LIGHTS OUT (2016)

22 komentar
Kegelapan kerap diidentikkan dengan kengerian, tempat di mana selubung teror  hantu, monster, etc.  bersemayam. Mitos jika hantu bakal menampakkan diri kala cahaya meredup pun wajar, mengingat manusia cenderung takut pada hal yang tidak dapat kita lihat/ketahui. Kepercayaan tersebut digunakan oleh David F. Sandberg sebagai dasar pembuatan "Lights Out", film pendek berdurasi tiga menit rilisan tahun 2013 yang menciptakan sensasi viral. Film itu pun menarik perhatian James Wan yang merekrut Sandberg guna menyutradarai versi panjang dari "Lights Out". Insting Wan terbukti tepat kala filmnya berujung sebagai salah satu supernatural horror terbaik tahun ini.

Melalui opening yang notabene merupakan ekspansi film pendeknya, kita melihat sesosok makhluk misterius bercakar membunuh Paul (Billy Burke) di tempat kerjanya. Kematian Paul membuat sang istri, Sophie (Maria Bello) terjerumus dalam depresi, menelantarkan puteranya, Martin (Gabriel Bateman) yang masih berusia 10 tahun. Martin sendiri mendapati ibunya sering bicara sendiri dengan sosok tak terlihat bernama Diana. Tatkala Diana mulai meneror Martin, ia mendatangi kakaknya, Rebecca (Teresa Palmer) yang telah bertahun-tahun pergi dari rumah pasca kematian ayahnya (Paul adalah suami kedua Sophie). 
Eric Heisserer selaku penulis naskah tak berlama-lama menyusun introduksi, meminimalisir konflik believer versus skeptical yang acapkali mendominasi first act dari horror bertemakan supranatural. Faktanya, hanya butuh satu malam untuk menempatkan Rebecca dalam teror Diana. Keseluruhan "Lights Out" memang minim basa-basi, langsung menyoroti pokok permasalahan, bergerak cepat selama durasinya yang pendek (81 menit). Walau begitu, filmnya masih sempat menyuntikkan paparan dramatik kuat untuk ukuran mainstream horror mengenai psikis karakter. Sosok Diana ibarat perwujudan duka para tokoh, muncul tatkala mereka berada di titik nadir. Progresi alur pun dapat dilihat sebagai proses karakternya saling menguatkan meski Eric Heisserer tak sampai mencuatkan ambiguitas layaknya "The Babadook"  Diana adalah hantu asli, bukan halusinasi. 

Bersenjatakan keseimbangan antara kerapuhan akibat duka masa lalu dengan kekuatan dari kasih sayang terhadap keluarga, Teresa Palmer memberi kedalaman, sehingga Rebecca punya lebih banyak dimensi ketimbang banyak protagonis horror di luar sana. Maria Bello melakukan usaha terbaik menghidupkan gangguan psikis karakternya walau Sophie sebenarnya pantas mendapat eksplorasi lebih jauh. Kekokohan akting mengejutkan disajikan oleh Gabriel Bateman si aktor cilik yang tampak dewasa tanpa kehilangan sisi kanak-kanaknya. Sewaktu melakoni adegan dramatis ia sukses menghadirkan kadar emosi dengan dosis sempurna. 
Bicara soal tingkat kengerian, "Lights Out" sukses memantapkan status sebagai one of the better mainstream horror in years, serupa pencapaian James Wan sang produser. Dua pertiga durasi khususnya second act memang banyak diisi hal klise  a false alarm followed by a real scare  yang sejatinya terasa malas dan kurang memaksimalkan potensi keunikan konsepnya. Belum lagi kebingungan dalam menjelaskan konsep itu, menciptakan pertanyaan besar: apakah Diana memiliki kemampuan mematikan lampu? Biasanya plot hole serupa bakal saya lupakan, namun untuk kasus "Lights Out" yang coba mengedepankan kesegaran konsep, standar penilaian pun turut saya sesuaikan (baca: tingkatkan). Terkadang kebodohan laku karakter juga timbul (mencari seseorang di basement gelap) meski sesekali kepintaran ikut hadir (memanggil polisi). 

Kekurangan tersebut untungnya mampu dibayar lunas kala film mencapai third act. David F. Sandberg bukan saja sanggup memacu jantung saya melalui kemunculan jump scare yang bertambah efektif berkat kesempurnaan timing serta pembangunan antisipasi, dia berikan pula kreatifitas menarik berupa penggunaan berbagai metode oleh karakternya guna menjaga supaya bermacam jenis cahaya  layar handphone, lampu mobil, lilin, etc.  tetap menyala. Berpadu sinematografi karya Marc Spicer yang mengkombinasikan berbagai jenis suasana remang, "Lights Out" has an amazingly scary, intense, and smartly crafted third act. 

22 komentar :

Comment Page:
Zulfikar Knight mengatakan...

Padahal rated PG-13 tapi gak kalah seram sama Conjuring 2 (yang harusnya juga di rated PG-13)

Angga Saputra mengatakan...

film ini sukses membuat saya jantungan dgn jump scare yg di hadirkan.konsep matikan lampu hidupkan lampu cukup unik ya jdi was was pas lampu mulai mati..sayang nya durasi nya cuma sedikit dan ending nya terlalu cpt diselesaikan..

Handy Joli mengatakan...

Review film "I heart Huckabees" dong. bagus banget tuh film. jgn dengerin apa kata kritikus

Rasyidharry mengatakan...

IMO, Conjuring 2 dapet R karena kontennya lebih disturbing, kalau film ini lebih "jinak"

Rasyidharry mengatakan...

Sebenernya agak ragu filmnya nggak dragging kalau durasi ditambah, kecuali mau eksplorasi dramatik macam "The Babadook" gitu

Rasyidharry mengatakan...

I Heart Huckabees nggak di-review jelek kok sama critics, lumayan lah 62% di Rotten Tomatoes :)

Handy Joli mengatakan...

tapi agan udah nonton?

Maksum Solikhin mengatakan...

Bagusan mana nih? The Conjuring 2 atau Lights Out?

Angga Saputra mengatakan...

iya juga krn konsep yg dipakai cuma diulang2 saja..matikan lampu hidupkan lampu tapi ending penyelesainya cuma begitu doang ya..

Rasyidharry mengatakan...

Udah, tapi nggak di-review. But I like it :)

Rasyidharry mengatakan...

Lebih suka The Conjuring 2

Fachri Yousa mengatakan...

Lima film horror terbaik menurut bang rasyid apa aja nih?

Rasyidharry mengatakan...

Pernah bikin artikelnya di sini, tapi 20 hehe
http://movfreak.blogspot.co.id/2015/10/my-20-favorite-horror-films-for-your.html

Fachri Yousa mengatakan...

Oia, baru inget udh pernah baca artikelnya..haha
Nice list, bang.
Dari 20 itu, peringkat pertamanya apa nih? The Exorcist kah?
Buat saya itu film horror terbaik sepanjang masa, lengkap di semua aspek, jarang2 soalnya ada film horror bernaskah bagus seperti The Exorcist..

Rasyidharry mengatakan...

Kalau yang terbaik pasti The Exorcist lah, lengkap dari horror, akting, naskah, semua kuat. Tapi favorit sih The Cabin in the Woods. Paling fun, udahh ditonton berkali-kali :)

Ari Budiyanto mengatakan...

Cm kecewa di endingnya.... Ya gitu doang... Masih tetep lebih suka The Conjuring 2
Lg nunggu Don't Breathe

Zulfikar Knight mengatakan...

Well, ane punya pengalaman buruk menonton film D-17+ padahal ane masih umur 15 thn. Kemarin nonton Lights Out dibeliin sama orang lain :v

Bobby Primadiasnyah mengatakan...

Di rotten dapet 90,apakah bener lebih serem dari conjuring?paling enggak setara babadook?

Rasyidharry mengatakan...

Buat saya masih Conjuring 2 lebih seram & Babadook ceritanya lebih kuat

Fachri Yousa mengatakan...

Unsur Meta nya bikin The Cabin in the Woods jadi enjoyable bgt yak.
Drew Goddard emg jenius sih, selalu suka sama naskah tulisan doi.
Oia, kayaknya klo bikin list top 5 dari tiap genre film versi movfreak seru jg tuh bang..hehe

Rasyidharry mengatakan...

Pengen sih, tunggu jumlah tontonannya lebih banyak hehe

Dana Saidana mengatakan...

Ada satu lagi yang belum tuntas Mas.

Ketika mendekati ending film sosok Diana ini mengatakan kepada Rebbeca apakah dia ingin tahu keberadaan ayah kandungnya dimana.

Sampai ending film keberadaan ayah kandungnya ini gak jelas kesimpulannya, apakah memang pergi meninggalkan anak istrinya, ataukah dibunuh oleh sosok Diana ini..