V/H/S/2 (2013)

Tidak ada komentar
Hanya butuh waktu setahun semenjak V/H/S untuk sekuelnya dirilis ke pasaran. Sama seperti prekuelnya, film yang awalnya berjudul S-V/H/S ini juga diputar perdana di Sundance Film Festival dan mendapatkan penilaian yang lebih bagus dari film pertamanya. Jika dalam V/H/S ada enam film termasuk Tape56 yang menjadi penghubung, maka dalam V/H/S/2 akan ada lima film horror yang siap memberikan teror pada penonton. Dari para sutradara film pertamanya hanya Adam Wingard yang kembali. Nama-nama lain yang duduk di kursi sutradara adalah Simon Barrett, Eduardo Sanchez & Gregg Hale (The Blair Witch Project) serta Jason Eisener (Hobo with a Shotgun). Namun bagi para pecinta film Indonesia tentunya keterlibatan Gareth Evans dan Timo Tjahjanto yang berkolaborasi menyutradarai segmen Safe Haven adalah hal yang paling menarik perhatian. Berikut adalah review dari masing-masing segmen.

TAPE 49
Sama seperti Tape 56. segmen garapan Simon Barrett ini adalah penghubung dari keseluruhan narasi film ini sekaligus menjadi pembuka dan penutup. Ceritanya sendiri tidak jauh beda dimana ada dua orang investigator yang tengah menyelidiki hilangnya seorang mahasiswa. Mereka lalu masuk secara paksa ke rumah anak tersebut untuk mencari petunjuk. Seperti yang sudah kita tahu mereka akan menemukan serangkaian video-video mengerikan yang nantinya juga akan membawa mereka pada peristiwa mengerikan pada akhirnya. Tidak ada yang spesial dari segmen ini karena gunanya juga hanya sebagai pengubung antara satu segmen dengan yang lain. Namun jika dibandingkan dengan Tape 56, maka Tape 49 sedikit lebih baik karena masih mampu menebar beberapa misteri mengenai penjelasan mengapa rangkaian tape tersebut dapat berujung pada peristiwa mengerikan. Tingkat keseramannya tidak seberapa, ending-nya juga mudah ditebak, hanya sedikit lebih nyeleneh dibandingkan Tape 56. (3/5)

CLINICAL TRIALS
Melakukan pendekatan yang agak mirip dengan segmen pembuka di film pertama yakni Amateur Night, segmen garapan Adam Wingard ini mengambil sudut pandang kameranya dari mata palsu yang dipasang pada seorang pria setelah ia kehilangan mata kirinya akibat kecelakaan. Mata tersebut berfungsi layaknya kamera tersembunyi. Namun yang aneh adalah mata tersebut membuat orang yang memakainya mampu melihat hal-hal mengerikan seperti penampakan hantu menyeramkan. Sebuah konsep yang mirip dengan The Eye memang, namun Wingard juga berhasil memberikan keseraman yang cukup efektif dalam segmen ini. Beberapa momen penampakan hantu cukup mengejutkan dan menyeramkan. Keseraman tersebut mampu bertahan hingga klimaksnya yang cukup intens dan berujung pada sebuah ending yang tidak hanya mengerikan namun cukup brutal. Sama seperti Amateur Night, Clinical Trials adalah segmen pembuka yang sangat memuaskan. (4/5)

A RIDE IN THE PARK
Segmen yang dibuat oleh Eduardo Sánchez dan Gregg Hale, duo yang membuat The Blair Witch Project ini boleh dibilang menawarkan sudut pandang baru dalam film zombie. Berkisah tentang seorang pria yang sedang bersepeda di sebuah taman dimana pria tersebut dikejutkan dengan kemunculan seorang wanita yang terluka parah. Berusaha menolongnya, ternyata wanita tersebut adalah zombie, dan sang pria pun pada akhirnya berubah menjadi zombie. Jadilah kita melihat sebuah tontonan mockumentary dari sudut pandang zombie dan bukan orang yang menjadi korban. Konsep yang unik sebenarnya, namun menjadikan zombie sebagai sudut pandang utama jujur mengurangi tingkat keseraman filmnya. Klimaks saat zombie menyerang orang-orang yang tengah berpesta juga tingkat kegilaannya nanggung meski secara keseluruhan punya cukup banyak adegan gore yang memuaskan. Untungnya segmen ini ditutup dengan memuaskan. (3.5/5)

