INGRID GOES WEST / MOTHER! / BEACH RATS

22 komentar
Kumpulan review pendek kali ini dibuka oleh Ingrid Goes West, satir mengenai kultur media sosial khususnya Instagram yang mestinya memantapkan posisi Aubrey Plaza di jajaran aktris kelas satu Hollywood. Pada Festival Film Sundance 2017, David Branson Smith dan Matt Spicer meraih Waldo Salt Screenwriting Award untuk naskah terbaik. Berikutnya Mother!, horor psikologis karya Darren Aronofsky yang membelah penonton menjadi dua kubu sekaligus menyulut kontroversi terkait alegori mengenai Alkitab. Terakhir ada Beach Rats, film bertema LGBT yang juga berjaya di Sundance, membawa Eliza Hittman meraih sutradara terbaik.

Ingrid Goes West (2017)
Budaya media sosial bukan saja telah menjamur, juga beracun. Nampak pada tingkah Ingrid (Aubrey Plaza) yang menguntit selebgram asal L.A., Taylor (Elizabeth Olsen), meniru caranya berpakaian, makanan favorit, sampai alat mandi. Ingrid serupa remaja sekarang yang rela memalsukan jati diri (baik literal maupun metaforikal) demi status dunia maya walau tanpa kehidupan dunia nyata. Arah alur mudah ditebak, tapi kekuatan utama film ini adalah observasi soal ragam perilaku destruktif pengguna media sosial, dari usaha mendaki kasta, stalking, hingga obsesi pendorong kesediaan meniru sang idola. Topik ini spesifik tapi relevan bagi tiap situasi juga era, bahkan sebelum Instagram merajalela. Selain setia bergaya canggung, Plaza membuktikan kapasitas memainkan nada serius, hebat dalam memaparkan fluktuasi emosi. Berkatnya, pengamatan kita menghasilkan dampak beragam, sesekali menaruh kasihan, kadang menertawakan, menikmati kala Ingrid kena batunya. Olsen sebaliknya, benderang, layaknya sosok ideal yang membuat orang ingin berteman bahkan menjadi dirinya. Titik rendah filmnya terletak di konklusi kurang tegas, ingin melanjutkan satir ke tataran lebih jauh atau mengusung pesan positif yang justru berujung justifikasi pada pihak yang disindir. (3.5/5)

Mother! (2017)
Melalui Mother!, Aronofosky tidak tertarik menyadarkan apalagi menginspirasi. Sepertinya fase itu sudah lama berlalu, menyisakan amarah yang menanti tercurah. Aronofosky marah pada banyak pihak, dari sikap semau sendiri dan ketidakpedulian manusia yang melukai Mother Nature (Jennifer Lawrence), pula representasi Tuhan dalam sosok Him (Javier Bardem) yang menurutnya tergila-gila akan puja-puji. Guna menuturkan interpretasi lepas dari Kitab Kejadian ini, pemakaian narasi konvensional memang sulit dilakukan, sehingga gaya metaforikal bersifat perlu, bukan pretensius. Meski bertebaran simbol, alur yang tetap mengikuti kaidah tiga babak (awal-tengah-akhir) memudahkan penonton menyusun keping teka-teki. Jangan khawatir daya tariknya hilang begitu tema besar terpecahkan, sebab Mother! masih menyimpan setumpuk absurditas selaku pelengkap detail cerita, dengan klimaks gila sebagai penegas bahwa kemampuan Aronofsky mengganggu batin penonton, yang tampak sejak awal karirnya, belum luntur. Aronofsky sukses menjahit rapi hikayat Alkitab versinya ke dalam konflik suami-istri yang masing-masing dapat berdiri sendiri. (4.5/5)

Beach Rats (2017)
Pencarian jati diri, konformitas, hubungan keluarga yang berjarak. Eliza Hittman menerapkan lika-liku dunia remaja itu dalam lingkup LGBT. Frankie (Harris Dickinson) rutin menghabiskan malam di depan komputer menelusuri gay chat room untuk mencari pria lebih tua. Meski demikian, dia enggan mengaku gay, punya pacar wanita walau sulit terangsang kala berhubungan seks, bersahabat, menghisap ganja bersama tiga kawan yang menganggap hubungan sesama jenis menggelikan pula menjijikkan. Bahwa remaja bersedia menyangkal identitas, menyesuaikan dengan "norma" agar diakui, jadi sorotan utama Hittman. Dickinson memberi ketenangan namun dinamis dalam bertukar kalimat. Performa ini selaras dengan "topeng" Frankie yang menyimpan dilema sembari ingin tampak "normal" di lingkungan sosial. Hélène Louvart memakai kamera 16mm, merangkai kelembutan malam minim cahaya, menghasilkan gambar-gambar yang menyokong perasaan karakternya. Sementara Hittman membungkus adegan seks melalui kelembutan serupa, meniadakan kesan vulgar murahan. Solid, tapi Beach Rats takkan bertahan lama di ingatan akibat ketiadaan pembeda dibanding drama indie low budget kebanyakan (visual stylish, slow burning). Terlebih penokohannya kurang mendalam, sebatas melayani peran masing-masing ("the distant mother", "the girlfriend", "the asshole homophobic friends") tanpa kepribadian menarik. (3.5/5)

