REVIEW - NA WILLA

Tidak ada komentar

Na Willa adalah film anak yang enggan menafsirkan kepolosan karakternya sebagai kebodohan, sebagaimana kerap dilakukan banyak sineas dewasa. Adaptasi novel karya Reda Gaudiamo ini menyalakan lentera yang menerangi ruang-ruang gelap tempat ingatan masa kecil tersimpan, terlupa, terkunci di balik realita manusia dewasa yang penuh durjana. 

Kisahnya mengambil latar tahun 1968, tatkala komunikasi jarak jauh masih dilakukan via surat, sedangkan para bocah menghibur diri mereka dengan bermain di luar sebab teknologi yang paling mendekati gawai modern adalah radio. Hari Na Willa (Luisa Adreena) pun berpendaran bersama imajinasi serta obrolan-obrolan yang kelak bakal membentuk kenangan.  

Desain produksi dan tata kostumnya cantik, berhiaskan warna-warni yang merepresentasikan dunia imajinatif tokoh utamanya tanpa harus secara berlebihan menentang realisme. Di dunia semacam itulah Na Willa hidup. Dia tinggal bersama Mak (Irma Novita Rihi), sementara Pak (Junior Liem) jarang di rumah akibat bekerja di bidang pelayaran. 

Melalui naskah episodik buatan sang sutradara, Ryan Adriandhy, Na Willa memaparkan penceritaan slice of life yang memotret rutinitas protagonisnya. Na Willa bermain bersama tiga sahabatnya, Bud (Ibrahim Arsenio), Dul (Azamy Syauqi), dan Farida (Freya Mikhayla); ikut Mak ke pasar sembari menikmati soda dingin pemberian Cik Mien (Melissa Karim); atau sekadar berkeliaran di rumah, lalu menemukan hal-hal baru bagi anak seumurannya, semisal tentang bentuk-bentuk obeng. 

Naskahnya sungguh memahami pola pikir anak, karena Ryan bukan berpura-pura atau memaksakan diri menjadi mereka, melainkan benar-benar menggali jiwa kekanakannya. Ryan ingat rasa nyaman kala memasukkan tangan ke dalam tumpukan kacang hijau, atau bagaimana dahulu, debu yang beterbangan dari kasur nampak bak gemerlap bintang-bintang. Di mata film ini, masa kecil kaya akan seni menikmati kehidupan. 

Na Willa merupakan pertunjukan sutradara yang memegang kendali penuh atas detail artistik. Seperti bocah saat disuguhi sekotak penuh mainan, Ryan mengutak-atik ragam hal, mulai dari departemen visual yang dimotori eksplorasi warna di tata kostum dan dekorasi, gerak kamera kreatif, juga barisan adegan imajinatif. 

Sewaktu Na Willa membaca surat dari Pak, seketika latarnya bertransformasi jadi seperti panggung teater yang mementaskan isi surat tersebut. Di lain kesempatan, saat Na Willa menjenguk seorang teman di rumah sakit pasca kecelakaan yang sekilas membawa si bocah mengintip wajah kelam realita, filmnya menyelipkan elemen musikal bermodalkan lagu catchy dengan lirik menggelitik, yang memandang tragedi sebagai komedi. 

Demikianlah cara Na Willa melihat dunia. Mungkin karena itu pula, Ira Wibowo memerankan Nyonya Chang, salah seorang kenalan yang mengagumi kecerdasan Na Willa, dengan mengenakan wig pirang serta aksen bule yang terdengar konyol. Sekilas terasa mengganggu, tapi mungkin begitulah Nyonya Chang di mata Na Willa. 

Penjahat ala film kartun tidak dibutuhkan untuk membuat filmnya lebih seru. Dunia anak punya keseruannya sendiri, di mana konflik terbesar adalah rasa sepi Na Willa ketika teman-temannya mulai bersekolah, sedangkan ia terpaksa diam di rumah karena Mak merasa mampu mengajari putrinya membaca sendiri. 

Luisa Adreena tampil meyakinkan, dengan tangisan yang bisa terdengar memilukan, pula senyum lebar dan mata berbinar yang menyadarkan betapa luar biasanya hal-hal sederhana di sekitar kita bagi anak-anak. Irma Novita pun begitu hebat dalam menghidupkan figur ibu disiplin, yang mampu melontarkan amarah tanpa terkesan kasar, juga patut dijadikan contoh tapi tak luput dari kesalahan. 

Karakter Mak dipakai Ryan sebagai medium belajar penonton dewasa. Sehingga tatkala filmnya mengutarakan pesan soal larangan berbohong bagi anak, kita pun diingatkan agar mempraktikkan ajaran tersebut. Na Willa bukan cuma kisah tentang tumbuh kembang anak, juga peran penting orang dewasa, baik di rumah maupun sekolah. Sebab tanpanya, bagaimana bisa anak berevolusi menjadi kupu-kupu cantik yang siap terbang tinggi di alam yang tak jarang suram?

Tidak ada komentar :

Comment Page: