebab penyutradaraan Tsui Hark turut berpengaruh. 

Penonton masih disuguhi kekonyolan komedi khas Stephen Chow dan beberapa momen sanggup memproduksi tawa, hanya saja urung mencapai titik tertinggi serta banyak humor berakhir datar. Lagi-lagi kegagalan tersebut disebabkan interpretasi dangkal. Hark sekedar mengundang kekacauan dan keramaian sebanyak mungkin dalam menangani komedi, tanpa ketepatan timing atau pilihan shot mendukung. Tidak seperti Chow, Hark kurang pandai bermain komedi visual, alhasil yang penonton dapatkan tak lebih dari slapstick konyol yang mudah terlupakan. 
Battle sequence-nya didominasi CGI yang mengemas seluruh aspek, mulai karakter sampai setting. Pertempuran di istana dan klimaks hampir 100% memakai CGI. Kesan cartoonish akibat kualitas tak seberapa bisa dimaklumi mengingat ini bukan produksi Hollywood, walau pilihan full CGI mengundang dipertanyakan mengingat bujet film ini setara pendahulunya ($64 juta dollar). Di sini barulah Tsui Hark unjuk gigi mempertontonkan kepiawaian merangkai hiburan penuh warna. Dibantu desain produksi mumpuni, Hark sukses mewujudkan visi menghadirkan visual spectacle berisi kostum pula tata set dan properti meriah sebagaimana diperlihatkan opening dan setting istana, bak membawa keramaian produksi Bollywood berskala besar. 

Skala pertarungan pun lebih besar dan pengemasan Hark terbukti kreatif. Berbagai adegan aksi khususnya klimaks memiliki apa yang jarang kita temui pada Hollywood blockbuster, yakni imajinasi. Bayangkan pertempuran Wukong dan Tang Seng melawan "tiga Buddha" di tengah samudera itu didukung efek visual mahal Hollywood. Epic. Sayangnya rangkaian action sequence-nya terasa artificial karena Hark sekedar menaruh fokus pada menumpahkan visual semeriah mungkin tanpa membangun ketegangan atau meyakinkan penonton bahwa yang tersaji di layar adalah makhluk hidup, bukan saling serang antar tokoh kartun. It looks cool, but nothing at stake there, no life. 

10 komentar :

  1. Mas Rasyid coba review Florence Foster Jenkins. Nonton pake headset alhasil jadi tuli :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. FFJ jalan ceritanya standar, tapi bagus di balancing komedi & heartwarming drama tentang passion. Menggelitik tapi nggak terkesan mengolok-olok si Florence. Aktingnya Streep juga mantap, bisa nyanyi "begitu" tanpa jatuh jadi parodi. Kasih 3.5/5 lah :D

      Hapus
  2. jadi bro,scra keseluruhan lebih bagusan ini atau film pertamanya..??!

    BalasHapus
  3. Jauh maksudnya "rugi nontonnya" atau " ga lucu kaya film pertama" ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jauh kualitasnya dibanding film pertama

      Hapus
  4. Setuju sama mas Rasyid... Biksu Tang ganti jadi kurang greget yg ini...
    Untungnya dialog receh yg ga berfaedah banyak diumbar... Always been a big fans of Chow's "mo lei tau" style...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah gaya mo lei tau itu butuh insting visual. Chow punya, & Hark kurang.

      Hapus
  5. Jd secara keseluruhan, unsur komedinya dapet gak Bang?

    BalasHapus