TO THE WONDER (2012)

5 komentar
Cukup aneh seorang Terrence Malick hanya membutuhkan waktu setahun untuk membuat film setelah sebelumnya jarak terpendek antara filmnya adalah lima tahun. Bahkan ia pernah absen selama 20 tahun setelah membuat Days of Heaven. Namun semenjak The Tree of Life sang sutradara sepertinya menjadi "rajin" dan mulai melakukan pembuatan beberapa film bahkan ada yang dibuat secara back-to-back. Kabarnya setelah The Tree of Life, Malick sedang membuat tiga film, yakni To the Wonder, sebuah film tanpa judul yang dibintangi Ryan Gosling, Christian Bale dan Michael Fassbender (sebelumnya berjudul Lawless) serta Knight of Cups yang juga dibintangi Christian Bale. Parade film Malick diawali oleh To the Wonder yang dibintangi Ben Affleck, Olga Kurylenko, Rachel McAdams serta Javier Bardem. Sedari awal proyek Malick yan satu ini sudah menarik perhatian saya. Mulai dari cerita para pemainnya yang menuturkan bahwa proses syuting dilakukan tanpa memakai naskah dan seperti biasa begitu bergantung pada peran Malick di ruang editing. Kemudian saat trailer penuh pertamanya dirilis saya langsung dibuat jatuh cinta dengan segala keindahan visual serta scoring megah yang ada. Untuk pertama kalinya ada sebuah trailer yang membuat saya meneteskan air mata karena keindahannya. Film ini juga dikenal sebagai film terakhir yang di-review oleh Roger Ebert sebelum meninggal.

To the Wonder berkisah tentang hubungan sepasang kekasih, yaitu seorang pria Amerika bernama Neil (Ben Affleck) dan wanita Prancis bernama Marina (Olga Kurylenko). Keduanya bertemu saat Neil sedang berada di Prancis dan mulai saling jatuh cinta. Marina sendiri sudah mempunyai seorang puteri hasil dari pernikahannya dengan seorang pria yang akhirnya malah meninggalkan Marina demi mengejar wanita lain. Akhirnya Neil dan Marina memutuskan untuk tinggal bersama di Amerika yang menjadi rumah Neil. Bersama sang puteri juga, Marina mulai menjalani kehidupan baru di sebuah tempat yang baru bersama pria yang ia cintai. Namun hubungan keduanya tidak selalu berjalan mulus. Bahkan ada suatu momen disaat Marina kembali ke Paris disaat visa miliknya expired dan meninggalkan Neil sendiri di Amerika. Pada saat itulah Neil kembali bertemu dengan Jane (Rachel McAdams) yang merupakan kekasihnya di masa lalu. Keduanya pun mulai merasakan kembali rasa cinta yang sempat mereka rasakan dahulu. Disisi lain ada cerita tentang Father Quintana (Javier Bardem), seorang pendeta yang tengah mengalami krisis kepercayaan dan merasa bahwa Jesus bagaikan mantan kekasih dan cintanya dari masa lalu.

Tidak perlu diragukan bahwa To the Wonder juga merupakan film Malick yang mempunyai rasa seorang Terrence Malick. Ada begitu banyak gambar-gambar indah yang menghiasi film ini. Kelebihan Malick dalam menghantarkan visual indah adalah dia mampu menghadirkan keindahan tersebut tidak hanya pada adegan-adegan tertentu melainkan pada hampir tiap adegan. Dalam To the Wonder, adegan yang begitu sederhana dengan hanya menampilkan salah satu karakternya berdiri ataupun meratap bisa menjadi sebuah adegan dengan keindahan visual yang luar biasa. Malick memang mampu mengarahkan para pemainnya supaya mereka bisa menyatu dengan keindahan yang coba ia sajikan. Karakter yang terasa begitu indah dalam film Malick biasanya adalah karakter utama. Saya ingat bagaimana Jessica Chastain dan Q'Orianka Kilcher menari-nari dengan begitu indahnya dalam The Tree of Life dan The New World. Disini Olga Kurylenko juga melakukan hal yang sama. Malick nampak begitu mengagumi keindahan wanita hingga penggambaran sosok wanita dalam tiap filmnya tidak terkecuali To the Wonder terasa begitu canti nan indah layaknya malaikat. Tidak hanya itu, disaat menampilkan suasana karakter yang dirundung kesepian ataupun kesedihan, keindahan visual film inipun turut berperan besar dalam memperkuat suasana. Lihat disaat Father Quintana merasa begitu sepi dan kehilangan arah, saya bisa ikut merasakan bagaimana keindahan yang begitu ia rindukan hadir dalam hidupnya. Malick mampu menampilkan momen kehilangan terhadap keindahan dengan indah pula.
Sekali lagi saya merasa perlu memuji bagaimana keindahan visual yang ditampilkan di film ini. Keputusan Malick untuk tidak menggunakan cahaya buatan dan memilih memaksimalkan sinar matahari sebagai lighting memang ikut berperan. Film Malick adalah film yang mengagungkan perasaan termasuk juga mother nature. Oleh karena itu tidak hanya pencahayaan yang berasal dari alam namun juga gambar-gambarnya seringkali hanya menampilkan alam saja. Tapi bagi saya hal tersebut justru makin memperkuat rasa keindahan yang coba dibangun. Begitu juga pergerakan kamera yang dinamis dan tidak terpaku pada shot standar makin membuat sisi visual film ini sempurna. Namun diluar kehebatan aspek visualnya, banyak pihak yang mengkritisi narasi yang ditampilkan oleh To the Wonder. Banyak yang menganggap karakter yang ada tidak dikembangkan dengan baik dan narasinya dirasa terlalu kosong hingga filmnya tidak mempunyai emosi yang kuat. Saya setuju dengan pernyataan bahwa jika dibandingkan dengan film lain yang mengutamakan plot dan karakterisasi maka To the Wonder begitu kosong dan terkesan tidak jelas mau berjalan kearah mana. Sekilas memang film ini terasa tidak punya pegangan dan bagaikan melayang-layang tanpa tujuan. Tapi setelah saya menonton film ini untuk kedua kalinya saya mulai merasakan hal yang lain.

To the Wonder bagaikan sebuah representasi dari perasaan manusia disaat mereka menjalani hubungan asmara. Bagaimana rasa cinta bisa muncul begitu saja tanpa diduga lalu kemudian perlahan mulai meredup saat hubungan tengah memasuki masa yang sulit. Atau bagaimana disaat hubungan seseorang sedang redup lalu kemudian masuk pihak lain yang mengisi perasaan tersebut meskipun hanya sesaat. Segala momen yang berada dalam To the Wonder memang terasa tanpa motif yang pasti, bahkan disaat tiba-tiba sosok Jane hanya muncul sekilas untuk kemudian kembali menghilang. Sekali lagi saya merasa ini dikarenakan To the Wonder memang bukanlah sebuah film yang menyoroti hubungan sebab-akibat dalam sebuah plot cerita tapi lebih kepada alunan perasaan di dalam diri seseorang tanpa mempedulikan apa sebenarnya pengaruh dari eksternal yang datang. Namun bagi saya yang patut disayangkan adalah kemunculan Jane yang terlalu cepat dan hanya sekilas. Padahal kemunculan karakternya bisa digunakan untuk memicu konflik perasaan yang lebih kompleks lagi. Namun lagi-lagi nampaknya kuasa Malick di ruang editing berperan besar dalam minimnya kemunculan karakter yang dimainkan Rachel McAdams tersebut.

Begitu juga dengan kemunculan sosok Father Quintana yang sedang mengalami krisis kepercayaan. Bagi saya dia adalah perlambang yang serupa dengan bagaimana disaat karakter lainnya sedang merasakan kesepian dan kesedihan saat kehilangan rasa cinta dan sedang berada di dalam kegundahan. Quintana sendiri adalah seorang Pendeta yang selalu berbicara tentang cinta pada jemaatnya, namun ia sendiri merasakan kesepian dan tanpa cinta. Cinta yang ia cari adalah cinta pada Tuhan dan hubungannya dengan Tuhan tempat ia mengabdi. Kata-kata yang ia ucapkan pada jemaatnya di Gereja seolah menggambarkan Jesus sebagai "mantan kekasihnya". Dia merasa pernah begitu mencintai Jesus namun kini ia meragukan perasaan tersebut yang mulai berubah menjadi keraguan. Sosoknya adalah perlambang terhadap pencarian makna dari rasa cinta itu sendiri. Secara keseluruhan To the Wonder tidak sebagus dan "sebesar" film-film Malick yang pernah saya tonton sebelumnya dan jelas dibawah ekspektasi yang saya pasang setelah menonton trailer-nya. Pengemasan narasi yang ia lakukan memang tidak mudah untuk diikuti apalagi dinikmati. Tapi bagi saya film ini adalah sebuah presentasi yang personal dari Terrence Malick sekaligus indah baik dari visual, dialog maupun emosi dari bagaimana manusia mencari makna dari rasa cinta dan menjalaninya.


5 komentar :

Comment Page:
Nitya Swastika mengatakan...

halo!
boleh tukar link blog?
saya baru di movie review blog
blog saya membahas film sebelum tahun 2000
http://lessthan2000.blogspot.com/
salam kenal dan terima kasih :)

Rasyidharry mengatakan...

Siip salam kenal juga, link udah terpasang:)

Nitya Swastika mengatakan...

terima kasih :)

Anggita Mega Mentari mengatakan...

entah kenapa aku nonton film ini ngerasa bingung, be honest di mataku agak enggak jelas mas

Rasyidharry mengatakan...

Intinya sih ini cuma beberapa kisah cinta biasa aja, tapi cara berceritanya yang emang bisa bikin bingung