THE ILLUSIONIST (2010)

Tidak ada komentar

Rasa sedih dan kesunyian yang menusuk secara perlahan. Itulah yang saya rasakan saat menonton film animasi buatan Prancis ini. "The Illusionist" adalah film animasi karya sutradara Sylvain Chomet yang mendapatkan nominasi "Best Animated Feature Film" di Oscar 2011 lalu. Ditengah gempuran animasi 3D dan CGI, film ini lebih memilih menggunakan teknik animasi tradisional. Nyatanya hal itu tidaklah mengurangi kualitas filmnya, tapi justru malah sesuai dengan tema dan nuansa yang ingin ditampilkan sehingga lebih mampu membawa perasaan penonton. Ceritanya sendiri diadaptasi dari sebuah naskah yang belum diterbitkan karya aktor sekaligus komedian asal Prancis, Jacques Tati. Isi cerita itu bisa dibilang semi-biografi dari kehidupan Tati yang mana menggambarkan sebuah "curahan cinta" Tati kepada sang putri yang tidak terlalu dekat dengannya karena kesibukan Tati.

Tatischeff (Jean-Claude Donda) adalah seorang ilusionis yang sudah tua usia. Kehidupannya sebagai seorang ilusionis kini tidaklah mudah. Pertunjukkannya yang bisa dibilang termasuk kategori "ilusionis tradisional" kini tidak lagi terlalu diminati orang yang lebih suka datang menonton pertunjukkan musik rock. Hal itulah yang membuat Tatischeff mau saja menerima tawaran main di sebuah kota kecil di Skotlandia dimana penontonnya hanyalah segelintir komunitas tertentu. Tapi diluar dugaan mereka menyukai pertunjukkan Tatischeff. Tatischeff sendiri sudah lama tidak merasakan bagaimana kesenangan setelah sukses dalam sebuah pertunjukkan. Disanalah dia bertemu dengan seorang gadis pelayan bar bernama Alice (Eilidh Rankin).


Alice sangat mengaguim kemampuan ilusi Tatischeff. Bahkan dia mengira semua ilusi itu adalah sebuah kenyataan dan menganggap Tatischeff mampu memunculkan dan melakukan apapun dengan kemampuannya itu. Rasa kagum itu berujung dengan Alice mengikuti Tatischeff dalam perjalanannya menuju Edinburgh. Mulai dari situlah mereka tinggal bersama. Alice yang merupakan gadis polos dan menginginkan segala kemewahan kota menganggap Tatischeff mampu mengabulkan segala permintaannya dengan mudah. Memang Tatischeff sendiri terus mengabulkan keinginannya tapi itu semua setelah melewati usaha-usaha keras.

Nyaris tidak ada dialog sepanjang 76 menit film ini berjalan. Memang ada beberapa runtut kalimat menggunakan bahasa Inggris, Prancis sampai bahasa Gaelic. Tapi itu muncul dengan sangat sedikit. Kesan yang muncul dengan minimnya dialog adalah bertambahnya kegalauan dan kesedihan yang sunyi saat menonton film ini. Apalagi ditambah dengan iringan musik sendu yang makin menguatkan perasaan itu. Kemuraman juga terpampang dari gambar yang ditampilkan. Animasi tradisional dan ditambah pilihan warna yang sedikit muram memang pas. Apalagi film ini memang mengangkat kisah orang-orang yang berjuang lewat hal sederhana melawan segala arus modernisasi.

Jalinan cerita film ini jelas bukan konsumsi anak-anak. Kisahnya yang muram dan lambat akan lebih mengena untuk penonton usia remaja dan dewasa. Kita akan diajak melihat hubungan unik Tatischeff dan Alice. Tatischeff menuruti segala kemauan Alice layaknya putrinya sendiri. Dari situ saja kita sudah akan dibuat terenyuh dengan segala usaha keras Tatischeff. Bahkan dia sampai rela mencari tambahan pekerjaan disamping sebagai ilusionis supaya tetap bisa memenuhi keinginan Alice. Kita sendiri tidak bisa begitu saja menganggap Alice hanya ingin mendapatkan kesenangan dari Tatischeff. Kita akan maklum karena kita tahu Alice adalah gadis polos yang hanya tahu bahwa seorang ilusionis bagaikan penyihir bahkan mungkin Tuhan yang mampu mengabulkan semua keinginannya. Dan sampai diakhir cerita dimana keduanya memeutuskan jalan hidupnya masing-masing dan membawa kita pada suasanya yang makin sunyi, sedih, namun dibalik itu semua ada kedamaian yang terselip.

OVERALL: Film animasi dengan kisah yang dewasa memang jarang ada. Dan 'The Illusionist" mampu memberikan jalinan kisah dewasa yang menyentuh dipadukan dengan teknik animasi tradisional yang mendukung jalinan kisahnya.

RATING:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar