50/50 (2011)

3 komentar
Film yang bercerita tentang penyakit parah yang diderita sang tokoh utama biasanya akan dibuat untuk menguras air mata penonton aliase tearjerker. Caranya adalah dengan mendramatisasi ceritanya atau mungkin membuat karakternya seolah menjadi orang paling sial di muka Bumi dan akan membuatnya sangat loyal dalam menangis. Tapi dalam film yang ceritanya berbasis dari kisah hidup Will Reiser yang juga bertindak selaku penulis naskah ini tidak ada yang namanya dramatisasi berlebihan dan eksploitasi mengenai nasib sang penderita penyakit dalam menghadapi fase dimana dia kemungkinan akan meninggal dunia. Tapi dalam 50/50 kita bukannya diajak menangisi hal-hal tersebut tapi justru mengajak kita untuk memandang segala hal positif yang sebenarnya selalu muncul dalam tiap cobaan hidup.

Adam Learner (Joseph Gordon-Levitt) baru saja didiagnosa menderita kanker sumsum tulang belakang. Tentu saja hal tersebut sangat memukul Adam yang baru berusia 27 tahun. Tentu saja sangat berat bagi orang semuda itu menghadapi kenyataan bahwa kemungkinannya bertahan hidup hanyalah 50%. Tapi Adam tidak serta merta langsung menangisi nasibnya dan putus asa untuk melanjutkan hidup. Dia masih menjalani kemo dengan semangat. Di sekeliling Adam juga ada kerabat yang selalu mendukungnya seperti Kyle (Seth Rogen) yang merupakan sahabat Adam. Adam juga memiliki seorang pacar yang cantik dan bekerja sebagai pelukis bernama Rachael (Bryce Dallas Howard). Dukungan juga tentunya datang dari sang ibu (Anjelica Huston) yang selama ini juga harus mengurus sang suami yang menderita alzheimer.. Dukungan juga datang dari seorang therapist pemula bernama Katie (Anna Kendrick) yang meskipun sangat terlihat kurang berpengalaman tapi tidak pernah menyerah memberikan dukungan pada Adam meski kadang dukungan itu tidak ditanggapi dengan baik oleh sang klien.
Seperti yang sudah saya bilang diatas, daripada mengajak kita meratapi nasib Adam dalam tangisan, kita lebih diajak melihat berbagai hal positif yang muncul dalam kehidupan Adam selama dia berjuang melawan kanker. Kedekatannya dengan kedua orang tuanya yang dari awal diperliahtkan Adam tidak terlalu suka berkomunikasi dengan mereka lambat laun mulai berubah saat Adam mulai menyadari bahwa sebenarnya hal yang tidak dia sukai dari mereka khususnya sang ibu adalah bentuk kasih sayang orang tua pada anaknya. Kita juga beberapa kali akan diajak melihat nasib Adam yang menderita kanker mematikan dari berbagai sudut yang lebih positif. Ada adegan Adam berjalan di Rumah Sakit dalam kondisi nge-fly lalu meliaht berbagai pemandangan yang menyedihkan seperti kematian dan dia menanggapi berbagai hal itu dengan tawa. Kita memang akan diajak beberap kali diajak untuk mentertawakan nasib buruk itu dalam balutan komedi yang tidak hanya asal membuat tertawa tapi juga meninggalkan renungan dalam tawa ataupun senyum kita tersebut.
Memang film ini tidak mengumbar dramatisasi kesedihan yang berlebih tapi bukan berarti tidak ada momen mengharukan yang bisa membuat air mata menetes. Justru cukup banyak adegan seperti itu khususnya saat film mendekati akhir hanya saja cara sutradara Jonathan Levine dan naskah dari Will Reiser menyampaikan momen tersebut tidaklah berlebihan. Misalnya saja adegan Adam yang mulai frustasi menjelang operasi bersama Kyle, lalu disusul saat Adam mengantar Kyle pulang dan mendapati ternyata sang sahabat memperhatikan nasibnya, itu buat saya adalah rentetan adegan yang luar biasa menyentuh. Belum lagi adegan tepat sebelum Adam melakukan operasi dan berinteraksi dengan kedua orang tuanya dimana sang ibu terlihat khawatir dan sebaliknya sang ayah yang menderita alzheimer tidak mengerti apa yang akan dihadapi oleh anaknya. Disitulah air mata saya akhirnya benar-benar tumpah.