SAFE HAVEN
Ini dia segmen yang digarap oleh duo Timo Tjahjanto dan Gareth Evans. Kisahnya mengenai beberapa orang reporter yang tengah meliput sebuah perkumpulan agama pimpinan seorang pria yang dipanggil Bapak (Epy Kusnandar). Perkumpulan itu sendiri sering dianggap sesat oleh masyarakat luas. Sampai para reporter itu diundang untuk berkunjung ke rumah dimana sekte tersebut menetap. Namun disana mereka tidak tahu bahwa teror luar biasa mengerikan sudah menanti. Ya, Safe Haven tidak hanya segmen tepanjang di V/H/S/2 namun juga paling gila, paling berdarah, paling menyeramkan dan tentunya yang terbaik. Sebuah rangkaian klimaks panjang yang penuh darah dan potongan tubuh berhamburan adalah bukti kegilaan Timo dan Gareth. Sama seperti di segmen Libido pada The ABC's of Death, Timo berhasil menunjukkan betapa gilanya dia jika diberi kebebasan bereksplorasi. Tidak hanya momen yang menegangkan dan mengerikan, segmen ini juga berhasil menggabungkan berbagai genre horor mulai dari zombie, monster, religius, hingga thriller psikologis. Belum lagi berbagai hal tersirat yang terdapat dalam film ini seperti child molesting. Jangan lupakan juga akting memuaku seorang Epy Kusnandar. (5/5)

SLUMBER PARTY ALIEN ABDUCTION
Diarahkan oleh Jason Eisener yang menyutradarai Hobo With a Shotgun, segmen ini tidak beruntung ditempatkan setelah Safe Haven yang luar biasa itu. Dibuka dengan cukup baik lewat kelucuan-kelucuan tingkah polah serta dialog karakternya, film ini justru makin membosankan malah disaat momen horor-nya sudah dimulai. Tidak ada kejutan berarti, dalam arti apa yang ditampilkan film ini sudah bisa kita tahu hanya dengan membaca judulnya. Kemunculan para alien tidak mengerikan, desainnya juga tidak terasa mengancam. Bahkan alien dari Sign milik Shyamalan masih jauh lebih mengerikan. Konsep kemunculan alien dengan pesawatnya memag unik, tapi penggarapan dengan konsep mockumentary membuat kemunculan mereka bukannya mengerikan tapi tidak jelas. Padahal konsep kamera yang diletakkan pada anjing sudah merupakan hal yang kreatif. (2/5)

Dibuka dengan baik, mempunyai segmen Safe Haven yang luar biasa, punya berbagai konsep penempatan kamera yang unik serta konsep cerita yang cukup unik meski tidak semuanya dieskekusi dengan baik namun masih menjadikan film ini sekuel yang sedikit lebih baik daripada film pertamanya. Mungkin jika bicara mana yang lebih banyak mengumbar momen menyeramkan, film pertamanya sedikit lebih banyak. Namun jika bicara mana yang lebih menyenangkan ditonton maka V/H/S/2 jauh lebih menyenangkan. Sayang segmen garapan Jason Eisener adalah segmen yang sangat lemah, hanya lebih baik daripada Second Honeymoon yang merupakan segmen terburuk jika dua film V/H/S ini digabungkan. Tentu saja saya berharap ada film ketiganya yang semoga saja masih menampilkan Adam Wingard dan tentunya Timo Tjahjanto ataupun Gareth Evans.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar