THE HOST (2013)

2 komentar
Kesuksesan lima film The Twilight Saga yang berhasil mengumpulkan lebih dari $3,3 milyar dari total bujet kelima filmnya yang hanya $385 juta jelas membuat Hollywood tergiur untuk memfilmkan lagi karya-karya dari Stephenie Meyer. Selain tetralogi Twilight, Meyer masih punya satu novel lagi yang juga meraih kesuksesan, yakni The Host. The Host sendiri diterbitkan pada tahun 2008, disaat Twilight baru saja hendak memulai "invasi" terhadap para penonton dunia. Jujur saja sebenarnya proyek The Host cukup menjanjikan jika kita melihat siapa saja yang terlibat di dalamnya. Yang pertama jelas ini berbasis karya Stephanie Meyer yang mungkin bukanlah sebuah cerita yang bagus tapi jika dieksekusi dengan baik maka berpotensi menjadi sebuah cerita ringan yang menghibur. Kemudian di jajaran pemainnya ada aktris muda Saoirse Ronan yang pada tahun 2012 lalu sempat absen muncul di layar lebar dan Diane Kruger yang performanya sebagai Bridget von Hammersmark dalam Inglourious Basterds masih saya ingat. Tapi keberadaan sosok Andrew Niccol sebagai sutradara sekaligus penulis naskah adalah yang paling menjanjikan. Hal ini dikarenakan pengalamannya dalam menangani banyak film sci-fi seperti Gattaca dan In Time serta menulis naskah untuk The Truman Show dan The Terminal.

Dalam film ini bukan vampir ataupun werewolf yang menjadi sorotan melainkan alien parasit yang disebut sebagai Souls. Di masa depan, Bumi sudah menjadi tempat yang aman sekaligus damai. Tidak ada peperangan dan konflik di seluruh dunia. Bisa dibilang dunia saat itu terasa begitu sempurna. Namun dibalik itu semua bukan manusia yang menciptakan perdamaian tersebut, melainkan para Souls yang menghuni tubuh manusia. Pada saat itu mayoritas manusia di Bumi tubuhnya sudah diambil alih oleh Souls yang kini telah menguasai dunia. Meski mereka cinta damai, namun mereka tidak segan untuk memburu manusia yang melakukan perlawanan terhadap mereka. Salah satu manusia yang melakukan perlawanan adalah Melanie Stryder (Saoirse Ronan) yang selama ini hidup dalam pelarian bersama adiknya, Jamie (Chandler Canterbury) dan kekasihnya, Jared (Max Irons). Suatuh hari para Souls yang dipimpin oleh Seeker (Diane Kruger) berhasil menyudutkannya. Tidak rela diambil alih tubuhnya, Melanie memutuskan bunuh diri. Seeker pun membawa tubuh Melanie untuk kemudian memasukkan parasit kedalam tubuhnya. Maka dimasukkanlah parasit bernama Wanderer yang mengambil alih tubuh Melanie dan mencoba menggali informasi tentang manusia lain yang masih hidup dari memori milik Melanie. Tapi ternyata Melanie masih hidup dan hal tersebut membuat ada dua pikiran yang saling bertentangan dalam tubuhnya.

Hampir semua formula andalan seorang Stephanie Meyer bisa kita temukan dalam The Host. Ada kisah cinta remaja antara dua ras yang berbeda, dan tentunya ada juga kisah cinta segi tiga yang memang menjadi trade mark dari Stephanie Meyer. Tentu saja dialog-dialog cheesy yang mengiringi kisah percintaannya masih dapat kita temui disini. Tapi secara keseluruhan, The Host punya tataran cerita yang lebih kaya dan menarik dibandingkan kisah tentang sepasang remaja galau yang kisah cintanya tidak kunjung berkembang. Adaptasi naskah yang dilakukan oleh Andrew Niccol memang cukup berhasil membawa The Host menjadi lebih filosofis dan berfokus pada cerminan sosial yang disinggung baik secara gamblang maupun tersirat dalam ceritanya. Saya sendiri belum membaca novelnya, tapi dari petikan wawancara dengan Meyer maupun pengalaman saya membaca empat novel Twilight, saya cukup yakin bahwa cerita dalam filmnya yang banyak memiliki kritik sekaligus cerminan sosial adalah karena peran besar Niccol dalam mengadaptasi naskahnya. The Host memang banyak berbicara mengenai manusia yang tidak segan untuk melukai bahkan membunuh satu sama lain demi tercapainya tujuan mereka. Ada juga pertanyaan mengenai bagaimana sebenarnya bentuk dari dunia sempurna yang selama ini kita dambakan?
Dari konteks cerita yang diangkat oleh Niccol, The Host sebenarnya cukup berpotensi menjadi sebuah tontonan arthouse science-fiction yang lebih mengedepankan pada karakter serta kritik dan cerminan sosial yang dibawanya. The Host memang lebih mengutamakan unsur dramanya dan mengalir dengan tempo sedang. Tapi tentu saja Niccol masih menyediakan ruang yang luas bagi apa yang saya sebut sebagai Meyer's Formula yakni kisah cinta segi tiga remaja yang penuh dengan dialog romantis(?) dan asal muasal cinta yang layak untuk dipertanyakan meski selalu bersenjatakan cinta pada pandangan pertama untuk menutupi pertanyaan tersebut. Dalam The Host kisah cinta segitiga yang ditampilkan masih mendominasi dan bagi saya tetap masih jauh untuk sampai pada taraf romantis apalagi menyentuh. Tapi jika saya membandingkannya dengan cinta segitiga dalam Twilight, The Host jelas jauh lebih unggul. Meski tetap terasa dangkal, tapi setidaknya hubungan antara karakternya lebih enak untuk dilihat, apalagi muncul keunikan disini disaat kisah cinta dalam The Host mungkin bukan hanya segitiga tapi segi empat dikarenakan dalam tubuh Melanie ada dua pikiran yang hidup.

