WHY DON'T YOU PLAY IN HELL? (2013)

5 komentar
Saya suka Sion Sono dengan segala kegilaan dan plot cerita kompleks penuh misteri dalam film-filmnya. Saya belum pernah menonton film dramanya macam Land of Hope atau Himizu, tapi saya sangat menyukai kegilaan dan surealisme yang dihadirkan Sion Sono dalam film-film macam Suicide Circle, Noriko's Dinner Table, Cold Fish hingga Strange Circus. Karena itulah saat ia merilis film terbaru dengan judul "sangar" yaitu Why Don't You Play in Hell? saya antusias menunggunya. Film yang berasal dari naskah lama milik Sono yang ditulis tahun 1987 ini juga berhasil mendapatkan berbagai prestasi di festival-festival film internasional termasuk menang di seksi Midnight Madness pada ajang Toronto Internasional Film Festival tahun 2013 lalu. Seksi Midnight Madness sendiri selalu memunculkan film-film gila dan brutal sebagai pemenangnya termasuk The Raid pada tahun 2011 lalu, yang makin membuat rasa penasaran saya pada film ini semakin besar. Apalagi Sion Sono sempat menyebut bahwa film ini mempunyai persamaan dengan Kill Bill-nya Tarantino. Tapi saya sama sekali tidak menduga bahwa Why Don't You Play in Hell? tidak saja brutal tapi penuh dengan komedi-komedi yang tidak kalah gila.

Film ini awalnya bercerita tentang Hirata (Hiroki Hasegawa), seorang remaja yang mempunyai obsesi sebagai sutradara film. Bersama tiga temannya, Hirata tergabung dalam sebuah klub penggila film bernama The Fuck Bombers yang kegiatannya diisi dengan membuat film-film indie dengan peralatan dua kamera video sederhana. Mereka bersumpah suatu hari nanti akan membuat sebuah film masterpiece meskipun harus bertaruh nyawa untuk membuatnya. Namun semuanya tetap belum membuahkan hasil bahkan sampai 10 tahun kemudian. Disisi lain kita juga akan diajak melihat kisah perseteruan antara dua kelompok Yakuza yang dipimpin oleh Muto (Jun Kunimura) dan Ikegami (Shinichi Tsutsumi). Semuanya dimulai saat Ikegami dan anak buahnya menyerang rumah Muto tapi yang ada hanya Shizue (Tomochika), istri dari Muto. Terjadilah pembantaian disana saat Shizue membunuh anak buah Ikegami secara brutal dan membuatnya dipenjara selama 10 tahun. Ikegami yang berhasil selamat ternyata jatuh cinta pada puteri Muto, Michiko (Fumi Nikaido) yang pada masa kecilnya terkenal sebagai bintang iklan pasta gigi. Perseteruan tersebut terus bertahan sampai 10 tahun kemudian disaat Ikegami berhasrat untuk mendapatkan Michiko yang kini berusaha mengejar mimpinya sebagai aktris film.

Pada akhirnya dua kisah yang awalnya terasa jauh berbeda itu akan bertemu menjadi satu dan menciptakan sebuah klimaks yang luar biasa gila. Tapi diluar kegilaan di klimaksnya saya cukup terkejut melihat bagaimana Why Don't You Play in Hell? dikemas. Saya memang belum terlalu banyak menonton film-film dari Sion Sono, tapi dari empat filmnya yang sudah saya tonton, di samping punya gore yang melimpah, film-film tersebut juga punya aura yang kelam. Jikalau ada komedi, itu pasti komedi-komedi gelap. Tapi film terbarunya ini terasa begitu berbeda dengan banyaknya komedi konyol yang absurd dan mengingatkan pada film-film kelas B dari Jepang macam Tokyo Gore Police sampai The Machine Girl yang menggabungkan banjir darah dengan hal-hal tolol sebagai komedinya. Saya sendiri terkejut mendapati bahwa film ini ternyata merupakan sebuah B-Movie sejati yang sama sekali tidak punya kesan serius pada penyampaiannya meski tentu saja Sion Sono serius dalam proses pembuatannya. Awalnya saya sedikit kecewa mendapati sutradara yang saya kenal lewat film-film dengan cerita cerdas nan kompleks macam Suicide Circle ini malah membuat film eksploitasi konyol seperti ini. Tapi setelah saya sepenuhnya sadar dari keterkejutan itu, saya perlahan mulai sadar bahwa kemasan "ngawur" dalam film ini sangat sesuai dengan tema dan semangat yang diangkat dalam ceritanya.
Cerita yang ada dalam film ini memang luar biasa absurd kalau tidak mau dibilang ngawur. Ada cerita tentang Yakuza yang memilih berganti gaya dengan memakai kimono dan tinggal di kastil zaman dulu dimana sang bos jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis kecil (pedofil?) sampai proses pembuatan film tergila yang pernah ada dalam film dan menjadikan Why Don't You Play in Hell? menjadi sebuah film dalam film. Jadi bagian mana yang sesuai dengan pengemasan film ini sebagai b-movie? Jawabannya adalah semangat tingkat tinggi dan sebuah proses bersenang-senang. Hirata dan kawan-kawannya punya kecintaan luar biasa pada film dan setiap proses syuting yang mereka lakukan dilakukan dengan senang-senang meskipun penuh keterbatasan. Mungkin Sion Sono memang sedang ingin bersenang-senang dan tidak ingin terlalu pusing dalam membuat filmnya, dan rasa itu terpancar jelas dalam filmnya. Sono juga menyinggung soal mulai dilupakannya hal-hal "jadul" yang sebenarnya punya peranan penting semisal film 35mm hingga kimono sebagai pakaian adat Jepang disaat orang-orang mulai lebih banyak berkiblat pada setelan jas layaknya bangsa barat. Bahkan Yakuza yang "sangat Jepang" pun berdandan layaknya gangster barat.

Memang ada beberapa hal yang terasa kurang dimaksimalkan hingga tidak memberikan dampak yang maksimal pada penonton seperti persahabatan Hirata dan kawan-kawannya sampai kisah cinta Koji dan Michiko. Semuanya seolah hanya menjadi tempelan belaka. Tapi semuanya terbayar lewat segala kegilaan yang diberikan Sion Sono. Komedinya seperti yang sudah saya sebutkan begitu bodoh tapi dalam artian positif. Saya berhasil dibuat tertawa beberapa kali oleh kebodohan-kebodohan yang ada mulai dari situasi tidak masuk akal sampai karakter-karakternya yang sangat gila. Lalu jika membicarakan soal gore-nya, Sion Sono sudah menumpahkan banyak darah sedari awal, tapi semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan klimaksnya yang menampilkan pertempuran dua geng Yakuza dalam sebuah rumah. Klimaks tersebut dihiasi bergalon-galon darah, potongan tubuh yang terburai, terpotong, tertusuk dan masih banyak lagi. Yang lebih gila adalah adegan tersebut dijadikan proses syuting film lengkap dengan berbagai peralatan syuting di dalamnya serta sutradara yang mengarahkan semuanya. Sinting! Adegan ini juga mengingatkan saya pada pertarungan The Bride melawan Crazy 88 di Kill Bill baik dari setting, kebrutalan, sampai penggunaan pedang sebagai senjatanya. Secara keseluruhan Why Don't You Play in Hell adalah film gila yang amat sangat menyenangkan meski segala ketololan yang ada mungkin akan mengganggu beberapa kalangan penonton.

5 komentar :

Comment Page:
Fauzi mengatakan...

Film Sion Sono yang "Love Exposure" juga kental nuansa komedinya gan.

Rasyidharry mengatakan...

Waah belum sempet nonton gara2 durasinya

Fauzi mengatakan...

Bukannya nymphomaniac durasinya lebih panjang gan hehe *kabur

Rasyidharry mengatakan...

Yaah Nymphomaniac kan "begitulah" :D

M Hafizh Abdurrahman mengatakan...

menarik nih kayaknya utk ditonton.. :D , Blognya terupdate nih mengenai Review Film2..