Tampilkan postingan dengan label John Lee Hancock. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label John Lee Hancock. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE LITTLE THINGS

The Little Things bukan film yang bagus, terlepas dari usaha membangkitkan thriller bertema police procedural, yang pada medio 90an sempat marak mengisi layar lebar, dan kini malah jadi sajian alternatif di televisi melalui True Detective hingga Mindhunter. Ditambah saat lahir komparasi dengan Se7en (1995), yang notabene salah satu judul terbaik dari subgenre tersebut. Apakah ini satu dari sekian banyak copycat karya David Fincher itu patut diperdebatkan, mengingat draft pertamanya dibuat oleh John Lee Hancock (The Blind Side, Saving Mr. Banks, The Founder) pada 1993. Nama-nama seperti Steven Spielberg, Clint Eastwood, hingga Warren Beatty sempat dikaitkan, sebelum akhirnya kursi sutradara diisi oleh Hancock sendiri.

Di internet, saya banyak menemukan diskusi terkait ending film ini. Diramaikan oleh mereka yang mengklaim sebagai "penggemar Se7en", dan hampir semua mencuatkan pertanyaan, "Siapa pembunuh sebenarnya?". Padahal substansi mendasar Se7en bukan soal "siapa". Mungkin kelangkaan produk membuat penonton lupa akan esensi film berjenis ini. Sayangnya The Little Things tak cukup mumpuni untuk dapat mengembalikan ingatan itu, apalagi membangkitkan popularitas subgenrenya. 

Joe Deacon (Denzel Washington), wakil sheriff dari Kern County, ditugaskan menyambangi markas kepolisian Los Angeles, guna mengumpulkan barang bukti suatu kasus pembunuhan. Dahulu Deacon merupakan detektif di sana, sebelum dipindahkan akibat obsesi berlebih terhadap sebuah kasus. Disambutlah ia oleh detektif Jim Baxter (Rami Malek), yang mengajak Deacon ke TKP sebuah pembunuhan. Tidak butuh waktu lama bagi Deacon untuk menyadari, bahwa modus operandi si pelaku memiliki kemiripan dengan kasus yang dulu gagal ia pecahkan. 

Apa yang mengakibatkan The Little Things tampak inferior dibanding Se7en? Tidak usah dulu membahas subteks, karena yang paling terasa adalah perihal intensitas. Sekali lagi, Se7en bukanlah soal "siapa", dan modus operandi unik John Doe (Kevin Spacey) membuat penonton tidak menomorsatukan identitas pelaku, melainkan "kenapa". Investigasi berjalan menarik berkat lika-liku yang kaya, serta tidak terbatasnya posibilitas jawaban. 

Di sini, penyelidikan Deacon dan Baxter berlangsung membosankan, karena meski golnya bukan menerka identitas, naskah buatan Hancock gagal memancing ketertarikan penonton guna mencari tahu lebih dari itu, di tengah rangkaian prosedur yang entah sudah berapa ribu kali dimunculkan dalam film. Mayat pertama ditemukan. Diyakini, beberapa hari setelah melangsungkan aksinya, si pelaku kembali, hanya untuk mengubah posisi korban. Fakta berikutnya menyusul: seluruh korban adalah PSK. Kenapa? Diduga motifnya adalah pemuasan hasrat seksual. Titik. Tiada lagi misteri. 

Daya tarik baru meningkat begitu Albert Sparma (Jared Leto) muncul. Deacon dan Baxter yakin ialah sang pembunuh. Sosok Sparma memang seolah meneriakkan "I'm the weird pervert killer!". Lagi-lagi Leto tampil eksentrik. Matanya kosong, cara berjalannya aneh. Perangai yang sekali lagi bakal memunculkan pro-kontra, tapi bagi saya, kali ini keanehan Leto tepat guna. Sparma harus tampak creepy, dan ia menampilkan itu (nominasi Golden Globe dan SAG Awards melambungkan peluangnya di Oscar). 