Semua karakter dalam film ini sangat mudah disukai oleh penontonnya dan dimainkan dengan baik oleh aktor dan aktrisnya. Adam jelas akan mendapat simapti yang sangat besar dan akan jadi karakter yang mudah dicintai penonton. Joseph Gordon-Levitt sendiri berakting dengan baik disini. Momen saat dia frustasi didalam mobil Kyle adalah momen terbaiknya yang memperlihatkan sisi manusia dari seorang Adam. Totalitasnya juga patut diacungi jempol dimana dia benar-benar membotaki kepalanya disini. Nampaknya Gordon-Levitt memang selalu memunculkan karakter yang mudah saya sukai setelah karakter Tom Hansen. Katie yang dimainkan Anna Kendrick juga sama. Dia tidak pernah menyerah menanggapi setiap omongan pedas dari Adam. Dia tidak pernah mengeluh dan hanya coba memperbaiki dirinya terus menerus. Satu lagi karakter wanita adalah Rachael yang dimainkan Bryce Dallas Howard. Memang kita akan diperlihatkan bahwa dia melakukan kesalahan terhadap Adam tapi disaat dia mendapat balasannya kita akan memaafkannya dan mulai bersimpati juga pada nasibnya. 

Diluar dugaan Seth Rogen tidak menjadi karakter yang menyebalkan seperti biasanya. Awalnya saya takut dia akan merusak kualitas film ini dengan sifat menyebalkan dan candaan menjurus kearah seks yang jadi andalannya. Tapi toh ternyata disini dia tidaklah seperti itu. Memang hal-hal tersebut tetap muncul tapi masih dalam taraf yang bisa dimaafkan bahkan cenderung pas konteksnya dalam film ini. Lama kelamaan kita justru akan bersimpati juga pada Kyle yang selalu setia membantu Adam dengan caranya sendiri dan selalu menyemangati sahbatnya tersebut. Sayangnya ada satu momen yang melibatkan Adam dan Kyle yang saya tidak sukai yaitu saat mereka mulai membakar dan merusaki lukisan buatan Rachael. Saya masih merasa mereka terlalu jahat pada Rachael yang sudah terlihat sangat menyesali perbuatannya. Toh saya juga langsung ingat bahwa Adam juga dalam kondisi nyaris meninggal dan saya memaklumi dia bersikap seperti itu saat merasa ada yang mengkhianati dirinya. Begitulah, 50/50 memang adalah salah satu film terbaik tahun ini yang dilain pihak sangat positif tapi disisi lain mampu membuat saya tersentuh dan menitikkan air mata.

RATING:

3 komentar :

  1. benny20009:12 AM

    hanya duduk manis sambil nonton ini film..hehehe kalo bolywood yg bikin pasti lebih nyentuh sedihnya...film ini bisa ditebak dan dangkal so..biasa aja..dan sedihnya begitu aja.. kadang membingungkan ini film apa komedi ato sedih..skenario juga lemah sehingga film ini kayak ada yg kurang dan sedikit hambar

    BalasHapus
  2. Nah bagi saya justru itu menariknya 50/50. Biasanya film tentang kanker dibikin menye-menye, kalo 50/50 justru nggak ngikutin pakem itu dan berusaha "mentertawakan" nasib buruk tokohnya yg bikin filmnya buat saya lebih menyentuh :)

    BalasHapus
  3. Setuju sama bang rasyid. Film yg gambarin kehidupan sebenarnya. FILM YG GAK CRNGENG :-D

    BalasHapus