MUSIK UNTUK CINTA (2017)

20 komentar
"Musik untuk Cinta" tergabung bersama judul-judul seperti "Terjebak Nostalgia" dan "Multiverse: The 13th Step" sebagai film Indonesia yang perilisannya mundur tahun lalu. Tapi pencapaian film karya Enison Sianaro ("Long Road to Heaven") ini jauh lebih dahsyat. Telah merampungkan pengambilan gambar di tahun 2011 dan siap tayang pada 2012, karena "satu dan lain hal" (demikian ungkap Ian Kasela sang pemeran utama) mundur empat tahun menjadi 14 Januari 2016 sebelum akhirnya benar-benar tayang di Maret 2017. Luar biasa! Jangka waktu penundaannya hampir setara album "Chinese Democracy" milik Guns N' Roses. Tapi sebagaimana kita tahu, album tersebut berakhir busuk. Demikian pula film ini. 

Sejatinya saya sempat optimis kala menyaksikan adegan pembuka berisi Kirab Budaya Cirebon digarap menarik khususnya dari tata visual. Departemen sinematografi yang dipegang Rudy Kurwet (kenapa nama-nama kru film macam ini selalu ajaib?) sejatinya lumayan. Beberapa sudut pengambilan gambar sepanjang film layak disebut menarik. Namun siapa sangka, gelaran cerita filmnya jauh lebih menarik, unik, sekaligus mengherankan. Sambutlah karakter utama kita, Cecep (Ian Kasela), seorang pemuda dari keluarga miskin dengan keseharian menggarap sawah dan berjualan singkong. Cecep digambarkan sebagai sosok lugu, jujur, baik hati, pokoknya calon menantu idaman. Tapi ada lubang dalam hidup protagonis tercinta kita ini. Dia jomblo. 
Cecep pun memutuskan berkeliling Cirebon untuk mencari wanita. Sungguh. Saya tidak mengada-ada. Menunggangi delman, Cecep mulai mendatangi berbagai tempat, mencari wanita yang bersedia ia goda. Sampai akhirnya Cecep yang baik hati nan tampan rupawan ini sampai di sanggar latihan tari di mana ia bertemu Dewi (Arumi Bachsin), puteri keluarga Keraton Kasepuhan. Lalu apa yang Cecep lakukan setelah terpukau oleh kecantikan sang puteri? Dari kejauhan ia memanggil, "neng, neng, neng". Ya, Cecep, protagonis tercinta kita beranggapan bahwa wanita cantik puteri Keraton bisa tergoda oleh pria asing tak sopan yang mendadak memanggilnya bak preman pinggir jalan menggoda orang lewat. 

Tapi anda tahu? Dewi tergoda! Dewi lebih memilih Cecep ketimbang Surya (Ferry Ardiansyah) anak pengusaha besi tua kaya raya dan AA Jimmy (Argo AA Jimmy) sang ulama yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk mengajarinya mengaji (baca: PDKT). "Musik untuk Cinta" menunjukkan pada penonton bahwa merupakan kewajaran jika seorang pria ingin mendapat pacar, ia berkeliling kota mencari perempuan yang mau digoda, lalu tanpa basa-basi memanggil "neng, neng, neng", kemudian voila! Puteri Keraton pun didapat. Dewi berkata ia memilih Cecep karena kepribadiannya. Maaf, tapi kepribadian yang mana? 
Singkatnya, karena selalu diremehkan oleh orang tua Dewi, Cecep merantau ke Jakarta. Tanpa uang, tanpa modal kemampuan, tanpa pendidikan. Koreksi kalau saya keliru, tapi bukankah ini salah satu penyebab masalah kependudukan ibukota? Cecep pun harus berjuang keras, menjadi tukang parkir, pramusaji, sampai akhirnya sukses sebagai production management sebuah perusahaan rekaman. WOW! Apakah Cecep ternyata punya kemampuan tersembunyi? Oh, ternyata pekerjaan itu ia dapat dari kawan lamanya, Abun (Philip Jusuf). "Musik untuk Cinta" konon berpesan tentang kegigihan, tapi bagian mana yang menyimbolkan kegigihan dari kenekatan merantau tanpa bekal lalu berhasil karena pemberian teman? Tidak hanya Cecep, seluruh tokoh luar biasa menyebalkan. Entah bodoh, sombong, pemaksa, dan lain sebagainya. 

(Spoiler alert) Cecep akhirnya terlena oleh kesuksesan pemberian teman itu, menjadi konsumtif, sombong, pemabuk lalu dipecat dan kembali melarat. Anehnya, bukannya simpati saya justru puas melihatnya. Cecep dengan segala keluhannya layak mendapatkan itu. Sudah bisa ditebak, nasib akhirnya kembali berpihak pada protagonis tercinta kita, tapi bagaimana caranya? Oh, ternyata Abun berbaik hati memaafkan si kawan lama, memberikan lagi pekerjaannya. Baiklah. Secara keseluruhan "Musik untuk Cinta" punya tokoh utama yang sukses bukan karena usaha tetapi sepenuhnya belas kasih orang lain. Naskah garapan Kadjat Adra'i dan Iman Taufik terlalu menggampangkan resolusi konflik termasuk bagaimana Cecep menengahi permasalahan antara Abun dengan Titiek Puspa. Tunggu, ada Titiek Puspa? Ya, begitu pula Andra & the Backbone yang mendadak menampilkan "Musnah" di penghujung film.
"Musik untuk Cinta" tentu punya musical sequence. Tidak perlu bertanya apakah hasilnya bagus. Sound mixing-nya kacau. Suara bisa mendadak naik, turun, bahkan menghilang secara kasar. Pemilihan lagunya pun absurd. Ketika lagu film musikal umumnya memiliki benang merah satu sama lain, bermodalkan semangat "semau gue" film ini asal memasang lagu. Ada tradisional, tembang kenangan, religi, dan pop soal cinta. Bahkan sekuen musikal hanya muncul dua kali yang semuanya menggelikan. Saya berkesimpulan, maksud kata "musik" pada judulnya bukan merujuk pada genre musikal atau eksplorasi budaya musik, melainkan diputarnya lagu sebanyak mungkin sepanjang durasi. Untuk apa pula Cecep diceritakan pandai menyanyi jika ujung-ujungnya bekerja menjadi manajer produksi ketimbang talent?

Hiburan terbesar film ini adalah menyaksikan Ian Kasela tanpa kacamata yang konsisten memasang tatapan nanar bak memohon belas kasihan. Saya curiga poin utama "Musik untuk Cinta" adalah perjalanan seorang Ian Kasela untuk menemukan kacamata hitam yang merupakan ciri khasnya. Terbukti, menjelang akhir mendadak ia memakai kacamata, memainkan lagu "Jujur" bersama Radja di tengah keramaian jalan raya yang dengan mudah mengalahkan surealisme opening "La La Land". Selain Ian tanpa kacamata, hiburan dapat diperoleh pula lewat rentetan kalimat menggelikan, semisal "dikasih hati malah nginjek kepala" yang dilontarkan oleh aktornya secara serius. Demikianlah, jika ingin menikmati suguhan romansa berbalut unsur musik memikat ada film Indonesia rilisan minggu ini yang bakal memuaskan anda. Judulnya "Galih & Ratna".


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

20 komentar :

Comment Page:
Hardy mengatakan...

Review nya kocak
Tapi kayanya "menarik" filmnya
Sekedar hiburan

Anonim mengatakan...

Yes, karena review bang Rasyid yang kocak inilah, yang bikin saya pengen nonton ini ketimbang Galih dan Ratna (baca: penasaran tanpa alasan) :")

Erwin Sanz mengatakan...

Liat premisnya kok kayak cerita FTV tengah malam di Sctv

Tezar Kharismayadi mengatakan...

udah ekspetasi buruk semenjak nonton trailernya pas nonton logan. Awalnya liat ada andra n the backbone keknya mikir bakal bagus, pas tau pemerannya ian kasela.. pppfffffftttttt....

Rasyidharry mengatakan...

Well, menarik buat diketawain :D

Rasyidharry mengatakan...

Hahaha kalau sampai bener nonton ini daripada Galih & Ratna itu sama nekatnya sama si Cecep merantau ke jakarta

Rasyidharry mengatakan...

Memang mirip FTV :)

Rasyidharry mengatakan...

Apaan, Andra & the Backbone cuman 2 menit pas credit haha

free mengatakan...

Oh ini tho film yg dulu gembar-gembor tag line "Pingin liat Ian Kasela tanpa kacamata". Kenapa nayanginnya di masa group band Radja udah gak gitu terkenal.
Nostalgia kah?

Heru Pramono mengatakan...

Ini film udah jadi lama, lalu baru dirilis sekarang?? Radja, Arumi Baschin, bahkan Andra n The Backbone? Berasa ada di tahun 2010-an. Hahaha.

Raid Mahdi mengatakan...

akhirnya Indonesia punya Plan 9 from Outer Space sendiri, salut lah :D

Rasyidharry mengatakan...

Kecuali fans Radja mah nggak bakal nostalgia :D

Rasyidharry mengatakan...

Betul. Lha kelar tahun 2011, feel Inbox & Dahsyat masih berasa :D

Rasyidharry mengatakan...

Oh kalau "the real Plan 9" mari tunggu Multiverse: The 13th Step beneran rilis

Tezar Kharismayadi mengatakan...

maklum tertipu trailer hahaha

Rasyidharry mengatakan...

Sama sih sebenernya, ketipu juga, kirain at least bakal muncul satu lagu penuh, ternyata....

Raid Mahdi mengatakan...

waw, multiverse, berarti ente cenderung mual dibanding ngakak pas nonton ni file vid- eh film?

yazuli al amin mengatakan...

Ini Film bisa dapet penghargaan sountrack terbaik di IMA , kalau Ian mau gabung Harry Tanoe wkwkwkwkwkw

Sony Sirait mengatakan...

Luar biasa! Jangka waktu penundaannya hampir setara album "Chinese Democracy" milik Guns N' Roses. Tapi sebagaimana kita tahu, album tersebut berakhir busuk. Demikian pula film ini.

Ngakak abis mas :D

Rasyidharry mengatakan...

Intinya Ian Kasela = Axl Rose *eh*