THE CROODS (2013)

Tidak ada komentar

The Croods adalah sebuah kejutan bagi saya. Pertama, film ini sanggup mengumpulkan uang sebanyak $581 juta dan untuk sementara menjadi film animasi terlaris tahun 2013 mengungguli Despicable Me 2 dan Monsters University. Yang kedua, secara kualitas The Croods berada jauh diatas ekspektasi saya. Meskipun dibuat oleh Chris Sanders yang merupakan orang dibalik How to Train Your Dragon, saya tetap tidak berekspektasi tinggi terhadap film animasi buatan DreamWorks. Studio yang satu ini memang masih labil jika bicara masalah kualitas cerita yang ada dalam film-film mereka. Mungkin secara visual selalu mengagumkan, tapi secara cerita masih tidak stabil. DreamWorks mempunyai film brilian macam How to Train Your Dragon, Shrek dan Kung Fu Panda. Namun mereka juga punya tontonan medioker semisal Shrek Forever After dan Shark Tale. Maka dari itu meski ada anggapan DreamWorks sekarang sudah semakin membaik dan mendekati kualitas Pixar, saya tetap tidak berekspektasi tinggi terhadap The Croods. Namun ternyata DreamWorks berhasil memberi bukti lewat The Croods bahwa mereka bukan saja sudah mendekati Pixar dari segi kualitas visual animasinya tapi juga dari kualitas ceritanya.

Croods adalah nama dari sebuah keluarga yang hidup di jaman pra-sejarah dan merupakan sisa-sisa dari manusia gua yang masih bertahan hidup. Disaat keluarga-keluarga manusia gua lainnya telah mati, Croods masih bisa bertahan hidup berkat Grug, sosok ayah yang begitu protektif terhadap keluarganya. Namun terkadang perlindungan yang diberikan Grug terasa berlebihan seperti melarang anggota keluarganya untuk keluar dari gua setelah gelap, larangan menunjukkan rasa ingin tahu, larangan mencari hal-hal baru dan lain sebagainya. Karena menurut Grug, hal baru dan rasa ingin tahu bisa membunuh mereka. Hal itu membuat sang puteri, Eep merasa tidak tahan lagi. Suatu malam, Eep memutuskan keluar diam-diam dari gua karena merasa penasaran dengan sebuah cahaya yang bergerak-gerak di malam hari. Ternyata cahaya misterius tersebut berasal dari sebuah api yang dinyalakan oleh seorang pemuda bernama Guy. Guy bukanlah seorang manusia gua primitif seperti Eep dan keluarganya. Pemuda yang satu ini banyak mempunyai ide-ide brilian dan berhasil menemukan berbagai hal yang pada saat itu belum dipahami oleh manusia gua seperti cara membuat api, sandal bahkan payung. Guy ternyata tengah melakukan perjalanan untuk menyelamatkan diri dari akhir dunia yang ia yakini akan segera tiba. Tidak sulit bagi kita untuk menebak bahwa Eep akan mulai tertarik pada Guy yang jenius dan menyukai hal baru namun mendapat tentangan dari sang ayah yang punya sifat sangat berlawanan.

Sekilas tidak ada yang membedakan The Croods dari film-film animasi rilisan DreamWorks pada umumnya yang berisikan alur cepat serta adegan-adegan seru, humor kekanak-kanakan yang kental dengan unsur slapstick, serta jalinan cerita standar yang mudah ditebak dan tidak akan terlalu banyak memberikan pesan moral yang mengena. Namun The Croods mampu mengemas semua aspek tersebut dengan maksimal sambil memberikan sedikit modifikasi disana-sini yang membuat film ini jauh dari kesan biasa saja. The Croods adalah sebuah bentuk dari segala unsur-unsur khas DreamWorks yang dimaksimalkan dan bersatu padu secara harmonis. Alurnya yang cepat tidak membuat ceritanya menjadi hanya numpang lewat. Alur cepat dan adegan serunya terasa efektif sebagai moemn hiburan, sebagai contoh adegan perburuan di awal film yang secara mengejutkan mampu dimanfaatkan sebagai hiburan sekaligus pengenalan masing-masing karakter dari keluarga Croods dengan maksimal. Bicara soal karakter, berbagai karakter yang ada di film ini memang punya daya tarik masing-masing. Grug yang kolot dan keras namun penyayang, Thunk yang bodoh, Eep yang ceria dan ingin tahu, Guy yang jenius, Sandy sang bayi ganas, sampai Gran si nenek gila yang merupakan karakter favorit saya. Mereka semua punya momennya masing-masing untuk menonjolkan karakter yang dimiliki.
Komedinya masih mempunyai unsur slapstick yang bukan selera saya, tapi dibalik itu The Croods punya banyak amunisi humor lainnya yang mampu membuat saya tertawa. Kebanyakan humor tersebut berasal dari dialog-dialog konyol hingga interaksi antara karater yang satu dengan yang lain. Karakterisasi yang kuat menyebabkan interaksi antar karakternya menjadi semakin hidup dan menarik. Tapi yang cukup spesial dari The Croods adalah beberapa humornya yang lebih bisa dinikmati penonton dewasa daripada anak-anak. Ya, anak-anak mungkin tidak akan mengerti mother-in-law jokes yang berulang kali muncul disini, tapi saya begitu menyukai bagaimana Grug berulang kali "mengharapkan" sang mertua mati. Daya tarik lainnya adalah berbagai momen yang memperlihatkan penemuan suatu barang yang terasa menarik dan kreatif. Selain beberapa hal yang saya sudah sebutkan tadi, masih ada hal-hal lain yang akan ditemukan...termasuk kamera. Semua itu tentunya dibalut dengan visual indah yang sudah menjadi senjata andalan DreamWorks. Gambarnya cerah, penuh warna dan imajinatif mulai dari penggambaran lokasi sampai desain binatang-binatangnya yang sangat menarik. Pastinya jangan lupakan desain masing-masing karakter utamanya yang juga khas.

Jika hanya sampai pada hal-hal diatas, maka The Croods "hanya" menjadi sebuah tontonan yang amat menghibur. Namun ada satu lagi kelebihan dari film ini yang membuat The Croods menjadi film animasi terbaik bagi saya di 2013 sampai saat ini bahkan melebihi Monsters Universitiy maupun Despicable Me 2 yang mengecewakan itu. Diluar dugaan dengan ceritanya yang sederhana film ini mampu memberikan berbagai pesan moral yang begitu mengena dan mempunyai berbagai momen mengharukan khususnya di penghujung film. Kita akan melihat bagaimana sebuah keluarga yang saling menyayangi, mencintai dan tentunya melindungi satu sama lain dan tidak akan meninggalkan satu pun diantara mereka dalam kondisi apapun. Kita akan melihat juga sosok Grug yang sekilas terasa kuno dan mengekang tapi dibalik itu yang dia inginkan hanya menjadi ayah yang baik dan bisa melindungi semua anggota keluarganya termasuk Eep. Dengan begitu indah The Croods pun memperlihatkan bahwa makna dari "hidup" dan "bertahan hidup" begitu berbeda meski sekilas nampak serupa. Film animasi terbaik 2013 sampai saat ini yang memang membuktikan bahwa DreamWorks sudah menjadi saingan berat Pixar, tepat disaat sang lawan tengah mengalami penurunan kualitas.

Tidak ada komentar :

Comment Page: