THE FOUNDER (2016)

7 komentar
Segala hal dalam hidup ini bisa dipandang melalui bermacam perspektif sehingga konsep benar-salah tak lagi sesederhana membedakan warna hitam dan putih. Akhirnya penghakiman tergantung pada hukum atau aturan atau budaya yang telah disepakati bersama. Begitu pun karakter Ray Kroc (Michael Keaton) dalam karya teranyar John Lee Hancock (The Blind Side, Saving Mr. Banks) ini. Tindakan akuisisi terhadap McDonald's jelas dianggap buruk secara moral. Ray bak kapitalis licik, serakah, tanpa perasaan. Namun ditinjau dari segi bisnis, langkah-langkahnya mencerminkan seorang ulung yang sukses membangun "kerajaan" yang sampai lebih dari satu dekade kemudian masih kuat mencengkeram dunia.

Semua berawal di tahun 1954 kala Ray masih seorang salesman alat pembuat milkshake. Keuntungannya tak seberapa meski cukup untuk hidup layak berdua bersama sang istri, Ethel (Laura Dern). Tapi Ray ingin lebih, mengedepankan kegigihan seperti yang sering dia dengar dari rekaman seorang motivator fiktif, Dr. Clarence Floyd Nelson. Sampai ia menemukan kesuksesan dua kakak beradik, Dick McDonald (Nick Offerman) dan Mac McDonald (John Carroll Lynch) membangun restoran bernama McDonald's dengan cara pelayanan revolusioner. Konsumen mendatangi counter, penyajian cepat, makanan dibungkus kertas alih-alih disajikan di atas piring dan nampan, serta suasana nyaman bagi keluarga, berbeda dibanding restoran drive-in yang menjamur kala itu di mana remaja berbondong-bondong mengumbar kemesraan.
Bertutur mengenai sosok gigih nan energik, John Lee Hancock pun mengemas adegan dengan semangat serupa, khususnya di paruh awal tatkala Dick dan Mac menjabarkan pada Ray cerita sukses mereka juga formula di baliknya. Hancock memastikan cerita memukau itu tak berakhir sebatas flashback selaku plot point penjelas sambil lalu. Penonton bakal dibuat terpaku seperti Ray, mendengarkan sambil terus dijaga atensinya berkat permainan intensitas ketat hasil tempo dinamis. Dick dan Mac menciptakan sistem pelayanan bernama "Speedee System", dan The Founder bergerak layaknya burger dalam sistem tersebut, cepat, padat, tetap rapi pula teratur.

Mencapai pertengahan, film bergerak menuju usaha Ray melebarkan sayap McDonald's dari restoran keluarga di kota kecil menjadi waralaba nasional yang menurutnya setara Gereja. Sebagaimana kita tahu titik kulminasi terletak pada tindakan Ray merebut McDonald's dari Dick dan Mac akibat merasa di bawah pimpinan kakak beradik itu  yang mengutamakan kekeluargaan ketimbang komersialitas  bisnis takkan berkembang pesat. Pertemuan dengan konsultan finansial bernama Harry Sonneborn (B. J. Novak) menyadarkan Ray bahwa ia bukan menggeluti bisnis burger, melainkan properti. The Founder pun mulai menyinggung ranah film ekonomi, yang berkat naskah Robert D. Siegel (The Wrestler, Turbo) mampu menjabarkan beberapa detail penting yang mudah dipahami walau mengandung istilah-istilah dunia ekonomi.
The Founder turut berusaha menyuguhkan drama personal Ray, memancing ironi sewaktu ia membangun McDonald's mengandalkan atmosfer kekeluargaan bahkan memakai pasangan suami istri muda nan harmonis supaya memancing konsumen, tapi dia sendiri mengesampingkan sang istri. Sayangnya, walaupun berguna mematenkan status Ray sebagai sosok egois luar biasa, paparan ini nihil emosi, sehambar pernikahan sang protagonis akibat dampak persoalannya lewat begitu saja. Penonton diminta bersimpati pada Ethel, namun begitu klimaks masalah menyerang, Ethel menghilang dari penceritaan. 

Apa yang memicu Ray "berjuang" sedemikian kuat? Benar ia didorong rekaman audio yang membentuk semua tindakannya dari awal (bukti naskahnya solid terstruktur perihal motivasi karakter), juga sindiran teman-temannya dari golf club, tapi lebih dari itu, ia adalah gambaran ketika semangat American Dream memacu individu mengerahkan seluruh daya upaya meraih keinginan meski itu berarti menghancurkan atau melukai orang lain. This is "a product" from, and made by America, and America only. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan Ray bahwa nama McDonald's merupakan kunci kesuksesan karena terdengar "sangat Amerika". 

Ray bukan sosok jenius dan tak menganggap penting kejeniusan. Faktanya dia kerap melakukan kesalahan. Beberapa poin kesuksesan McD terjadi berkat orang lain (awal penciptaan, peralihan dari bisnis burger ke properti, ide memakai milkshake bubuk). Adegan di toilet menjelang akhir (Hancock cerdik memanfaatkan cermin guna menampilkan ekspresi tiap tokoh sehingga tidak memerlukan banyak reaction shot) menegaskan status Ray Kroc sebagai seorang kejam minim nurani, villain sejati dari kubu kapitalisme bagi Amerika. Dan Keaton sungguh perwujudan "iblis kapitalis" tersebut. Bersenjatakan seringai dan gerak tubuh yang menyiratkan kengerian, seolah sepanjang karir Keaton adalah bentuk latihan untuk peran ini. Penonton tidak akan bersimpati pada Ray, namun perjalanannya sungguh mencengkeram atensi berkat sang aktor. Do I wanna eat at McDonald's again after this? I don't know, but one thing for sure about this movie: I'm lovin' it.

7 komentar :

  1. Do I wanna eat at McDonald's again after this? I don't know.. Ane blom nonton tp kl liat review nya jelas ini bukan film promosi malah kesannya memberikan kesan negatif.. Bgmn film ini bisa mendapat izin dr macd ya bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. McD rutin kontrol, tapi sutradara dinaungi First Amandement yang melindungi pemakaian brand untuk kepentingan seni

      Hapus
  2. Saya sudah nonton ini beberapa bulan lalu, memang akting keaton luar biasa, licik, sedikit sadis..yang unik ketika dia membuat layout dapur McD di lapangan kecil haha..
    dampak dari film ini adalah saya belum ke McD lagi hingga sekarang.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adegan lapangan tenis itu gila sih.
      Same here :)

      Hapus
  3. Anonim12:10 PM

    Good review, bro!

    BalasHapus
  4. Kalo saya kok justru lebih pro sama Ray ya... secara McD brothers IMO terlalu konservatif dan lamban dalam bisnis. Gampangnya Ray dibuat gregetan dgn aturan2 mereka yg justru membuat makna "mencari keuntungan" menjadi absurd.

    Btw... Good review Bro 😊👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, memang film ini seimbang kok, supaya tiap penonton bisa menentukan sisi mana yang lebih mereka "bela"
      :)

      Hapus

Related Posts with Thumbnails