AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA (2016)

8 komentar
Salah satu isu terpenting sekaligus paling sensitif negeri ini adalah keragaman agama. Ironis memang tatkala di Indonesia yang mengusung "Bhinneka Tunggal Ika" acapkali pecah konflik dengan alasan perbedaan kepercayaan. Itulah alasan terbesar mengapa saya jengah saat suatu film (khususnya religi) menolak mempedulikan permasalahan tersebut dan justru berfokus meninggikan agama sendiri sembari merendahkan lainnya. Di tengah kondisi itu, tidak mengejutkan saat usungan pesan mengenai kebersamaan dan persaudaraan milik Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara karya sutradara Herwin Novianto terasa menyejukkan. Even if it's still far from being a great one, it's still an important movie that you should watch.

Seorang gadis asal Ciwidey, Jawa Barat bernama Aisyah (Laudya Cynthia Bella) baru saja meraih gelar sarjana dan tengah mencari pekerjaan. Didorong hasrat mengabdi plus sakit hati setelah tuntutan pekerjaan membuat pria pujaannya, Jaya (Ge Pamungkas) harus pindah ke Aceh, Aisyah menerima tawaran mengajar di NTT meski sang ibu (Lydia Kandou) sempat melarangnya. Mengajar di sana tentu tidaklah mudah mengingat kondisi tempat yang masih terbelakang  tidak ada listrik, kurang air bersih, sekolah penuh keterbatasan. Aisyah sendiri telah siap atas segala situasi di atas, namun tantangan terberat hadir ketika ia ditolak oleh beberapa murid, karena sebagai Islam, Aisyah dianggap menebar ancaman (mayoritas penduduk adalah pemeluk Katolik).
Ditulis berdua oleh Jujur Prananto dan Gunawan Raharja, naskah Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara sesungguhnya amat formulaik di semua sisi. Karakter Aisyah dibawa menuju rangkaian konflik yang kemudian mampu ia hadapi bermodalkan kesabaran dan kebaikan hati. Konklusi pun sanggup dideteksi sedari pertama Aisyah dihadapkan pada permasalahan utama. Fakta ini kerap memunculkan kesan menggampangkan dalam proses penyelesaian masalah. Untungnya karakter Aisyah dituliskan dengan baik tanpa harus terlampau suci atau sempurna. Dia boleh saja dipenuhi kelembutan hati, tapi tetap manusia biasa dengan berbagai urusan personal sederhana seperti home sick kala lebaran atau kegundahan hati akibat percintaan. Sentuhan sisi kemanusiaan itu cukup memudahkan saya bersimpati pada Aisyah.
Akting Laudya Cynthia Bella turut memfasilitasi kemunculan simpati tersebut ketika sang aktris sanggup menyulap tiap dialog Aisyah terdengar alamiah, bukan semata-mata baris kalimat inspiratif. Tatkala melakoni adegan dramatis, Bella mampu memunculkan curahan emosi dalam takaran tepat, membuat penonton terenyuh oleh tangisannya tanpa eksploitasi berlebihan. Semakin lengkap saat Bella menghindarkan kekakuan dari karakternya lewat beberapa sentuhan kecil semisal senyum malu-malu di dekat pria idamannya atau sedikit rengekan pada sang ibu. Arie Kriting sebagai Pedro juga mencuri perhatian di setiap kemunculannya. Bermodalkan celotehan singkat efektif yang tidak sampai merusak tone adegan, Arie berhasil menyegarkan suasana. Para aktor cilik pun menghadirkan performa memikat, sehingga interaksi antara Aisyah dan murid-muridnya terasa meyakinkan.

Sayangnya seringkali penyutradaraan Herwin Novianto terkesan overly dramatic khususnya saat suatu adegan dramatis dibenturkan dengan musik gubahan Tya Subiakto. Kekeliruan bukan terdapat pada scoring yang sejatinya well-made, namun dentuman musik megah sering digunakan mengiringi adegan berintensitas tak seberapa secara berulang. Herwin Novianto berusaha terlalu keras mendramatisir adegan, sehingga alih-alih menyentuh, saya justru acapkali terganggu oleh ketidaksesuaian tersebut. Memang "penyakit" dramatisasi berlebihan macam ini masih kerap menjangkiti drama tanah air yang coba menuturkan kisah inspiratif. Untungnya usungan pesan mengenai persatuan antar umat beragama tersampaikan cukup kuat melalui momen sederhana seperti membuat pohon natal bersama. Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara mungkin masih terjebak dalam keklisean serta dramatisasi tutur berlebih, tapi untaian pesannya penting disimak, terlebih performa memikat jajaran cast memberi kekuatan emosional bagi kisahnya. 


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

8 komentar :

Comment Page:
Angga Saputra mengatakan...

Tapi seperti nya film ini wajib juga ditonton apalagi melihat akting Bella yg makin jago banget..:)
Saya pribadi blm menonton sih tpi usahain nonton juga...

Rabian Bulan mengatakan...

Ada yang ngiklan furniture euy. Hehe...

Hmmm... sebetulnya sudah lama ingin menyampaikan ini, tetapi selalu lupa. Pertama, saya perhatikan Mas Harry sering sekali menggunakan istilah sinematografi. Seperti sequence, subplot, scoring, layer, dragging, dll. Saya orang awam kadang nggak nyambung dengan istilah-istilah itu. Sekedar masukan, bagaimana bila Mas Harry buat satu artikel khusus yang membahas istilah itu. Memang merepotkan, tetapi saya betul-betul ingin tahu. Agar lain kali ketika saya baca tulisan yang 'sangat-sangat' bergizi ini, saya tidak terganggu saat dihadirkan istilah-istilah itu.

Kedua, saya berharap sekali blog ini terus mempropagandakan film-film nasional. Lihat! film-film nasional kini kualitasnya tidak jauh berbeda dari film-film Hollywood. Bahkan, satu bulan terakhir, film nasional berhasil mematahkan dominasi film-film Hollywood dalam perolehan penonton. Seperti yang dilakukan AADC2 dan My Stupid Boss. Penonton lebih banyak tersedot pada kedua film ini ketimbang CiWa dan Y-Men (kasus di Blitz J-Walk).

Ketiga, tetap pertahankan tulisan seperti ini Mas. Dari beberapa blog film yang pernah saya baca, blog Mas Harry paling maknyus: sederhana, tajam, dan no-iklan.

Rasyidharry mengatakan...

Yes, akting Bella selalu bikin film-filmnya layak tonton

Rasyidharry mengatakan...

Makasih masukannya tentang istilah. Kalau membuat satu artikel khusus mungkin belum kepikiran ya bentuknya gimana, tapi pasti bakal berusaha lebih menjabarkan arti-artinya lagi.

Tentu, saya yakin film lokal sudah mulai berjalan ke arah yang benar, makanya review untuk film Indonesia akan diusahakan sebanyak mungkin juga :)

Sekali lagi makasih sudah menyempatkan baca & komentar ya :)
(ada ya blog review yang ngiklan? hehe)

Billy Simamora mengatakan...

Setuju bang.. Kalau bisa dibuat artikel mengenai istilah seputar dunia film.. Atau ngga artikel trivia yg ada di dunia film.. Jangan cuma review film aja bang..

Salut juga bang rasyid selalu review film-film Indonesia,bahkan rela buang waktu utk menonton dan nge-review yg 'trash' sekalipun (kayak film horor Indonesia yg kualitasnya masih memprihatinkan),, semangat terus nge-blog nya bang :)

Rasyidharry mengatakan...

Kalau ada waktu & ide, diusahain nulis tentang itu.
Yah, kan harus ada yang jadi martyr *eh*

keziarhh mengatakan...

Belum sempat. Sayaaa tonton sih. Tapi berdasarkan trailernya, ada beberapa hal yang ingin saya catat.

Film Aisyah memperlihatkan bahwa tidak selalu orang Muslim yang melakukan diskriminasi. Diskriminasi padaa akhirnya adalah siapa yang punya kekuatan dan siapa yang tidak. Tapi representasi atau visibilitas umat Kristen yang rendah di layar perak Indonesia membuat saya memandang sebelah mata film ini.

Rasyidharry mengatakan...

Well, in the end Aisyah ini tetap "film Islam" sebenernya, tapi menyuarakan persaudaraan antar umat beragama. Nggak sebegitu dalam ngegali konflik itu but masih jauh di atas mayoritas film religi lain kok :)