THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN - PART 2

2 komentar
Seri terakhir dari Twilight Saga ini sudah ditunggu-tunggu oleh berbagai pihak. Baik itu oleh para Twi-hard yang tentunya sangat menantikan akhir dari franchise film pujaan mereka ini ataupun oleh para Twi-haters yang sangat antusias menantikan berakhirnya saga ini karena bagi mereka mimpi buruk akan segera berakhir. Tanpa peduli berbagai komentar yang pro dan kontra tersebut saya tetap mengikuti saga ini hingga seri terakhirnya. Seperti yang saya tulis di artikel ini, Twilight adalah salah satu film yang paling berpengaruh pada perjalanan saya sebagai penikmat film. Film pertamanya sendiri bagi saya cukup menghibur, meski pada akhirnya New Moon saya akui adalah sebuah tontonan membosankan yang begitu buruk. Untungnya Eclipse mengalami peningkatan dan pada akhirnya datanglah Bill Condon yang menyuguhkan Breaking Dawn: Part 1 yang meski banyak dicaci kritikus bagi saya pribadi adalah film terbaik dari saga ini. Untuk film penutupnya yang masih digarap oleh Bill Condon ini sendiri banyak disebut sebagai bagian terbaik dari Twilight Saga dan disebut sebagai sebuah penutup yang pantas terhadap franchise berumur empat tahun yang sampai artikel ini ditulis total sudah mengumpulkan pendapatan diatas $3 Milyar dengan total bujet kelima filmnya yang tidak sampai menyentuh angka $400 Juta!

Kisahnya melanjutkan ending dari bagian pertama dimana Bella kini sudah bertransformasi menjadi vampir dan harus mulai membiasakan diri dalam kehidupan barunya sebagai makhluk abadi. Tapi bukan hanya itu yang harus ia hadapi, karena berbagai hal mengejutkan lain sudah menantinya, dimana salah satunya adalah saat Bella harus mengetahui fakta bahwa puteri yang baru saja dilahirkannya, Renesmee ternyata sudah di-"imprint" oleh Jacob. Namun dibalik segala konflik tersebut, Edward, Bella dan keluarga Cullen kembali dihantui oleh para Volturi. Kali ini masalah dengan Volturi dipicu oleh pelaporan salah seorang kerabat Cullen terhadap Volturi mengenai keberadaan Renesmee. Volturi tidak bisa menerima keberadaan Renesmee yang mereka kira adalah makhluk abadi alias vampir murni, dimana selama ini mereka selalu memusnahan vampir anak-anak yang dianggap tidak bisa menyimpan rahasia keberadaan mereka. Tentu saja keluarga Cullen tidak membiarkan hal ini, karena sebenarnya Renesmee adalah separuh manusia dan separuh vampir. Maka dimulailah perjalanan mereka untuk mengumpulkan kerabat sesama vampir dari seluruh dunia untuk menjadi saksi atas hal ini.

Ini adalah Twilight Saga, jadi sudah pasti kita akan menemukan adegan Edward bicara dengan Bella tentang berbagai macam hal romantis yang akan terasa membosankan dibanding terasa romantis. Seperti biasa momen drama yang ditampilkan oleh film ini terasa menggelikan dan tidak pernah terasa menyentuh akibat barisan dialog cheesy yang buruk itu. Tapi untungnya Breaking Dawn: Part 2 dirangkum secara lebih padat dan tdak terasa kepanjangan seperti film-film sebelumnya. Durasinya hanya 116 menit, dimana itu adalah yang terpendek dibandingkan film-film Twilight Saga lainnya. Filmnya dimulai dengan tempo yang cukup lambat dan penuh basa-basi tapi sekali lagi jika saya harus membandingkan dengan film-film sebelumnya, Breaking Dawn: Part 2 punya basa-basi yang paling sedikit dan lebih straight to the point. Konflik demi konflik yang ada sayangnya tidak terlalu digali dan bagaikan sebuah tempelan untuk mengantarkan kita pada konflik utama dengan Volturi yang menjadi klimaks film ini. Konflik antara Bella dengan ayahnya, konflik Bella dalam menghadapi kehidupan barunya sebagai vampir sekaligus seorang ibu yang mempunyai anak spesial, sampai kisah cinta antara Jacob dan Renesmee yang jika dikritisi lagi sebenarnya bisa menyinggung isu pedofilia tidak ada yang terlalu digali lebih jauh.
Selain kurang tergali saya juga merasa pemaparan satu konflik dengan konflik yang lain tidak terasa seperti satu kesatuan yang utuh. Untungnya saya masih tetap bisa menikmati konflik demi konflik yang seolah berjalan terpisah tersebut. Bicara soal konflik dan klimaks, saya sendiri sudah membaca novel Breaking Dawn sebelum film Eclipse dirilis. Pada saat itu saya merasakan bahwa novel Breaking Dawn punya kisah dan karakterisasi yang cukup menarik dimana akan ada berbagai macam vampir baru yang punya kemampuan dan keunikan yang dimunculkan dalam kisahnya. Untuk filmnya sendiri porsi para vampir baru tersebut tidak terlalu mendalam, namun cukuplah memberikan variasi, apalagi melihat berbagai kemampuan para vampir baru tersebut yang cukup unik. Yang paling saya khawatirkan adalah klimaksnya. Jika pada bagian pertama Bill Condon sukses menjadikan proses persalinan Bella menjadi sebuah klimaks yang cukup menarik, maka di bagian kedua ini ia sukses memberikan sebuah klimaks yang bagi saya tidak hanya menjadi klimaks film ini saja tapi juga klimaks bagi keseluruhan saga Twilight. Awalnya saya khawatir, karena klimaks dan ending dari novel Breaking Dawn bagi saya sangatlah anti-klimaks. Setelah segala hal yang dibangun menuju klimaks, segalanya selesai dengan begitu mudah dan cepatnya.

Namun dengan cukup berani Bill Condon dan Melissa Rosenberg selaku penulis naskahnya merombak bagian klimaks dan ending-nya tanpa harus merubah cerita dan konklusi yang ditawarkan oleh novelnya. Saya sendiri sempat mengira Bill Condon merubah akhir filmnya sampai akhirnya twist tersebut muncul. Sebuah keputusan yang tepat untuk merombak klimaks film ini, karena pada akhirnya Breaking Dawn: Part 2 mempunyai sebuah klimaks berupa pertempuran epic antara keluarga Cullen yang dibantu oleh beberapa vampir lain dan para serigala dengan Volturi. Akhirnya kita juga akan menemukan adegan sadis nan berdarah dalam Twilight Saga, dimana akan banyak darah mengalir dan kepala terlepas disini, yang menandakan akan ada banyak kematian. Bukan sebuah gore yang bisa dikatakan gila memang, namun saya tidak pernah mengira akan melihat ini dalam Twilight Saga. Sedari opening saya sudah merasakan sedikit nuansa kelam dan horror didalamnya. Penonton yang biasanya akan disodori dengan iringan musik dan gambar romantis sebagai pembuka film Twilight akan mendapatkan hal yang sedikit berbeda disini. Bicara soal klimaksnya saya harus mengakui bahwa saya dibuat cukup tegang dan bisa dibilang masih shock dengan twist yang muncul tersebut. Bukan sebuah twist paling cerdas, namun kemunculan sebuah kejutan dan klimaks yang menegangkan dalam sebuah film Twilight membuatnya menjadi terasa lebih spesial.

Dengan bujet mencapai $120 Juta yang merupakan jumlah terbanyak dalam franchise ini, ternyata Breaking Dawn: Part 2 terkesan menyia-nyiakan bujet besar tersebut. Berbagai efek visual CGI yang ditampilkan begitu buruk dan sama menggelikannya dengan dialog yang ada dalam naskahnya. Yang paling menggelikan tentunya efek saat para vampir bergerak cepat yang terkesan bagaikan sebuah film murahan dengan bujet dibawah 20 juta. Bicara soal hal menggelikan lainnya, biasanya dalam film-film Twilight salah satu hal lain yang paling dikritisi adalah soal akting ketiga pemain utamanya yang dianggap sanagt buruk. Saya sendiri selalu merasa bahwa Pattinson dan Stewart adalah aktor dan aktris yang punya potensi hanya terhalang karakterisasi dangkal saja. Sedangkan Taylor Lautner harus diakui memang buruk. Untuk film ini, Pattinson dan Stewart mendapat porsi yang lebih untuk memberikan variasi emosi terhadap karakternya. Saya sendiri merasa Edward dan Bella dalam film ini lebih bisa dinikmati, khususnya Bella. Sedangkan Taylor Lautner masih tetap buruk meski sudah cukup layak untuk ditonton. Pada akhirnya ini adalah sebuah kado perpisahan yang pas bagi para Twi-hard (meski masih ada kemungkinan sekuel, reboot, ataupun adaptasi serial televisi). Sebuah sequence di akhir pastinya akan memberikan romantika dan kenangan indah tersendiri bagi para penggemar franchise ini. Secara keseluruhan filmnya sendiri tidak terlalu spesial dan masih begitu banyak kekurangan, tapi harus diakui beberapa kelebihan kecil serta klimaks dan twist pada ending-nya mampu membuat saya terhibur.

2 komentar :

  1. keren sih penulisannya, tapi yang baca jadi males, muter2, dan ga pake bahasa indonesia yang benar... memaksakan kosa kata yang akhirnya diulang berkali2, artikel ini jadi kayak ajang unjuk diri, unjuk kemampuan menulis...

    just my 2 cents

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe makasih buat masukannya, saya sendiri memang masih mencoba belajar tentang cara penulisan yang baik & benar. Tapi sama sekali tidak ada maksud unjuk diri atau kemampuan, tulisan2 saya di blog ini hanya sekedar curahan perasaan setelah menonton sebuah film

      :)

      Hapus