TAUSIYAH CINTA (2016)

22 komentar
Pada suatu kesempatan, Joko Anwar pernah menuturkan sindirannya, bahwa membuat film di Indonesia itu mudah, karena mereka yang tak punya skill memadahi pun bisa melakukannya. Cukup pitching naskah atau premis ke investor yang mana banyak tidak tahu seperti apa naskah atau film bagus, dan voila! Anda mendapat lampu hijau membuat feature film untuk diputar di bioskop nasional. Saya bukan sedang membicarakan nama seperti Nayato Fio Nuala, karena dia tahu seperti apa film bagus, tapi tidak tahu cara (atau tidak mau mencoba) membuatnya. Film jelek yang tercipta akibat ketidaktahuan mengenai kualitas berbahaya bagi industri perfilman tanah air. Jika penonton suka, maka film itu telah berpartisipasi dalam pembodohan masyarakat. Jika tidak, akibatnya juga fatal, karena masyarakat berpotensi makin kehilangan kepercayaan pada film lokal. 

Saya tidak menggantungkan ekspektasi tinggi terhadap "Tausiyah Cinta" karya Humar Hadi ini. Sebagaimana mayoritas film religi berselipkan embel-embel "cinta" di belakang kata "Islami" lain, sappy romance dengan konten agama yang preachy besar kemungkinan bakal mendominasi. Sepintas sinopsisnya menyiratkan hal tersebut. Lefan (Rendy Herpy) adalah konseptor bisnis yang sukses sekaligus terkenal di Indonesia. Tapi ia bersikap apatis terhadap ajaran agama, karena menurut Lefan justru karena itulah keluarganya terpecah. "Tuhan bahkan tidak mengabulkan doa mereka yang rajin beribadah", begitu ujarnya. Hingga suatu proyek mempertemukan Lefan dengan Azka (Hamas Syahid Izuddin), arsitek muda sekaligus hafidz (penghafal) Al Qur'an. Unlikely friendship terjalin diantara keduanya. 

Sebelum membahas lebih detail, perlu diketahui bahwa banyak film jelek, tapi setidaknya ada satu aspek positif yang patut dapat pujian. Bisa akting, premis, sinematografi, musik, apapun. Walaupun semuanya jelek, tingkat kebusukannya pun beragam. Saya tidak pernah melihat ada sebuah film dengan seluruh aspeknya seragam berada di titik nadir, alias kejelekan luar biasa, alias sudah akut. Sampai tiba hari Kamis, tanggal 7 Januari 2016 pukul 16:35, dimana saya berada di studio 5 jaringan XXI yang terletak di Jogja City Mall, menyaksikan "Tausiyah Cinta" dengan kondisi tempat duduk nyaris terisi penuh. Disitulah saya mendapati antitesis dari istilah "The Best of the Best" dalam suatu karya. Jika anda ingin mendapati bagaimana kompilasi dari tiap sisi pada sebuah film yang dihadirkan seburuk mungkin, tontonlah "Tausiyah Cinta". Saya deklarasikan bahwa inilah film terburuk yang pernah saya tonton di bioskop.
Naskahnya ditulis oleh empat orang yang saya malas untuk menyebutkan namanya satu per satu, karena toh mereka juga malas menulis naskah bagus. Jangankan eksplorasi karakter/konflik mendalam, untuk merangkai jalinan cerita koheren saja naskahnya tidak mampu. Niat utamanya adalah menghadirkan perjalanan Lefan mencari cahaya ketakwaan lewat pertemuannya dengan orang-orang dengan rasa cinta besar (karena itu judulnya "Tausiyah Cinta"). Tapi akhirnya, fokus alur melebar tak tentu arah. Dimulai dengan konfik Lefan dengan sang kakak, berlanjut ke pertemuan dengan Azka, lalu tragedi yang menimpa Azka hingga berpengaruh pada keimanannya, pencarian Rein (Ressa Rere) terhadap calon suami ideal, kisah cinta Lefan, usaha seorang anak tukang gali kubur yang saya lupa siapa namanya untuk menjadi penulis cerita non-fiksi di tengah lemahnya finansial, dan diakhiri oleh konklusi bahwa semua itu menginspirasi Lefan untuk jadi lebih baik.  