Keeksentrikan Leto berpadu sempurna dengan Denzel Washington, yang selalu membuat saya percaya bahwa ia benar-benar merasakan apa yang karakternya rasakan, dalam penampilan yang mendefinisikan kompleksitas dari realisme. Di realita, saat seseorang marah, ia tidak melulu berteriak. Demikian pula Denzel. Dia sesekali tersenyum, tertawa, menekankan ironi dari kegetiran. Tidak banyak penampil sepertinya, yang sanggup menyulap "obrolan" dengan mayat (yang di atas kertas bagai pemaksaan dramatisasi konyol), menjadi perenungan menyakitkan, tentang tragedi saat remaja, yang semestinya berkesempatan menikmati masa-masa emas, malah kehilangan nyawa terlalu cepat.

Terkait akting, rasanya saya punya opini yang berbeda dengan kebanyakan penonton. Malek paling janggal. Di awal kemunculannya, Baxter cukup eksentrik, bak sosok berdarah dingin yang takkan mengejutkan bila akhirnya terungkap sebagai pembunuh sebenarnya (tenang, ini bukan spoiler). Barulah memasuki pertengahan durasi, ia menjadi lebih manusiawi. Belum tentu ini sepenuhnya kesalahan Malek. Bisa jadi, inilah intensi Hancock untuk memperkuat pesannya. Terkesan janggal akibat naskah yang lemah dalam mengeksplorasi proses psikis karakter, sehingga perubahannya terasa mendadak.

Pesan apa yang coba Hancock sampaikan? Sekali lagi, tidak jauh beda dengan Se7en, yakni sebuah nihilis, di mana dunia begitu kelam akibat "God is a long past giving shit". Seperti Morgan Freeman, Denzel melontarkan kalimat pesimistis, mengenai bagaimana investigasi polisi sekadar formalitas, alih-alih perjuangan memperbaiki keadaan. Sebaliknya, serupa Brad Pitt, Malek memerankan figur yang meyakini peluangnya mengangkangi kejahatan. Metode yang dipakai kedua film juga mirip, tatkala di pertengahan, duet diubah menjadi trio. Saat itulah si buruan memegang kendali atas pemburunya, menyeretnya ke dalam jurang tak berujung.

Dibarengi musik intens garapan Thomas Newman, babak ketiganya tersaji menegangkan, penuh penantian sekaligus harapan bahwa cahaya akan muncul. Tapi rupanya harapan itu semu. Itulah mengapa jangan mengharapkan kejelasan soal identitas sang pembunuh. Di dunia nihilis, tidak ada satu pun kepastian, selain kegelapan tanpa akhir.


Available on HBO MAX

THE FOUNDER (2016)

Segala hal dalam hidup ini bisa dipandang melalui bermacam perspektif sehingga konsep benar-salah tak lagi sesederhana membedakan warna hitam dan putih. Akhirnya penghakiman tergantung pada hukum atau aturan atau budaya yang telah disepakati bersama. Begitu pun karakter Ray Kroc (Michael Keaton) dalam karya teranyar John Lee Hancock (The Blind Side, Saving Mr. Banks) ini. Tindakan akuisisi terhadap McDonald's jelas dianggap buruk secara moral. Ray bak kapitalis licik, serakah, tanpa perasaan. Namun ditinjau dari segi bisnis, langkah-langkahnya mencerminkan seorang ulung yang sukses membangun "kerajaan" yang sampai lebih dari satu dekade kemudian masih kuat mencengkeram dunia.

Semua berawal di tahun 1954 kala Ray masih seorang salesman alat pembuat milkshake. Keuntungannya tak seberapa meski cukup untuk hidup layak berdua bersama sang istri, Ethel (Laura Dern). Tapi Ray ingin lebih, mengedepankan kegigihan seperti yang sering dia dengar dari rekaman seorang motivator fiktif, Dr. Clarence Floyd Nelson. Sampai ia menemukan kesuksesan dua kakak beradik, Dick McDonald (Nick Offerman) dan Mac McDonald (John Carroll Lynch) membangun restoran bernama McDonald's dengan cara pelayanan revolusioner. Konsumen mendatangi counter, penyajian cepat, makanan dibungkus kertas alih-alih disajikan di atas piring dan nampan, serta suasana nyaman bagi keluarga, berbeda dibanding restoran drive-in yang menjamur kala itu di mana remaja berbondong-bondong mengumbar kemesraan.
Bertutur mengenai sosok gigih nan energik, John Lee Hancock pun mengemas adegan dengan semangat serupa, khususnya di paruh awal tatkala Dick dan Mac menjabarkan pada Ray cerita sukses mereka juga formula di baliknya. Hancock memastikan cerita memukau itu tak berakhir sebatas flashback selaku plot point penjelas sambil lalu. Penonton bakal dibuat terpaku seperti Ray, mendengarkan sambil terus dijaga atensinya berkat permainan intensitas ketat hasil tempo dinamis. Dick dan Mac menciptakan sistem pelayanan bernama "Speedee System", dan The Founder bergerak layaknya burger dalam sistem tersebut, cepat, padat, tetap rapi pula teratur.

Mencapai pertengahan, film bergerak menuju usaha Ray melebarkan sayap McDonald's dari restoran keluarga di kota kecil menjadi waralaba nasional yang menurutnya setara Gereja. Sebagaimana kita tahu titik kulminasi terletak pada tindakan Ray merebut McDonald's dari Dick dan Mac akibat merasa di bawah pimpinan kakak beradik itu  yang mengutamakan kekeluargaan ketimbang komersialitas  bisnis takkan berkembang pesat. Pertemuan dengan konsultan finansial bernama Harry Sonneborn (B. J. Novak) menyadarkan Ray bahwa ia bukan menggeluti bisnis burger, melainkan properti. The Founder pun mulai menyinggung ranah film ekonomi, yang berkat naskah Robert D. Siegel (The Wrestler, Turbo) mampu menjabarkan beberapa detail penting yang mudah dipahami walau mengandung istilah-istilah dunia ekonomi.
The Founder turut berusaha menyuguhkan drama personal Ray, memancing ironi sewaktu ia membangun McDonald's mengandalkan atmosfer kekeluargaan bahkan memakai pasangan suami istri muda nan harmonis supaya memancing konsumen, tapi dia sendiri mengesampingkan sang istri. Sayangnya, walaupun berguna mematenkan status Ray sebagai sosok egois luar biasa, paparan ini nihil emosi, sehambar pernikahan sang protagonis akibat dampak persoalannya lewat begitu saja. Penonton diminta bersimpati pada Ethel, namun begitu klimaks masalah menyerang, Ethel menghilang dari penceritaan. 

Apa yang memicu Ray "berjuang" sedemikian kuat? Benar ia didorong rekaman audio yang membentuk semua tindakannya dari awal (bukti naskahnya solid terstruktur perihal motivasi karakter), juga sindiran teman-temannya dari golf club, tapi lebih dari itu, ia adalah gambaran ketika semangat American Dream memacu individu mengerahkan seluruh daya upaya meraih keinginan meski itu berarti menghancurkan atau melukai orang lain. This is "a product" from, and made by America, and America only. Hal ini ditegaskan oleh pernyataan Ray bahwa nama McDonald's merupakan kunci kesuksesan karena terdengar "sangat Amerika". 

Ray bukan sosok jenius dan tak menganggap penting kejeniusan. Faktanya dia kerap melakukan kesalahan. Beberapa poin kesuksesan McD terjadi berkat orang lain (awal penciptaan, peralihan dari bisnis burger ke properti, ide memakai milkshake bubuk). Adegan di toilet menjelang akhir (Hancock cerdik memanfaatkan cermin guna menampilkan ekspresi tiap tokoh sehingga tidak memerlukan banyak reaction shot) menegaskan status Ray Kroc sebagai seorang kejam minim nurani, villain sejati dari kubu kapitalisme bagi Amerika. Dan Keaton sungguh perwujudan "iblis kapitalis" tersebut. Bersenjatakan seringai dan gerak tubuh yang menyiratkan kengerian, seolah sepanjang karir Keaton adalah bentuk latihan untuk peran ini. Penonton tidak akan bersimpati pada Ray, namun perjalanannya sungguh mencengkeram atensi berkat sang aktor. Do I wanna eat at McDonald's again after this? I don't know, but one thing for sure about this movie: I'm lovin' it.