KOBOY KAMPUS (2019)

3 komentar
Seringkali, kata “representasi” menentukan kenikmatan kita menyaksikan sebuah film. Walau kualitasnya jeblok sekalipun, jika film itu sanggup mewakili aspek-aspek dalam hidup kita, kelemahannya bisa dimaafkan. Itulah yang terjadi antara saya dengan Koboy Kampus selaku karya terbaru Pidi Baiq, yang kali ini menyutradarai filmnya bersama Tubagus Deddy, yang sebelumnya menulis naskah Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara (debut penyutradaraan Pidi).

Meski sadar betul betapa berantakan penceritaan Koboy Kampus, kisahnya mengingatkan saya pada masa-masa indah kala berkuliah kala studi terbengkalai akibat terlalu sering menghabiskan waktu di ruang seni bersama teman-teman, menyanyi, tertawa, memikirkan asmara, bicara ngalor ngidul soal segala hal, sembari mengutarakan sudut pandang absurd kami masing-masing.

Berlatar tahun 1995-1998 tatkala gejolak jelang reformasi makin memanas, filmnya memaparkan kehidupan Pidi Baiq (Jason Ranti), mahasiswa seni rupa ITB yang menginisiasi berdirinya “Negara Kesatuan Republik The Panasdalam” alih-alih ikut turun ke jalan. Meminjam ucapan Ninu (Ricky Harun), The Panasdalam adalah “kingdom of have fun” (plesetan “kingdom of heaven”), yakni tempat di mana rakyatnya bisa bersenang-senang biarpun kondisi Indonesia sedang kalut.

Tapi mereka tetap para mahasiswa kritis, sebagaimana filmnya tunjukkan melalui beberapa obrolan seputar politik hingga esensi bernegara. Koboy Kampus pun berpeluang memantik diskusi berisi ragam perspektif, andai karakter Pidi, yang bergelar “Imam Besar The Panasdalam”, tidak didesain sebagai sumber kebijaksanaan yang senantiasa menuntaskan masalah lewat petuah-petuah.

Mengenakan jaket jeans dan jago merangkai kata, Pidi memang tak ubahnya Dilan, yang kegombalannya digantikan kalimat-kalimat bernada filosofis mengenai isu sosial-politik. Dan seperti Dilan 1990, Koboy Kampus sejatinya tidak memiliki plot, bergerak layaknya kompilasi sketsa plus video klip.

Naskah yang juga ditulis oleh Pidi dan Tubagus selalu melemparkan konflik demi konflik secara acak, pula tanpa benang merah kecuali bahwa seluruh konflik itu melibatkan individu-individu dari The Panasdalam. Dari usaha menggaet hati mahasiswi, ancaman drop out, gesekan dengan KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) dan jajaran aktivis, pelarangan ospek, dan lain-lain. Mayoritas permasalahan di atas berujung memberi ide bagi Pidi menggubah lagu. Masalah diutarakan, Pidi bernyanyi, kemudian usai. Fokusnya nol besar, namun seperti telah disebutkan, secara personal, aktivitas-aktivitas The Panasdalam terasa begitu dekat.

Apalagi kisahnya bertempat di luar hingar bingar ibukota (Bandung), menjadikan keguyuban tokoh-tokohnya semakin terasa. Di balik canda tawa mereka ada keintiman hangat. Seolah saya sedang berkendara melewati kenangan tanpa destinasi pasti, tapi karena menghadirkan nuansa sentimentil, saya memilih pasrah, diam, menikmati pemandangan. Jajaran pemainnya pun solid, terlebih Jason Ranti, sehingga walau karakter Pidi kerap kurang manusiawi (lagi-lagi seperti Dilan), saya bisa menikmatinya berseloroh.  Turut mencuri perhatian adalah kejenakaan komedi deadpan Anfa Safitri sebagai Rianto si pria bernasib malang perihal percintaan. Tambahkan lagu-lagu bernada catchy dan berlirik jenaka milik The Panasdalam Bank, perjalanan ini semakin menyenangkan.

Tapi tedapat satu unsur problematik, yakni terkait persepsi Koboy Kampus terhadap Orde Baru. (SPOILER ALERT) Kadang filmnya seperti mendukung Soeharto (nyanyian Pidi yang menyindir revolusi, reformasi, dan demokrasi, sampai ucapan terima kasihnya kepada sang diktator), kadang seperti menentang Soeharto (keputusan “bersatu kembali” dengan Indonesia selepas keruntuhan Orde Baru). Saya teringat akan suatu artikel yang menyebut bahwa pembentukan Negara Kesatuan Republik The Panasdalam merupakan bentuk protes akan Soeharto. Tapi apa pun sudut pandang Pidi, ambiguitas ini menunjukkan kurang mulusnya penyampaian pesan Koboy Kampus.

3 komentar :

Comment Page:
Mahendrata Iragan Kusumawijaya mengatakan...

Dari sisi penceritaan emang masih kedodoran beliau bikin cerita yang oke. Akting para tokohnya juga kek masih ama karakter asli mereka. Masih belum bisa mengunguli perjalanan karier R Dika sih Ayah Pidi. Dari penulis Novel, skenario ke sutradara. But I still be the Biggest Fan of The Pandal sih....
Ga nyangka bakal dapet 3 bintang...
Kirain 2 atau 2,5...

Spoiler alert

Salah satu lagu favorit Nia ternyata masuk list. Dan baru tau euy, ternyata Nia seorang minang.... Uwu.....

Rasyidharry mengatakan...

Beneran mengakui filmnya kacau, tapi ya itu tadi, kedekatan representasi. 😁

BELAJAR BAHASA mengatakan...

keren