Namun sayangnya banyak karakter yang terasa dangkal baik karakterisasinya maupun penggambaran motivasi mereka. Banyak karakter yang melakukan sesuatu tanpa motivasi yang jelas sehingga malah terasa membingungkan dan konyol. Ada beberapa karakter yang secara tiba-tiba sikapnya berubah dengan begitu drastis dalam waktu yang sangat singkat. Misal dalam kemunculan pertamanya karakter itu bersikap A, maka dalam kemunculan berikutnya ia sudah bersikap B tanpa ada alasan yang berarti. Di bagian inilah escapism andalan Meyer berperan besar, yakni "cinta bisa tiba-tiba merubah seseorang...jadi tidak perlu alasan lain yang lebih rasional". Niccol sendiri rasanya tidak terlalu tertarik untuk mengembangkan hal ini dan malah memberikan porsi yang lebih besar pada beberapa adegan yang kurang esensial daripada memberikan karakternya lebih banyak porsi untuk dieksplorasi. Tapi bicara soal karakter, untungnya The Host punya karakter Melanie/Wanda yang diperankan dengan baik oleh Saoirse Ronan. Dua karakter yang saling berkonflik dalam satu tubuh jelas bukan peran yang mudah dan bisa menjadi karakter yang complicated sekaligus menarik. Namun Mel/Wanda bukan karakter yang dieksplorasi secara mendalam dan termasuk dangkal meski memiliki dua pikiran dalam satu tubuh adalah hal yang rumit. Disinilah akting Saoirse Ronan membuat karakter itu menjadi jauh lebih menarik.

Mungkin Ronan tidak sampai membuat karakternya menjadi rumit, tapi ia berhasil membuat karakternya menjadi jauh lebih hidup dan menarik untuk diikuti. Interaksi yang muncul antara Melanie dan Wanda memang menarik dan terkadang sanggup memancing tawa. Tidak saya pungkiri interaksi maupun dialog antara mereka berdua benar-benar cheesy dan kadang tawa saya muncul bukan karena adegannya lucu tapi karena dialognya yang terasa menggelikan. Tapi pembawaan Ronan membuat momen dimana Melanie dan Wanda saling berbicara menjadi sebuah interaksi yang menarik. Terkadang saat Melanie tiba-tiba menyela pembicaraan saya berhasil dibuat tertawa. Sosok Ronan pun berhasil membuat karakternya menjadi sosok yang simpatik. Bahkan beberapa momen emosional yang muncul disini semuanya adalah hasil dari akting Ronan yang berdialog dengan dirinya sendiri sepanjang film. Bagian akhirnya memang tidak sampai membuat saya tersentuh tapi akting Ronan benar-benar menghidupkan suasananya. Secara keseluruhan Andrew Niccol berhasil menciptakan sebuah kisah dengan konsep dasar menarik yang dikemas menjadi tontonan yang meskipun terasa kurang mendalam tapi tetaplah menjadi sebuah sajian yang tidak buruk. Pada akhirnya The Host pun ditutup dengan ending yang sebenarnya standar dan bermain aman namun merupakan sebuah konklusi yang memuaskan bagi saya.  Bukan film yang bagus tapi jelas berada diatas ekspektasi saya. Totally underrated.

2 komentar :

  1. Percaya tidak percaya ini salah satu film favorit saya tahun ini.

    Entah kenapa saya kok suka sekali dengan film ini. Damn. Guilty pleasure benar bagi saya. :p Agak malu mengakuinya... Tapi heheehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi sebenernya The Host emang film yang terlalu underrated dan IMO nggak sehancur yg dibilang para kritikus

      Hapus