SURGA MENANTI (2016)

6 komentar
Ada beberapa miskonsepsi dalam Surga Menanti: kuantitas mengalirnya air mata karakter berbanding lurus dengan rasa haru penonton, memasukkan sebanyak mungkin kalimat bijak membuat film lebih religius, penggabungan acak tearjerker moment plus lontaran setumpuk kata mutiara layak disebut plot, kehadiran pemuka agama sebagai cast walau tak jelas perannya dapat menguatkan kesan Islami, dan Pipik Dian Irawati a.k.a. Umi Pipik mampu menjadi ikon terbaru sinema religi tanah air. Tahukah para pembuat film ini bahwa berbagai asumsi di atas kurang tepat? Tahukah mereka bahwa ceramah agama dan film  meski bisa disatukan  sejatinya dua hal berbeda? 

Daffa (Syakir Daulay) adalah seorang bocah yang menetap di pesantren guna mengejar impiannya menjadi hafidz (penghafal Al Qur'an). Termasuk salah satu siswa paling berprestasi, Daffa terpaksa harus berhenti dari pesantren demi merawat sang ibu, Humaira (Pipik Dian Irawati) ketika ia menderita sakit parah dan diperkirakan usianya takkan lama lagi. That's what 'Surga Menanti' is all about in its 102 minutes of running time. Ada dua hal mendominasi film. Pertama adalah kalimat berisi ceramah mengenai pentingnya menghafal Al Qur'an atau himbauan bersabar menghadapi cobaan. Semua tokoh kebagian porsi menuturkan ceramah tersebut, mulai para Ustadz hingga anak kecil seperti Daffa. Alhasil naskah garapan Dyah Kalsitorini terasa bagai kompilasi quote khotbah solat Jumat.
Aspek dominan kedua berupa adegan Humaira pingsan diiringi tangisan karakter-karakternya. Disease porn jelas bentuk kemalasan, namun apabila penonton mampu terpikat oleh sang tokoh simpati dapat dihadirkan. Surga Menanti lalai melakukan itu, karena selain menangis dan pingsan, praktis hal lain yang pernah Humaira lakukan hanya solat, menulis, mengaji, dan sekali menolong tetangganya melahirkan di adegan pembuka. Bahkan intensitas tangisan Dewi Sandra di sinetron Catatan Hati Seorang Istri tidaklah sesering itu. Produksi air mata tokoh-tokoh film ini seolah tak pernah habis, karena bukan menangis bukan tugas Humaira saja, puteranya pun serupa. Di sebuah sequence, Daffa terus menangis tersedu-sedu sedari perlompaan Hafidz kecil, pengumuman pemenang, di tengah perjalanan, sampai tiba di rumah sakit. 

Hastobroto selaku sutradara bak menggampangkan proses pembangunan emotional impact penonton filmnya. Menebarkan sebanyak mungkin petuah bijak tidak otomatis membuat penonton menerima hidayah, perlu contoh nyata berupa pemaparan sebab-akibat suatu tindakan supaya penonton terdorong mempercayai paparan pesannya. Begitu pula dengan tangisan. Memperlihatkan protagonis menangis sesering mungkin justru bakal terasa annoying ketimbang menyentuh hati penonton. Semakin memperburuk situasi tatkala mencapai babak konklusi, film ini meningkatkan kadar dramatisasinya melalui rentetan tragedi mendadak nan dibuat-buat. It's not that simple to grab audience's emotion, you know. Untung (di luar dugaan) cara Surga Menanti berceramah walau sedikit menggurui tak sampai pada tingkatan pemaksaan berlebih berkat penuturannya yang masih terdengar lembut.
Performa jajaran cast sebenarnya tidak buruk. Agus Kuncoro mempertahankan charm-nya sebagai pria soleh walau penampilannya makin repetitif mengingat karakter serupa telah ia lakoni berkali-kali. Aktor cilik Syakir Daulai juga telah berusaha maksimal untuk menghindari kesan kaku meski dia ikut jadi korban eksploitasi air mata film ini. Saya justru kasihan pada Umi Pipik yang terus dikuras tangisnya hingga entah berapa botol obat tetes air mata buatan dihabiskan dalam proses pengambilan gambar. At least she did a good job on passing out. She won't be the next religious movie icon with this kind of acting. Jangan lupakan glorified cameo Syekh Ali Jaber yang kemunculan awalnya (berbalut siluet) bak sosok mythical dan membuat saya bingung apa peranannya selain mereka ulang posisinya selaku juri kompetisi hafidz cilik. Sempat pula ia memberi Al Qur'an braille digital bagi ayah-anak tuna netra yang kisahnya akan jauh lebih heartwarming daripada penyakit Humaira jika dijadikan film. 

Surga Menanti sesungguhnya digarap serius, tidak asal jadi meskipun kekurangan teknis semisal gambar pecah tetap sesekali bertebaran. Tapi seperti banyak drama religi tanah air, film ini lupa bahwa ceramah agama dan film merupakan dua hal berbeda. Tidak masalah menyelipkan pesan-pesan religi ke dalam film, namun apabila hanya memperhatikan itu dan melupakan tugas storytelling, suatu film tak ubahnya telah meremehkan bobot dari sebuah film. Pada akhirnya silahkan saja kalau Surga Menanti memang sengaja dikemas hanya menjadi ceramah, tapi bukankah meminta orang-orang membayar puluhan ribu guna mendengarkan ceramah sama halnya dengan komersialisasi agama? Bukan tuduhan, sekedar pertanyaan orang awam. 


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

6 komentar :

Comment Page:
Hendra Siswandi mengatakan...

Film religi harusnya bisa dinikmati semua umur. Saya cuma kasihan sama anak anak yang menonton, terlalu berat untuk mereka kalau disuguhi air mata dengan intensitas tinggi.

Rasyidharry mengatakan...

Nah! Setuju banget dengan opininya

Indra Fathan mengatakan...

Film religi seperti ini biasanya kebanyakan memang ditujukan buat penonton ibu-ibu

Sabila Rasyad mengatakan...

kompilasi khotbah jumat.

Farzana Alula mengatakan...


Farzana Alula ·
#KiMI Grup Fb# Like&Share.. Dukung Pembuatan Film Kemuliaan Hafizah, Dari Novel Inspiratif Yang Mengharukan.. https://m.youtube.com/watch?v=0silZDZjBh4&feature=share

Syamsu Rijal mengatakan...

film genre taik sbaiknya tdk prlu ditonton.