22 komentar :

Comment Page:
Reza Deni Saputra mengatakan...

Aronofsky vakum cukup lama juga yee bang? Dugaan gue bisa jadi krn Noah yg entah kenapa, gak representasi dia banget dan Noah juga jadi karya terlemahnya Aronofsky. But it stil my assumption sih, wkwkwk.

Syamsuri Ahmad mengatakan...

Berharap Mohter! direview single post untuk melihat tanggapan bang rasyid lebih panjang dan lengkap. Terimakasih atas reviewnya, 4.5 is amazing!!

Rasyidharry mengatakan...

@Reza Selain akhir 2000-an, jarak filmnya Aronofsky emang lama lho. Black Swan ke Noah aja 4 tahun. Ngerasa Noah karya terlemah dia juga, tapi masih ada gaya dia kok, apalagi soal keberanian bikin sosok nabi jadi manusia biasa yang psikisnya bermasalah

@Syamsuri Pengennya full, tapi masih banyak daftar yang belum ditonton hehe

Lucass mengatakan...

Wuah berharapnya mother di review sendiri, krena saya sungguh butuh sdikit pencerahan setelah mnonton film nya, ngerti si tapi kek kurang paham gitu, dan mnurut saya bagus, entah kenapa waktu itu sempet baca di metascore dapet D- dari tanggapan pnonton, yg arrinya jelek bgt

Lucass mengatakan...

Batu kristal itu melambangkan buah apel yg dmakan ama adam dan hawa, trus yang kakak beradik itu ibaratkan kain dan habel, orang yg duduk di wastafel itu cerita nabi nuh, dan bayi yg lahir itu di alegorikan oleh mas Darren sebgai Yesus yg lahir trus dikorbankan oleh manusia, rumah mreka ibaratkan bumi yg diberi Tuhan lalu seenaknya dirusak oleh manusia sampai mengusik Mother Nature, dan terjadilah kebakaran diakhir yang menandakan kiamat.
Itu si mas menurut pendapat saya dan setelah membaca dari situs dalam dan luar negri lain, bagaimana?

Budi Nurdin mengatakan...

The joke in Ingrid Goes West very Aubrey Plaza-esque (awkward)........hehehe

Redo Anggara mengatakan...

Tapi saya suka sekali ending di Ingrid sangat menyentuh sekaligus tersentil..
Kalo 2 film lain nya blm sempat nonton entalah saya coba tonton juga 😊

Anonim mengatakan...

aku juga merekomendasikan film columbus(2017) untuk ditonton

Fajar Buyung mengatakan...

Una direview juga dong mas...bagus.

Wendi Burhan mengatakan...

Mother! Bisa menjadi bahan diskusi panjang yg mengasyikan bagi mereka yg mengerti mksd arnfski. Pesta pora penuh kegilaan. Lemes dengkul hayati bang..

Rasyidharry mengatakan...

@Lucas Cinemascore ya maksudnya? Dapet F malah. Wajar sih, penonton awam dikasih begini pasti banyak yang kesel. Nah, itu udah tepat kok, mana nih yang butuh pencerahan? :D

@Budi Lha dia interview talk show aja awkward haha

@Redo At least tonton Mother! deh, you're gonna love it or hate it :)

@Wendi Bisa jadi bahan diskusi lebih panjang kalau di poster & interview nggak dibocorin maknanya. Sayang banget

Zak Bim mengatakan...

Pertama, saya ingin bilang kalau saya sangat kecewa berat sama bang Radit karena permintaan review Mother! dari saya dipoligami seperti ini! LOL
SPOILER!
Saya nonton mother sampai dua kali karena saking serunya dan saya baru dapet maknanya setelah baca review situs lain! Jadi begini pemahaman saya :
1. Javier/Him direpresentasikan sebagai Pujangga (Tuhan). (Kredit di akhir film petunjuk banget!)
2. JLaw/ Mother direpresentasikan sebagai alam dan rumah adalah bumi.
3. Harris direpresentasikan sebagai Adam. Semua jelas saat punggung di tulang rusuknya terluka untuk menciptakan Hawa.
4. Freifer direpresentasikan sebagai Hama.
5. Batu permata adalah buah khuldi.
6. Dua putra mereka Qabih dan Habil, mereka berkelahi hingga Habil meninggal.
7. Masalah mulai mencekam setelah Pujangga mempublish mahakarya piusinya (Kitab suci) karena semua orang/fansnya menafsirkannya dengan pemahaman masing-masing yang berbeda hingga membuat manusia jadi terkotak-kotak, ironisnya tujuan mereka cuman satu ingin lebih dekat dengan "Pujangga"
8. Anak JLaw adalah Isa/Yesus yang dikorbankan.
Intinya saya paham bahwa yang menyebabkan kehancuran bumi itu diakibatkan ulah manusia itu sendiri. Di film kita diberi teguran dengan banjir yang sering terjadi karena mengindahkan peringatan alam (Adegan westafel rusak yang menyebabkan pipa bocor).
BTW saya muslim dan jujur saya anggap ini hiburan yang bisa diterima karena pesannya kuat! Meski saya yakin bagi orang yang fanatik beragama dan punya pemikiran yang tidak terbuka tentu saja film ini akan dihujat habis-habisan karena memang sangat bertentangan sih (Tuhan kok bisa ML). Terlebih Indonesia.
Saya sacara iseng menyuruh teman saya nonton film ini tanpa ngasih petunjuk, saya tahu banget dia fanatik dan sangat anti (tak mau nonton) film Amerika yang menceritakan tentang Nabi/Tuhan atau apalah itu dengan versi mereka. Dia tertipu dan menganggap film ini tentang suami yang menjadi ketua sekte sesat yang mengorbankan sang istri, dia nggak nyadar makna Tuhan dan Alam di film ini, tapi pas selesai nonton file film langsung dia hapus juga sih. Cuman saya puas banget ketika menceritakan makna sebenarnya dibalik film dan alhasil dia sangat sangat sangat jengkel. Hehehehehe

h3nQ mengatakan...

setuju 4,5 buat Mother! bikin mengernyitkan dahi..hihi

Kevin Jonathan mengatakan...

bang the punisher di netflix gimana tanggapannya

Rasyidharry mengatakan...

@Zak Saya juga kecewa karena nama saya diubah jadi Radit haha. Satu hal paling berani yang Aronofsky lakukan di sini ya penggambaran Tuhan sebagai pembohong, gila puja-puji dan sadis. By the way keputusan kasih tonton film ini ke orang fanatik juga nggak kalah berani dan layak diapresiasi haha

@Kevin Baru nonton 2 episode. Rada prematur buat menilai, tapi so far salah satu tv series Marvel/Netflix yang terbaik

Lucass mengatakan...

@kevin @Rasyid, bagus banget kok bang the punisher series, motif sama pendalaman setiap karakter nya kuat (yang bertentangan dgn militer) dan 3 seri terakhir sangat memuaskan, dan sangatt tinggi dalam level kesadisan berdarahnya, sangat realis sampai sempat sedikit memalingkan kepala dari layar, wajib ntn sii

Kevin Jonathan mengatakan...

ada rencana buat bikin reviewnya bang?

Rasyidharry mengatakan...

@Lucass Hal terbaik di beberapa episode awal sih karakternya. Kelam, kompleks, tapi nggak kelewat depresif sampai nyebelin macam Matt akhir-akhir ini atau Danny.

@Kevin Sepertinya nggak. Paling kalau niat bikin list

Febrian Prisley mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Heru Pramono mengatakan...

Gue nonton Mother! dan menikmatinya walaupun mesti googling dulu biar tau maksudnya. BTW, ada nggak ya orang yang nonton Mother! tapi langsung tau kalau itu metafora dari The Bible (tanpa googling)?

Rasyidharry mengatakan...

@Heru Kalau udah hafal gaya Aronofsky, dari sebelum nonton mungkin tahu bakal nyambung ke Bible. Sisanya tinggal susun puzzle

Christopher Soumokil mengatakan...

Gua rasa mksud dr adegan yg Tuhan ML itu sih alegory dr yesus sendiri. Dimana maria mengandung tanpa di buahi. Dan kita tau bayi yg dikandung dr maria itu anugerah dr tuhan. Ada adegan waktu Him mau ngambil bayinya dr mother. Him bilang i'm his father. Mother nyaut but I'm his mother!