SONG OF THE SEA (2014)

Tidak ada komentar
"Come away oh human child, to the waters and the wild, with a fairy hand in hand, for the world's more full of weeping than you can understand." Rangkaian kalimat yang begitu indah itu membuka Song of the Sea. Sebuah animasi yang tidak berlebihan jika disebut sebagai pemantap jalan bagi Cartoon Saloon untuk menjadi Ghibli-nya Irlandia. Berdasarkan mitologi Celtic tentang Selkie (jelmaan anjing laut), film ini bercerita tentang kebahagiaan sebuah keluarga kecil yang tinggal di suatu mercusuar. Ben yang masih kecil begitu dekat dengan sang ibu, Bronagh. Keduanya sering melukis bersama, bernyanyi bersama, dan bercerita dongeng tentang Selkie yang mengantar para peri pulang dengan nyanyian indah. Sutradara Tomm Moore membawa kita merasakan kebahagiaan itu lewat rangkaian visualnya yang ajaib. Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Bronagh meninggal (penyebab baru diungkap di pertengahan) pada hari yang sama dengan kelahiran anak kedua mereka, Saoirse.

Nyatanya kehidupan keluarga ini begitu berubah pasca kepergian Bronagh. Sang suami, Conor masih belum beranjak dari duka dan tidak terlalu memperhatikan kedua anaknya (tidak meninggalkan sepenuhnya, hanya dikalahkan oleh kesedihan mendalam). Ben yang sebelumnya tidak sabar menantikan kelahiran sang adik kini justru membenci Saoirse. Baginya, kewajiban menjaga sang adik yang meski telah berusia enam tahun tapi belum bisa bicara sepatah katapun terasa mengesalkan. Saoirse sendiri meski tidak bisa bicara adalah gadis kecil imut dengan tingkah laku yang akan membuat siapapun (kecuali Ben) menyukai dirinya. Segala petualangan dimulai saat suatu malam Saoirse menemukan kerang pemberian Bronagh dan sebuah mantel ajaib. Petualangan magis yang menghidupkan kembali keindahan dongeng cerita rakyat. 
Pada dasarnya Song of the Sea punya cerita yang begitu sederhana. Kisahnya menggabungkan ciri dua aspek: kisah pendewasaan untuk melawan rasa takut dan cerita rakyat penuh sihir serta makhluk negeri dongeng macam peri, penyihir sampai raksasa. Kedua jenis cerita itu punya alur yang tidak akan sulit dibaca akan berjalan kemana. Begini jadinya apabila animasi bertemakan from zero-to-hero memang dikemas untuk menunjukkan perkembangan karakternya dengan fokus pada jalinan emosi daripada sekedar menyajikan petualangan seru atau penjualan merchandise demi kepentingan komersil belaka. Tentu kita tahu bahwa pada akhirnya sikap Ben terhadap Saoirse akan berubah. Kita juga tahu Ben akan bisa mengalahkan segala rasa takutnya. Tapi fokusnya memang bukan pada hasil akhir, bukan pula pada seberapa seru petualangan yang ia jalani. Melainkan proses terbentuknya semua itu yang bakal melibatkan banyak memori serta introspeksi emosional.
Petualangan yang terjadi tidak mengutamakan action, melainkan keajaiban yang berasal dari segala potensi cerita rakyat masa lampau. Tentu kita semua masih ingat bagaimana rasanya saat orang tua kita dulu menceritakan dongeng-dongeng penuh keajaiban. Imajinasi dibawa melayang-layang, membayangkan seperti apa kiranya rupa setiap tokoh serta gambaran negeri dongeng tempat terjadinya cerita tersebut. Lewat Song of the Sea, Tomm Moore mewujudkan segala imaji masa kecil itu. Kunci utama terletak pada visual. Banyak animasi indah tersaji pada masa sekarang, tapi film ini tetap berdiri tegak sebagai salah satu yang terindah. Song of the Sea adalah gambaran paling dekat dari seperti apa rupa negeri dalam cerita rakyat yang saya bayangkan sejak dulu. Penuh warna yang berkilauan dan perwujudan benda layaknya alam mimpi. Bahkan visualnya memperhatikan sampai ke detail terkecil. Lihatlah segala benda yang hadir, dimana setiap ornamen terkecil disajikan dengan lekuk garis begitu indah. Bahkan aliran air dan hembusan angin nampak indah.

Jika kita menonton lebih mengutamakan otak daripada rasa, maka jalinan cerita film ini mungkin bakal mengganggu. Kemunculan anjing laut yang tiba-tiba membantu Ben di tengah laut, bantuan dari seorang penyihir, dan hal-hal lain yang akan terasa seperti penggampangan untuk resolusi konflik. Tapi ingat, ini adalah dongeng. Dongeng tidak bisa dinikmati hanya dengan otak dan logika saja, tapi lebih pada ranah rasa serta imajinasi. Jika ditilik dengan kedua hal itu, maka semua hal di atas tidak lagi menjadi masalah. Pada awal tulisan saya sempat mengatakan film ini layak disandingkan dengan karya dari Ghibli. Selain karena nuansa dongeng dan keajaiban yang kental, ketiadaan sosok jahat juga berpengaruh besar. Segala perbuatan karakternya bahkan yang bisa dibilang tidak baik sebenarnya bukan karena mereka jahat. Ada satu alasan sama yang melatar belakangi berbagai tindakan tersebut, yaitu cinta. Cinta tidak hanya memberi kebahagiaan tapi bisa membutakan, dan kebutaan itulah yang mendorong beberapa karakter film ini berbuat hal buruk. Kentalnya cinta, kesan imajinatif, keindahan visual, ditambah lagu "Song of the Sea" dari Lisa Hannigan yang memberikan kedamaian harmoni, maka lengkaplah film ini menjadi salah satu animasi (bahkan film) terindah dalam beberapa waktu terakhir.

Tidak ada komentar :

Comment Page: