SANG PENARI (2011)

4 komentar
Walaupun belum pernah membacanya, saya yakin semua orang sudah tahu tentang novel trilogi "Ronggeng Dukuh Paruk" yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Tahun ini untuk ketiga kalinya novel tersebut diadaptasi dalam sebuah film setelah sebelumnya film "Dara" dan "Mahkota Ronggeng" yang muncul. Film ini disutradari oleh Ifa Isfansyah yang dulu angkat nama lewat "Garuda di Dadaku" serta dibintangi Oka Antara, Slamet rahardjo, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi, serta Prisia Nasution yang sering wara-wiri di FTV milik SCTV. Ber-setting di tahun 60-an di Dukuh Paruk yang merupakan desa yang miskin, Srintil (Prisia Nasution) bercita-cita menjadi seorang ronggeng. Selain karena kagum dan suka akan tarian, Srintil juga ingin memperbaiki nama orang tuanya yang tercoreng setelah dahulu menyebabkan ronggeng sebelumnya tewas keracunan tempe bongkrek buatan mereka.

Sementara itu, Rasus (Oka Antara) yang juga adalah teman Srintil sejak kecil tidak menyukai keinginannya untuk menjadi seorang ronggeng yang akan membuat tubuh Srintil bisa dinikmati pria manapun layaknya pohon kelapa yang bisa dipanjat siapapun seenaknya. Keduanya juga sebenarnya saling mencintai. Tapi karena keinginannya yang kuat, Rasus terpaksa merelakan Srintil menjadi seorang ronggeng yang dengan cepat menjadi idola dan pujaan di kampungnya dan tentu saja membuat banyak lelaki mau membayar tinggi untuk bisa berubungan badan dengan sang ronggeng. FYI, bisa tidur dengan ronggeng adalah kebanggaan bahkan istri-istri disana ikut berharap suaminya bisa berhubungan badan dengan ronggeng karena bisa membawa rejeki. Rasus sendiri akhirnya memilih meninggalkan Dukuh Paruk dan menjadi tentara. Cinta keduanya mulai terpisah dan kembali dipertemukan dalam kondisi yang tidak menyenangkan.
Seharusnya film inilah yang maju ke Academy Awards tahun depan sebagai wakil Indonesia. Bagus? Iya. Apakah menggambarkan adat dan kebudayaan Indonesia? Iya.Ceritanya berfokus pada kondisi sosial masyarakat Dukuh paruk khususnya mengenai adat dan kehidupan seorang Ronggeng. Sungguh ironis bahwa seorang ronggeng yang disebut punya derajat paling tinggi diantara wanita lain disana justru tubuhnya bisa dinikmati oleh banyak pria dengan bayaran mahal. Meskipun begitu film ini tidak sampai terjerumus menjadi film yang lebih menjurus kearah sensual karena meskipun ada beberapa adegan dewasa, penyajiannya masih bisa dibilang sopan dan kalau boleh dibilang elegan. Unsur politik yang menggambarkan kejadian G-30S PKI juga disajikan dengan baik dimana tidak sekalipun nama PKI disebut. Yah, memang baik penggambaran adegan dewasa yang lebih vulgar ataupun penyinggungan isu politik yang terlalu dalam bisa membuat film ini kena potong sana-sini oleh LSF yang (sori) tidak penting itu.
Pengemasan adegannya juga memuaskan dan banyak menampilkan gambar-gambar yang bagus. Scene dimana Srintil sedang menari juga menarik ditonton, khususnya saat debutnya sebagai ronggeng yang membuat saya cukup merinding. Tentunya itu tidak akan berhasil andai Prisia Nasution tidak berakting dengan baik. Tidak hanya akting, dia juga mampu menggambarkan kemampuan ronggeng yang jago tari dengan baik. Keberanian Prisia beradegan tanpa busana juga patut diacungi jempol karena adegan telanjang miliknya bukanlah adegan murahan. Sementara lawan mainnya, Oka Antara malah lebih hebat lagi. Dia mampu melakukan apa yang pemain lain di film ini tidak bisa lakukan yakni menguasai logat ngapak dengan baik. Sebagai orang yang besar dengan logat tersebut saya merasa logat yang dia ucapkan sangat bagus untuk ukuran orang yang tidak menggunakan logat itu di kesehariannya. Sayangnya hal itu tidak ditiru oleh aktor lain yang mayoritas hanya menggunakan Bahasa Indoensia yang agak di Jawa-kan seperti yang Lukman Sardi lakukan. Oka juga mampu bertransformasi dari pemuda lugu mejadi tentara yang gagah dengan baik meskipun karakterisasinya terlalu cepat berubah secara drastis. Penggunaan logat tersebut juga memberikan kedekatan dan rasa personal tersendiri bagi saya sehingga membuat "Sang Penari" terasa lebih intim.

Sayang "Sang Penari" memiliki sebuah kekurangan yang cukup berasa yaitu bagaimana penyampaian film ini terhadap kisahnya yang terkadang terlalu terburu-buru dan beranggapan bahwa semua penontonnya sudah pernah membaca "Ronggeng Dukuh Paruk" dan memahami isinya. Tidak adanya penjelasan dan penggarapan ayng terburu-buru di beberapa adegan membuat penonton harus berpikir keras untuk mencerna adegan-adegan yang seharusnya tidak membutuhkan pemikiran keras. Tapi secara keseluruhan "Sang Penari" adalah film yang bagus dan yang terbagus untuk film lokal di 2011 ini. Seharusnya inilah wakil kita diajang Oscar tahun depan.

RATING:

4 komentar :

Comment Page:
Someone mengatakan...

wah,kayanya beneran bagus nih. di kota saya udah abis sih:( cepet banget. film-film gini kayanya krng bnyk penggemarnya.

Rasyidharry mengatakan...

Sayang banget emang pastinya tersingkirkan sama Breaking Dawn

Sejarah Arsitektur II mengatakan...

Bagus sekali reviewnya.

kartika metafisika mengatakan...

Filmnys bagus...akting srintil dan rasus jg seimbang..settingnya jg alami tidak dibuat2...harusnya film ini masuk nominasi best foreign movie untuk oscar