This movie was really painful to watch. Terlebih dengan usahanya menyelipkan lelucon-lelucon tak lucu yang entah bagaimana dirasa oleh penulis dan sutradara berkaitan dengan keseluruhan alur. Bukan hanya tidak lucu, tapi juga menyedihkan karena hadirnya berbagai dialog menggelikan khususnya yang membicarakan cinta atau jomblo. Seolah-olah meyakini apapun isinya, penonton bakal tertawa mendengar another joke about the sad life of jomblo. Saya sendiri punya dialog "favorit" dalam film ini yang berbunyi sebagai berikut, "Kakak itu kalau di luar amat-amat baik, tapi kalau di dalam nggak baik-baik amat!" Yep, wordplay dialogue at its worst.
Kacau, sungguh kacau. Berusaha merangkai alur "Tausiyah Cinta" sama rumitnya dengan memecahkan misteri "Inception" milik Nolan. Bahkan saya curiga Humar Hadi dan semua tim yang terlibat memang terinspirasi dari film tersebut. Karena dalam beberapa momen terdapat adegan "flashback di dalam flashback" yang serupa dengan "mimpi dalam mimpi"-nya Nolan. Anda tentu familiar dengan scoring berbunyi "Vrrrrooooom" karya Hans Zimmer yang kini menginspirasi dentuman musik seluruh blockbuster bukan? "Tausiyah Cinta" punya itu. Dalam banyak momen (maunya) dramatis, akan terdengar suara menggelegar yang lebih mirip gempa besar daripada scoring. Saya tidak bercanda, karena sempat saya mengira saat itu terjadi gempa karena mendadak ruangan bergetar hebat sambil bersamaan terdengar bunyi "Vrrrooooooom". Mengatakan suara itu bukan musik rasanya kurang bijak. Karena kesunyian pun adalah musik. Simak saja lagu "4'33"" karya John Cage. Maka bisa jadi gemuruh itu musik juga. Musik alam.

Bicara soal flashback, teknik tersebut seolah jadi jalan pintas film ini merangkum semua keping cerita menjadi satu. Daripada susah-susah memikirkan timeline suatu konflik, lebih baik hilangkan saja konflik itu, dan secara mendadak munculkan lewat flashback yang out-of-nowhere. Mungkin begitu pikir pembuat filmnya. Karena itu, jangan kaget jika saat menonton anda akan bertanya "itu siapa?", "itu ngapain?", "itu kapan?", "aku dimana? aku siapa?" dan lain sebagainya. Bukan salah anda dan anda tidak bodoh. Apalagi yang perlu dibahas? Akting? Jika akting beberapa menit dari Irwansyah sebagai glorified cameo adalah yang terbaik dan paling natural, bisa dibayangkan kualitas pemain lain. Hamas Syahid Izuddin sukses bertransformasi dari Azka si bijak menjadi annoying crybaby brat bermodalkan tangisan palsu. Saya bisa memahami alasan perubahan karakternya, tapi tidak dengan pembawaan sang aktor (mudah sekali ya menyandang sebutan aktor?). Lainnya? Sama saja kakunya. Film ini memang merata di semua lini.

Aspek teknis? Entah karena bujet minim, skill rendah, atau intensi untuk mengemas film layaknya arthouse ala-Dogma 95 movement, kita akan banyak mendapati gambar berkualitas rendah hingga sound editing timbul tenggelam sebagai akibat penghilangan noise dalam suara. Mohon maaf jika beberapa sindiran seolah merendahkan para pembuatnya. Tapi sama saja, seharusnya mereka pun jangan merendahkan penonton dengan menyuguhkan film semacam ini ke bioskop. Bisa makin bodoh atau tambah sedikit penonton film Indonesia kalau begini caranya. Saya marah, saya sedih karena itu. Namun tidak akan saya berkata "stop making movie!" untuk para pembuatnya, but just stop making crap movie like this one! Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kalimat Roger Ebert dalam review-nya untuk "North" tahun 1994. "I hated this movie. Hated hated hated hated hated this movie!"


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

22 komentar :

Comment Page:
TEGUH RASPATI mengatakan...

Film yg seru buat dijadiin bahan diskusi. Satu2nya poin positif dari TC adalah film ini menunjukkan apa yg seharusnya jgn dilakukan dlm membuat film.

Soal naskah, ini beneran ada naskahnya? Saya curiga jgn2 pemain cuma dikasih plot point dan dialog cuma improvisasi pemain doang, mengingat delivery-nya yg sering salah (dan tetap masuk dalam final cut). Ah, dan akting menangis itu, sukses membuat saya meringis.

Nice review mas, sangat representatif.

Rasyidharry mengatakan...

Ada dong naskahnya, kalau nggak mustahil muncul kalimat ajaib "baik-amat-baik-amat" itu haha

Bagus kok nangisnya, ngasih info, kalau lagi marah/sedih histerisnya harus tetap nyebut nama Allah, biar terdengar alim ulama gitu

Mas, daripada komen disini mending kelarin review sendiri dulu sebelum otaknya meleleh akibat nonton ini :P

Alvi Fadhollah mengatakan...

Yang jadi pertanyaan, apa yg membuat agan tergerak untk nonton film ini?*LOL*

Rasyidharry mengatakan...

Ditugaskan "atasan" haha

Andika Daffa mengatakan...

Sue, difilm Religi (abal-abal pula) ini ada OST menggelegar pula? benar-benar next level :v

Rasyidharry mengatakan...

Ya menggelegar doang, kayak getaran pas trafo PLN meledak

Andika Daffa mengatakan...

Out of Place :v

erdy syifa'urrohman mengatakan...

Dapat ilham apa kok nonton itu film :v

Rasyidharry mengatakan...

Ilham untuk tobat, aku sudah banyak dosa

Hanna Syammakh mengatakan...

Ada yg udh nnton wanita berdarah?? Review nya gmna??

Rasyidharry mengatakan...

Bisa cek disini, sama-sama mengenaskan :)
http://idfilmcritics.com/indonesian-movie/wanita-berdarah-2016-review/

Andika Hilman mengatakan...

karena film dari novel kali ya, makanya rame. apalagi ada religinya, kalau di kota saya pasti banyak yg nonton tanpa pandang bulu.

semoga film indonesia ke depan jauh makin berbobot. hmm.....

Rasyidharry mengatakan...

Film dengan embel-embel "mencerahkan", "menguatkan iman" dll apalagi kalau adaptasi novel emang cenderung laku, entah bagus atau nggak.

Amin :)

Arul Kabarindo mengatakan...

Hai Rasyid Harry.....amazing telaah Anda yaa utk Tausiyah Cinta yaa, sptnya spesialisasi komentator film religi y.....kritik Anda beralasan dan sejuta variabel y....detil....sy suka....pls WA saya agar bs gabung KOPI Koalisi Online Pesona Indonesia, ini WA: 081514824430

Hanna Syammakh mengatakan...

Tengkyuuh๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š

nadhifatul latifah mengatakan...

S E P A K A T

Herlan Ali mengatakan...

Penasaran bagaimana Mas Rasyid mereview film "Ketika Mas Gagah Pergi".

Kata pengarang novelnya sih filmnya OK banget tuh.

Rasyidharry mengatakan...

Haha tunggu aja, harusnya dapet jatah nonton itu :)

Detha Prastyphylia mengatakan...

Yaampun aku ngakak keras baca review ini di kantor ๐Ÿ˜‚ Nice review!

Detha Prastyphylia mengatakan...

Yaampun aku ngakak keras baca review ini di kantor ๐Ÿ˜‚ Nice review!

Rasyidharry mengatakan...

Kalem mbak, kalem :D

R. Daniswara Basunjaya Juno mengatakan...

ุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุฉُ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจَุฑَูƒَุงุชُู‡ُ
ุฅِู†َّ ุงู„ْุญَู…ْุฏَ ู„ِู„َّู‡ِ ู†َุญْู…َุฏُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุนِูŠْู†ُู‡ُ ูˆَู†َุณْุชَุบْูِุฑُู‡ُ، ูˆَู†َุนُูˆุฐُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ู…ِู†ْ ุดُุฑُูˆْุฑِ ุฃَู†ْูُุณِู†َุง ูˆَู…ِู†ْ ุณَูŠِّุฆَุงุชِ ุฃَุนْู…َุงู„ِู†َุง، ู…َู†ْ ูŠَู‡ْุฏِู‡ِ ุงู„ู„ู‡ُ ูَู„ุงَ ู…ُุถِู„َّ ู„َู‡ُ ูˆَู…َู†ْ ูŠُุถْู„ِู„ْ ูَู„ุงَ ู‡َุงุฏِูŠَ ู„َู‡ُ ،َุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„ุงَ ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„ุงَุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ.، ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ؛

Bismillah, bukan bermaksud menggurui atau apapun itu sok sokan, sebagai seorang yang sudah pernah mondok disebuah pesantren perkenankanlah saya mau memberikan tausiyah singkat sekali masalah doa, doa adalah janji Allah :

ุงุฏْุนُูˆู†ِูŠ ุฃَุณْุชَุฌِุจْ ู„َูƒُู…ْ
(ud’uni astajib lakum) QS Al mukmin 60

Artinya : Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (permintaan) bagimu…

Sesuatu yg dijanjikan oleh ALLAH itu pasti, tidak ada "embel-embel" apapun, berdoa adalah perintah dan sesuai janji Allah, PASTI dikabulkan tanpa syarat apapun dan bahkan tidak pandang siapa yang berdoa. Film ini benar-benar sangat berbahaya, mengarahkan kepada kepercayaan yg sangat berbahaya.