SANCTUM (2011)

Tidak ada komentar

Sangat jelas terlihat bahwa film ini lebih mengandalkan nama James Cameron selaku eksekutif produser. Dengan memajang namanya, diharapkan penonton akan antusias menonton film ini yang tentunya akan "meminjam" teknologi 3D dari Cameron. Hal itu sangat terasa apabila kita melihat poster filmnuya yang hanya memajang nama Cameron selaku eksekutif produser. Bahkan, saking menggantungkan promosi dengan nama James Cameron dan teknologi 3D-nya, film ini nyaris tidak memajang nama tenar baik di kursi sutradara maupun jajaran pemainnya. Sutradara Aliester Grierson adalah sutradara yang sebelum film ini baru membuat satu buah film di tahun 2006 berjudul "Kokoda". Sedangkan dari deretan pemain, hanya Richard Roxburgh (Mission: Impossible II, Moulin Rouge) dan Ioan Gruffudd (Pemeran Reed Richards di Fantastic Four).

"Sanctum" bercerita tentang sebuah eksplorasi gua bawah laut yang dilakukan di Esa'ala Cave yang terletak di Papua Nugini oleh tim yang dipimpin oleh Frank (Richard Roxburgh). Saat ini tim tersebut sudah cukup dalam mengeksplorasi gua tersebut. Disis lain, Josh (Rhys Wakefield), anak dari Frank yang tidak akrab dengan sang ayah dan sering melawan perintahnya datang ke tempat itu bersama Carl (Ioan Gruffudd) yang merupakan penyandang dana kegiatan ini. Carl juga mengajak kekasihnya Victoria (Alice Parkinson).
Kedatangan mereka yang awalnya bertujuan untuk mencari ketegangan dan ikut serta dalam ekspedisi ini mulai berubah menjadi tegang saat salah satu tim, Judes (Allison Cratchley) yang tewas kehabisan udara karena tabung oksigen miliknya rusak. Keadaan menjadi memburuk saat hujan besar dan badai melanda daerah tersebut. Hal itu membuat air meluap dan mulai membanjiri gua tersebut. Para tim dan orang-orang yang masih terjebak didalam tidak lagi mempunyai jalan keluar selain melanjutkan penyelaman ke dasar gua sambil berharap mampu mencapai pantai.

Film ini terinspirasi dari kisah nyata tentang Andrew Wright yang sempat terjebak di Esa'ala Cave salama 2 hari bersama 14 orang lain. Film ini mengadaptasi kisah tersebut tanpa memberikan tambahan hal lain guna menambah tensi ketegangan seperti memberikan makhluk aneh bawah laut. Praktis guna membangun ketegangan, film ini hanya mengandalkan keganasan alam gua tersebut yang siap merenggut nyawa orang-orang didalamnya. Sebenarnya apabila dimaksimalkan, hal itu saja sudah cukup untuk membangun tensi keteganga. Tapi ternyata sang sutradara tidak mampu memberikan ketegangan sesuai yang diharapkan. Alur ketegangan film ini tidak pernah bisa mencapai titik tertinggi. Ada beberapa momen disaat ketegangan mulai meningkat tapi kemudian dengan cepat langsung turun drastis dan kembali datar. Premis film ini padam dasarnya mengingatkan saya pada "The Descent". Bedanya, "The Descent" mampu memaksimalkan kengerian alam dan menambahkannya dengan gangguan makhluk buas yang tidak kalah seram.

Salah satu kunci sebuah film model survival macam ini untuk membangun ketegangan selain memaksimalkan setting lokasi adalah dengan membuat karakter yang ada menarik simpati penonton. Dan "Sanctum" gagal menghadirkan karakter macam itu. Guna membangun konflik antar karakter, film ini lebih memilih melakukan pendekatan yang sangat dangkal. Yaitu dengan menciptakan karakter pemancing masalah untuk menciptakan konflik. Resikonya, karakter bertipe tersebut tidak akan memancing simpati, bahkan penonton tidak jarang mengharapkan mereka mati. Sekarang kita lihat, dari 6 karakter yang terjebak di gua, bagi saya 2 diantaranya adalah karakter tempelan yang tidak akan dipedulikan mati atau hidup. Sedangkan 2 lagi yaitu Clark dan kekasihnya Alicia adalah karakter menyebalkan yang saya sendiri tidak berharap mereka selamat. Seharusnya, karakter ayah-anak antara Frank dan Josh bisa menciptakan simpati itu. Tapi sayangnya Rhys Wakefield gagal berakting baik untuk membuat karakternya dipedulikan. Richard Roxburgh sebagai Frank justru cukup saya suka. Walaupun bermulut pedas, tapi semua kata-katanya memang benar dan menunjukkan bahwa survival bukanlah tempat bagi orang manja.

Akhirnya saya tahu, kenapa film ini begitu mengandalkan James Cameron dalam promosinya. Hal itu disebabkan, teknologi yang Cameron "pinjamkan" untuk film ini menjadi keunggulan terbesar yang membuat "Sanctum" tidak terperosok makin jauh. Saya memang tidak melihat versi 3D film ini, tapi dalam memberikan pemandangan gua bawah laut film ini mampu menyuguhkannya dengan mendetil dan memberikan keindahan tersendiri. Lokasi yang sangat detail ini sendiri dibangun menggunakan teknik yang mirip dengan teknik yang dipakai James Cameron saat menyutradarai "The Abyss" yaitu menggunakan tanki air raksasa yang terletak di Queensland, Australia untuk setting bawah lautnya.

OVERALL: Film ini berhasil dengan sangat baik menampilkan visualisasi gua bawah laut dan setting perairan didalamnya namun gagal dalam membangun ketegangan yang seharusnya jadi poin utama film survival.

RATING:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar