UN CHIEN ANDALOU (1929)

Tidak ada komentar
Seorang pria paruh baya (Luis Bunuel) tengah mengasah pisau sambil menatap bulan purnama dan awan-awan di sekitarnya. Tiba-tiba adegan berganti dengan memperlihatkan close-up wajah wanita muda (Simone Mareuil) yang matanya ditahan oleh sang pria paruh baya. Lalu bersamaan dengan purnama yang disayat oleh awan, mata wanita mudah itu pun disayat oleh pisau sang pria. Begitulah Un Chien Andalou atau yang punya arti An Andalusian Dog ini dibuka. Berawal dari perbincangan Luis Bunuel dan Salvador Dali tentang mimpi mereka, terciptalah film sureal ini. Bunuel adalah sutradara yang punya obsesi dengan mimpi serta metode Freudian seperti asosiasi bebas dan psikoanalisis. Suatu malam ia bermimpi tentang bulan yang dipotong oleh awan, seperti mata yang tersayat pisau. Sedangkan Dali sang pelukis sureal bermimpi tentang tangan seseorang yang dikerubuti semut. Berbasis dua mimpi tersebut, Bunuel dan Dali menulis naskah bersama untuk film pendek yang disutradarai Bunuel ini.

Sebuah karya surealis memberikan gambaran sebuah kejadian atau karakter dengan simbolisasi dan metafora yang tidak jarang hiperbolis. Akan memusingkan bagi penonton, tapi juga menantang bahkan "nagih" bagi mereka yang gemar memutar otak mencari interpretasi. Tapi untuk film ini, pertanyaan sesungguhnya bukanlah "apa interpretasi ceritanya?" melainkan "apakah interpretasi tersebut ada disana?" Un Chien Andalou tersusun oleh narasi yang tidak saling berhubungan Setelah pembuka di atas, kita akan melihat seorang pria muda (Pierre Batcheff) bersepeda dengan dandanan suster, wanita androginus (Fano Messan) yang terobsesi dengan potongan tangan, adegan tangan sang pria muda yang mengeluarkan semut, serta adegan lain yang terkesan dreamy sekaligus disturbing. Bunuel dan Dali menulis naskah dengan perjanjian bahwa "tidak ada satupun ide atau gambar yang bisa dijelaskan secara rasional". Bunuel juga menambahkan "tidak ada satupun hal dalam film ini yang merupakan simbolisasi".
Apakah sebuah film harus punya makna? Apakah surealisme harus menyimbolkan sesuatu? Dengan dua pernyataan Bunuel di atas, bisa disimpulkan film ini dibuat tanpa bermaksud menuturkan apapun. Bagi saya film bisa merupakan bentuk opini pembuatnya terhadap suatu kejadian, tapi juga bisa sebagai cerminan nyata dari sebuah kejadian tanpa dikurangi atau ditambahi. Film ini termasuk yang kedua. Bunuel dan Dali hanya ingin memvisualisasikan mimpi masing-masing dalam film ini dengan beberapa adegan tambahan sebagai benang merah. Adegan tambahan itu tidak bermaksud untuk menciptakan narasi yang koheren, tapi lebih kepada rasa dan suasana. Secara narasi tidak ada kaitan satu dengan yang lain. Tapi secara suasana dan kesan mimpi yang coba dibangun lewat momen demi momen tak beraturan, semuanya selaras. 
Tapi jika mencoba berinterpretasi, saya merasa Un Chien Andalou berkisah tentang obsesi, tentang hasrat yang ditekan, tentang seksualitas yang twisted. Adegan pria muda menyeret piano yang berisikan mayat keledai, batu bertuliskan 10 perintah Tuhan dan dua orang Pendeta sambil mendekat kearah si wanita muda bagai memperlihatkan hasrat seksual sang pria yang tertekan oleh norma dan agama. Sang pria juga diperlihatkan menikmati melihat wanita androginus tertabrak mobil, bahkan setelah itu ia ingin berhubungan seks dengan si wanita muda (simbolisasi twisted sexuality). Bunuel sendiri menyatakan bahwa jika ada interpretasi yang mungkin tepat, itu berbasis dari psikoanalisis. Lewat psikoanalisis dalam buku The Interpretation of Dream, Sigmund Freud menyatakan bahwa mimpi merupakan hasrat terpendam, pelampiasan dari sesuatu yang ingin seseorang lakukan di kehidupan nyata tapi tidak kesampaian. Tapi lagi-lagi tidaklah penting bagi saya apakah suatu film punya makna yang coba disampaikan. Karena salah satu fungsi film adalah menuturkan suatu kejadian apa adanya, seperti Bunuel dan Dali menuturkan mimpi mereka tanpa coba memberikan interpretasi.

Tanpa harus memberikan makna Un Chien Andalou tetaplah pencapian yang luar biasa dan menjadi pondasi bagi film indie sekaligus film sureal masa kini. Disaat pada masa itu para pembuat film cenderung ingin memuaskan penonton (lebih dari yang terjadi saat ini), Bunuel justru sebaliknya ingin memberikan rasa tidak nyaman bagi audience. Kesan itu berhasil tersaji dengan sempurna disini. Kesan sureal tidak hanya terasa aneh, tapi juga digambarkan lewat cara se-disturbing mungkin. Visualisasi itu turut disempurnakan oleh scoring  Richard Wagner. Adegan pria menarik piano adalah contoh sempurna. Saat musik semakin meninggi, saya pun semakin merasa tidak nyaman, jantung semakin berdebar, ketegangan makin memuncak. Sebagai sebuah film bisu tanpa dialog, Un Chien Andalou adalah sajian sureal yang tidak nyaman tapi begitu mengesankan disaat bersamaan.

Tidak ada komentar :

Comment Page: