MEMORIES OF MURDER (2003)

26 komentar
Makin banyak saja film Korea dengan genre crime-misteri yang saya tonton beberapa waktu belakangan. Dari semua film itu saya tidak pernah dikecewakan sekalipun. Meski begitu setelah beberapa banyak film yang saya tonton, saya mulai ragu bisa mendapatkan perasaan terpuaskan luar biasa seperti saat menonton I Saw the Devil maupun Oldboy. Bukan berarti film lainnya jelek, tapi saya rasa akan sangat susah bahkan saya sempat merasa tidak mungkin lagi bisa begitu terpuaskan dalam menonton film misteri dari Korea apabila dalam pikiran saya selalu membandingkan dengan kedua film luar biasa tersebut. Karena itulah saya sempat beralih menonton film-film Kim Ki-duk yang lebih kearah arthouse drama. Tapi ternyata ada salah satu kepingan kisah misteri Korea yang saya lewatkan, yaitu karya dari sutradara Bong Joon-ho (The Host, Mother) ini. Hanya dirilis beberapa bulan sebelum Oldboy ternyata Memories of Murder juga punya kualitas yang tidak berada dibawah film tersebut. Fakta yang membuktikan bahwa 2003 adalah tahun yang luar biasa bagi perfilman Korea Selatan.

Pada tahun 1986 di Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan terjadi kasus pembunuhan disertai pemerkosaan secara berantai. Penyelidikan menunjukkan ada beberapa kesamaan dalam korban yang ditemukan, yaitu sama-sama wanita muda, memakai baju merah dan selalu dibunuh pada saat malam hujan. Untuk menyelesaikan kasus tersebut ditunjuklah seorang detektif lokal bernama Park Doo-man (Song Kang-ho) dan seorang detektif dari Seoul bernama Seo Tae-Yoon (Kim Sang-kyung). Keduanya adalah detektif yang sangat bertolak belakang baik dari sifat maupun teknik investigasi. Park Doo-man adalah orang yang sangat emosional, sok tahu dan tidak pernah patuh pada prosedur. Daripada mencari bukti ia lebih memilih menghajar tersangkan supaya ia mau mengaku. Sedangkan Seo Tae-yoon adalah detektif yang lebih kalem, mengutamakan penyelidikan dan sangat percaya pada dokumen dan sesuai prosedur. Dengan cara masing-masing mereka berusaha menangkap pembunuh sebenarnya, tapi selalu berujung pada kegagalan meski banyak tersangka yang dicurigai. Petunjuk yang minim, muncul banyak msiteri baru dan berbagai halangan lain membuat penyelidikan makin rumit dan korban terus saja berjatuhan.
Sebuah film misteri yang bagus akan membuat penontonnya tenggelam dalam misteri tersebut, ikut memikirkannya sepanjang film, bahkan terus memikirkan dan membicarakannya setelah film itu berakhir. Memories of Murder masuk dalam kategori tersebut. Pemaparan kasus beserta penyelidikan dalam film ini sangat menarik. Kisahnya membuat penonton ikut berpikir tentang fakta sebenarnya dari berbagai petunjuka yang ada. Tapi setiap penonton mulai menarik jawaban atas kasus tersebut, muncul lagi msiteri baru yang membuyarkan jawaban tersebut. Tiap ada satu jawaban muncul juga satu pertanyaan. Begitu terus dan membuat tensi film ini selalu terjaga walaupun durasinya lebih dari dua jam. Tapi tentu saja jika hanya itu yang diandalkan untuk menjaga tensi pastinya akan terasa membosankan. Tapi film ini masih punya jurus lain untuk membuat kisahnya selalu menarik. Di sela investigasi yang menuntut otak,  ada juga momen menegangkan macam sebuah adegan kejar-kejaran yang begitu intens, adegan perkelahian yang muncul akibat sisi depresif yang mulai muncul dari masing-masing karakternya, bahkan ada juga beberapa momen yang menampilkan selipan humor segar khususnya dari tokoh Park Doo-man yang diperankan dengan amat baik oelh Song Kang-ho. Momen komedik dia jago, momen drama dia luar biasa. Tatapan matanya di akhir film bisa jadi salah satu bukti kedalaman aktingnya.

Kunci utama keberhasilan Memories of Murder jadi begitu luar biasa adalah bagaimana film ini mampu membuat penontonnya "terlibat" didalamnya. Yah, saya mampu dibuat berpikir akan misterinya, perasaan tegang, gregetan juga benar-benar terasa saat menonton film ini. Sebuah adegan saat seorang tokohnya tertabrak kereta mampu membuat saya gregetan dan akhirnya berteriak seperti saat menonton sepakbola dan muncul momen sebuah peluang emas yang terbuang. Benar-benar film yang mampu mengaduk-aduk perasaan penontonnya. Karakternya yang kuat juga turut membangun intensitas filmnya. Begitu terlihat perubahan sikap masing-masing tokohnya seiring dengan kasus yang tidak kunjung tuntas. Bagaimana rasa depresi dan kesal mampu menguasai seseorang sehingga merubah sifat dasar mereka. Pada akhirnya memang film ini diakhiri dengan ketidak pastian dan penuh perasaan ambigu dan terserah masing-masing penonton mau menarik kesimpulan seperti apa. Tapi bagi saya inilah jalan terbaik mengakhiri kisah luar biasa ini. Sebuah ending yang begitu indah visualnya, namun begitu mencekik perasaan saya dan menciptakan rasa miris atau puas entah apa karena itu tak tergambarkan. Tidak berlebihan kata-kata saya jika anda sudah menontonnya sendiri. Sebuah akhir yang luar biasa dari sebuah film luar biasa yang saya harap tidak pernah berakhir karena begitu bagusnya.

26 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

berarti ini ga beda jauh dong sama i saw the devil?

Rasyidharry mengatakan...

Persamaannya sama I Saw the Devil tu sama-sama ada unsur crime-nya. Kalo ceritanya sih beda. Memories of Murder gak pake ada unsur revenge gitu :)

Anonim mengatakan...

jauhhhhhhhhhhhh banget ma i saw the devil ato the chaser yang bener2 memuaskan n menerangkan isi film secara kseluruhan (judul ama film sinkron), ni film amburadul banget, ga jelas awal ma akhir, jangan nonton film ini deh buang2 waktu, twist ending paling konyol. memories of murder = 3 menit terakhir.

Anonim mengatakan...

lu g ngerti film sih, makanya ngomong gitu. ini best crime ever made! ya jelas beda sama the chaser apalagi i saw the devil lah. 2 film itu murni thriller, kalo Memories of murder itu suspense. bahkan film sebagus ZODIAK hollywood menurut gue sedikit nyontekni film

complicated life mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
winniesajida mengatakan...

bisa review filmya barunya Kim Sang Kyung yang judulnya Montage ga? dia disitu jadi detektif juga. kemaren saya udah nonton sih, tapi pengen liat aja reviewnya

Rasyidharry mengatakan...

Masuk daftar tonton :)

ustad omen'Z mengatakan...

ini yang di documen yang dari amerika itu ada nama park hyung kyu siapa itu, n kenapa c'detektif dari seoul Seo Tae-Yoon, itu kaya kaget gt pas baca bukti dari amerika itu. apakah penjahatnya berkepribadian ganda, yang nota bene adalah orang yang sudah mereka kenal

adii Sufiansyah mengatakan...

film ini menceritakan kegagalan polisi menghentikan kejahatan yg berpotensi terjadi berulang ulang di depan matanya.. pemahaman film gw memang ga seruwet kaum diatas.. tapi film ini gw kasih nilai 5 dari 10

Saeni Nasalog mengatakan...

Masih jauh lebih baik i saw the devil...

Lomar Odom mengatakan...

Karakter 2 detektif nya mirip sama karakter 2 detektif di film se7en (1995)

kang rae soo mengatakan...

Yg mau sy tnyain itu jd pmbnhnya siapa? Apakh Mr. Park si pria yg mmlki tangn halus sprti wanita? Tp tes mani dn DNA Mr. Park invalid..
Aah mmbingungkn nih endingnya...

Rasyidharry mengatakan...

Filmnya nggak pernah ngasih tahu pembunuhnya siapa dan dibiarin kayak gitu. Kayak yang si cewek bilang di ending, muka orang yang mungkin pembunuhnya itu "biasa banget' alias hampir siapa saja bisa jadi pembunuhnya. Esensi filmnya sih kurang lebih "siapapun bisa jadi pembunuh & nggak semua misteri harus terpecahkan" :)

software tanah air mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Robby Aldiansyah mengatakan...

film nya bagus seru eh ending nya kentang wkkwkk

Rasyidharry mengatakan...

Kentang? It's one of the greatest ending of all time :)

Unknown mengatakan...

Saya setuju dgn penulis. Memories of murder memang setara dgn Old Boy bahkan penilaian saya lbh bagus sedikit dr pd I Saw the Devil. Saya lbh suka endingnya dibuat spt itu, dimata sang detektif spt mau blg "Damn, i can catch the murder, but i have no chance anymore", misterinya dpt bgt. Memang judulnya sesuai stlh ending tsb, tp apalah arti sebuah judul. Yang paling berkesan bagi saya adalah pengaturan konflik cerita n perubahan psikologis masing2 karakter yg sangat memungkinkan terjadi.

Zildjian Geraldo mengatakan...

Di ending si anak cewek bilang ciri" orangnya "ordinary". Gw jg keinget kl gk salah ada yg mukanya ordinary jg, tp lupa siapa. Tp ngomong", knpa kasus pembunuh yg face to face antara pelaku dan korban bisa jdi sesulit itu utk di cari? Apalgi korban di beri ciri khas sprti. Pembunuhnya bukanlah phsyco yg mayatnya di hilangkan tanpa jejak. Melainkan di tempat terbuka. Seenggaknya knpa mereka gk coba pake anjing pelacak? Atw mncoba melakukan penjebakan. Menurut gw, film ini terlalu fokus ke penyeledikan aja.

Rasyidharry mengatakan...

Karena bisa jadi pembunuhnya si detektif juga. Dan bener, film ini emang fokus ke penyelidikan, ke proses, bukan ke hasil. Karena misteri yang bagus lebih baik dibiarkan tetap jadi misteri di audience :)

Sandy Juliadi mengatakan...

gak sampe klimaks..... gak seru. enakan the accidental detective

Dar Jamilah mengatakan...

Justru keren banget nih film, simple but seru dan tetep bikin penasaran smpe ending. Ini baru film mystery (y)

Danang Aji Tamtomo mengatakan...

Memories of murder kan udah jelas yang based on true story. Endingnya kaya gitu ya memang kenyataanya sampe sekarang pelakunya belom ditemuin, dan bahkan sekarang statusnya udah jadi statute of limitations atau bisa disebut kasus yang udah basi

Awang Prastowo mengatakan...

intinye ente beda pandangan ame kite2 yg menilai film memories of murderers adalah film bagus.

Ini film misteri, jadi di dalemnye ada pertanyaan yang harus dijawab oleh penontonnya terutama.

Ente gak nyampe untuk nonton yg beginian jd ente nilai gak bagus.

3 menit terakir BUKAN KONYOL...disitulah penonton diharuskan berfikir keras untuk jawaban siape pembunuhnye...Ini namanya film interaktif, bisa mengajak orang untuk ikut berfikir mencari jawabannye.

Kelas ente tuh bangsanye film rambo 1, 2, 3, 4 nonton aje ampe abis trus ente kasih bintang 5 tuh di situs yg ente jadiin tempat tontonan.

Hehehehe...piss....slanker

Erwin Sanz mengatakan...

Membandingkan I Saw the Devil / Old Boy dengan MoM jelas tidak tepat.. kesamaan mereka hanya karena sama2 dr Korea dan sama2 memainkan perasaan penonton..
Hampir sama dengan pecinta tinju disuruh lihat sepakbola pasti akan bosan. Di sepakbola lari sini lari sana, tendang bola bolak balik.. ujung2nya belum tentu ada goal. Bukan berarti bola lebih buruk dr tinju. Semua tergantung selera saja.
Rating saya 7.5/10

Renhard mengatakan...

Klo penjebakan udah pernah dilakukan..si polisi cewek nyamar pake baju merah norak kerah putih...tapi gak kepancing pembunuhnya..

Ketimunterampil Mavijuniro mengatakan...

Baru nnton filmnya, ane speechless dengan karya tersebut, bagi ane komentar rasyhidarry amat menjawab, "karena sebuah misteri yg bagus lebih baik dibiarkan untuk tetap menjadi misteri", nice gan