Tampilkan postingan dengan label Pidi Baiq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pidi Baiq. Tampilkan semua postingan

MILEA: SUARA DARI DILAN (2020)

Berlawanan dengan prinsip banyak pecinta film, saya mendukung keberlangsungan sekuel, prekuel, atau ragam bentuk karya “non-original” lain yang bertujuan mendulang keuntungan finansial. Eksistensinya berguna menyehatkan industri. Tapi Milea: Suara dari Dilan terlalu jauh mendorong batasan produk berorientasi profit, dengan menyamarkan diri sebagai pelengkap perspektif terhadap seri film Dilan, walau mayoritas hanya rangkuman kisah-kisah sebelumnya.

Kisahnya dibuka oleh narasi meta dari Dilan (Iqbaal Ramadhan), tentang bagaimana Pidi Baiq mengadaptasi kisah cintanya dan Milea (Vanesha Prescilla) menjadi dua novel dari sudut pandang si gadis. Kini, dalam rangka penulisan novel ketiga, giliran perspektif Dilan yang diangkat. Seperti judulnya, kali ini penonton mendengarkan suara Dilan guna memandang kisah melalui sisinya. Pertanyaannya, seberapa banyak pemahaman baru yang didapat setelah menyaksikan film ini?

Milea: Suara dari Dilan bermaksud melengkapi Dilan 1990 (review) dan Dilan 1991 (review) sebagai film kolektif. Bentuk tersebut kira-kira tidak jauh beda dengan The Disappearance of Eleanor Rigby (2013) yang terdiri atas tiga versi: Him, Her, dan Them. Film kolektif semacam itu wajib saling melengkapi. Tapi, alih-alih demikian, naskah buatan Pidi Baiq bersama Titien Wattimena, yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Pidi, sebatas melakukan reka ulang berisi momen-momen memorable dari dua film pertama, yang disusun menggunakan kumpulan stok footage lama. Ibarat album musik, ini adalah album The Best of...

Para penggemar fanatik mungkin bakal terbuai saat mendengar lagi gombalan ikonik Dilan, sebutlah “Kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu”, “Jangan rindu. Berat. Biar aku saja”, dan lain-lain. Tapi ini bukan nostalgia, mengingat dua filmnya masing-masing baru dirilis pada tahun 2018 dan 2019. Dan berbicara soal pemahaman baru, Milea: Suara dari Dilan kekurangan asupan tersebut. Sebab selama sekitar 100 menit, filmnya bak sebatas fragmen yang dijahit paksa serta minim tambahan suntikan bobot, makna, atau perspektif baru.

Pada akhirnya kita tetap tidak tahu mengapa Dilan jatuh cinta pada Milea dan memutuskan untuk “meramalnya” dari atas motor dahulu. Bukan berarti cinta butuh penjabaran logis, namun Dilan memperlihatkan ketertarikan, bahkan sebelum bertatap muka dan baru mengetahui eksistensi Milea si murid baru berdasarkan cerita teman-temannya. Akting jajaran pemain jadi terkena dampaknya. Karena filmnya sebatas penyatuan paksa keping-keping kisah, baik penampilan perseorangan Iqbaal dan Vanesha maupun chemistry keduanya, yang tersaji kuat di film-film sebelumnya, terasa tidak utuh.

Perihal sudut pandang baru atas peristiwa masa lalu cuma terjadi dalam peristiwa kematian Akew (Gusti Rayha). Milea menjauh, bahkan kemudian meninggalkan Dilan karena rasa khawatir ditambah ketidaksukaan akan keterlibatan Dilan dalam geng motor. Penonton bisa ikut merasakan kebingungan Dilan. Baginya, Milea mendadak pergi tanpa alasan justru tatkala Dilan sedang membutuhkannya selepas kematian sang sahabat.

Tapi terkait konflik dua tokoh utama, khususnya ketika hubungan mereka mulai tergerus, inkonsistensi Milea: Suara dari Dilan sebagai film mengenai...well, “suara dari Dilan”, semakin tampak nyata. Kalau ini merupakan kisah dari sisi Dilan, kenapa masih ada bagian-bagian di mana hanya Milea saja yang tahu? Terkadang narasinya memakai sudut pandang orang pertama, lalu berubah menjadi orang ketiga serba tahu. Inkonsisten.

Fase terbaik tiba ketika filmnya melewati satu jam. Kisahnya berhenti melakukan reka ulang, mulai menjamah era baru, membicarakan perihal memori di mana karakernya dituntut move on, melangkah menuju babak baru dalam kehidupan mereka. Di situ kenangan-kenangan masa SMA, romansa, hingga keluarga, dikupas. Momen-momen emosional yang menjadikan Dilan 1991 begitu berkesan pun berhasil diulangi. Sayangnya fase ini datang terlambat dan tidak berlangsung lama.

Begitu Dilan dan Milea akhirnya bertemu kembali, ada harapan tinggi menanti konklusi dari salah satu kisah cinta paling fenomenal yang pernah menghiasi layar lebar Indonesia. Sampai akhirnya harapan tersebut hancur akibat konklusi dingin yang berlawanan dengan penuturan overly dramatic dan overly romantic (entah berupa konflik atau kalimat-kalimat gombal) yang begitu identik dengan seri Dilan. Baik penulisan maupun penyutradaraan duo Pidi Baiq dan Fajar Bustomi gagal mempersembahkan momen penutup memorable bagi Dilan dan Milea. Mencapai babak penutup, Dilan justru menyentuh titik nadir.

KOBOY KAMPUS (2019)

Seringkali, kata “representasi” menentukan kenikmatan kita menyaksikan sebuah film. Walau kualitasnya jeblok sekalipun, jika film itu sanggup mewakili aspek-aspek dalam hidup kita, kelemahannya bisa dimaafkan. Itulah yang terjadi antara saya dengan Koboy Kampus selaku karya terbaru Pidi Baiq, yang kali ini menyutradarai filmnya bersama Tubagus Deddy, yang sebelumnya menulis naskah Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara (debut penyutradaraan Pidi).

Meski sadar betul betapa berantakan penceritaan Koboy Kampus, kisahnya mengingatkan saya pada masa-masa indah kala berkuliah kala studi terbengkalai akibat terlalu sering menghabiskan waktu di ruang seni bersama teman-teman, menyanyi, tertawa, memikirkan asmara, bicara ngalor ngidul soal segala hal, sembari mengutarakan sudut pandang absurd kami masing-masing.

Berlatar tahun 1995-1998 tatkala gejolak jelang reformasi makin memanas, filmnya memaparkan kehidupan Pidi Baiq (Jason Ranti), mahasiswa seni rupa ITB yang menginisiasi berdirinya “Negara Kesatuan Republik The Panasdalam” alih-alih ikut turun ke jalan. Meminjam ucapan Ninu (Ricky Harun), The Panasdalam adalah “kingdom of have fun” (plesetan “kingdom of heaven”), yakni tempat di mana rakyatnya bisa bersenang-senang biarpun kondisi Indonesia sedang kalut.

Tapi mereka tetap para mahasiswa kritis, sebagaimana filmnya tunjukkan melalui beberapa obrolan seputar politik hingga esensi bernegara. Koboy Kampus pun berpeluang memantik diskusi berisi ragam perspektif, andai karakter Pidi, yang bergelar “Imam Besar The Panasdalam”, tidak didesain sebagai sumber kebijaksanaan yang senantiasa menuntaskan masalah lewat petuah-petuah.

Mengenakan jaket jeans dan jago merangkai kata, Pidi memang tak ubahnya Dilan, yang kegombalannya digantikan kalimat-kalimat bernada filosofis mengenai isu sosial-politik. Dan seperti Dilan 1990, Koboy Kampus sejatinya tidak memiliki plot, bergerak layaknya kompilasi sketsa plus video klip.

Naskah yang juga ditulis oleh Pidi dan Tubagus selalu melemparkan konflik demi konflik secara acak, pula tanpa benang merah kecuali bahwa seluruh konflik itu melibatkan individu-individu dari The Panasdalam. Dari usaha menggaet hati mahasiswi, ancaman drop out, gesekan dengan KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) dan jajaran aktivis, pelarangan ospek, dan lain-lain. Mayoritas permasalahan di atas berujung memberi ide bagi Pidi menggubah lagu. Masalah diutarakan, Pidi bernyanyi, kemudian usai. Fokusnya nol besar, namun seperti telah disebutkan, secara personal, aktivitas-aktivitas The Panasdalam terasa begitu dekat.

Apalagi kisahnya bertempat di luar hingar bingar ibukota (Bandung), menjadikan keguyuban tokoh-tokohnya semakin terasa. Di balik canda tawa mereka ada keintiman hangat. Seolah saya sedang berkendara melewati kenangan tanpa destinasi pasti, tapi karena menghadirkan nuansa sentimentil, saya memilih pasrah, diam, menikmati pemandangan. Jajaran pemainnya pun solid, terlebih Jason Ranti, sehingga walau karakter Pidi kerap kurang manusiawi (lagi-lagi seperti Dilan), saya bisa menikmatinya berseloroh.  Turut mencuri perhatian adalah kejenakaan komedi deadpan Anfa Safitri sebagai Rianto si pria bernasib malang perihal percintaan. Tambahkan lagu-lagu bernada catchy dan berlirik jenaka milik The Panasdalam Bank, perjalanan ini semakin menyenangkan.

Tapi tedapat satu unsur problematik, yakni terkait persepsi Koboy Kampus terhadap Orde Baru. (SPOILER ALERT) Kadang filmnya seperti mendukung Soeharto (nyanyian Pidi yang menyindir revolusi, reformasi, dan demokrasi, sampai ucapan terima kasihnya kepada sang diktator), kadang seperti menentang Soeharto (keputusan “bersatu kembali” dengan Indonesia selepas keruntuhan Orde Baru). Saya teringat akan suatu artikel yang menyebut bahwa pembentukan Negara Kesatuan Republik The Panasdalam merupakan bentuk protes akan Soeharto. Tapi apa pun sudut pandang Pidi, ambiguitas ini menunjukkan kurang mulusnya penyampaian pesan Koboy Kampus.

DILAN 1991 (2019)

Alasan materi promosi Dilan 1991 menjual filmnya sebagai “fotokopi” Dilan 1990, yang murni bergantung pada keeksentrikan si tokoh tituler serta rayuan unik (atau aneh?) miliknya, bisa dimengerti. Formula tersebut lebih dari sekadar sukses. Adaptasi novel karya Pidi Baiq itu pantas disebut fenomena budaya populer. Kalimat-kalimat maupun adegannya melahirkan jutaan meme sekaligus menjadi film lokal terlaris kedua sepanjang masa. Saya yakin Dilan 1991 bakal mengulang, bahkan bisa melebihi kesuksesan itu. Silahkan tengok jumlah penonton hari pertama yang akan dengan gampang menghempaskan rekor Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (313 ribu).

Apabila anda tak tahan dengan pendekatan film pertamanya, mudah untuk memandang rendah apa yang trailer-nya tampilkan. Bahkan saya yang mampu menoleransi puisi gombal Dilan, merasa pesimis dan memasang ekspektasi rendah. Dilan 1991 dibuka lewat pemandangan yang sesuai ekspektasi tersebut. Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) yang telah resmi berpacaran, sedang berboncengan di bawah guyuran hujan. Tentu saja sepanjang perjalanan, Dilan sibuk membombardir telinga sang kekasih dengan baris-baris kalimat ajaib yang membuat saya merinding geli.

Sampai beberapa lama, naskah garapan Titien Wattimena (Salawaku, Dilan 1990, Aruna & Lidahnya) dan Pidi Baiq (juga merangkap sutradara) masih belum beranjak dari jalur tersebut. Walau cukup melelahkan, saya akui gestur “ciuman tangan” Dilan-Milea akan melahirkan hal ikonik baru di kalangan remaja. Tapi begitu konflik bermunculan, Dilan 1991 memperlihatkan wajah aslinya sebagai romansa remaja dengan hati.

Konfliknya tidak baru maupun kompleks, masih mondar-mandir seputar dua muda-mudi dimabuk cinta yang berusaha mempertahankan hubungan mereka. Kini Milea, yang sudah merasa mempunyai hak bicara sebagai kekasih, mulai berani vokal mengutarakan ketidaksukaan perihal bergabungnya Dilan dalam geng motor. Milea khawatir, suatu hari aktivitas itu bakal menempatkan Dilan di tengah situasi berbahaya. Kekhawatiran yang akhirnya terbukti tepat.

Masalah di atas sederhana, namun relatable. Keinginan Milea masuk akal, tapi Dilan dengan hatinya yang sekeras batu menolak dikekang. Tersimpan potensi yang sayangnya urung naskahnya jamah, yakni soal penggalian sisi personal Dilan. Menyelami isi hati terdalamnya, mengeksplorasi dinamika psikis atau rasanya, bisa membuat penonton memahami Dilan dengan sendirinya, daripada harus diberitahu secara verbal oleh dialog-dialog.

Dengan begitu, Dilan bukan saja sesosok mesin puisi, tapi manusia sungguhan. Walau belum maksimal, setidaknya kini kita dapat sekilas melihatnya, ketika tak semua interaksi Dilan-Milea diisi buaian gombal. Adegan Milea menyuapi roti menunjukkan wajah percintaan yang lebih membumi sekaligus memberi Iqbaal kesempatan menampilkan akting natural sesuai bakatnya. Beruntung bagi Vanesha, karakterisasi Milea memfasilitasi kapasitas akting dramatiknya. Bersenjatakan tangisan yang ampuh menusuk hati, bahkan kalimat klise macam “Aku sayang kamu, Dilan” terdengar menyentuh.

Perjalanan Milea menciptakan drama emosional bagi penonton turut dibantu kehadiran dua sosok wanita: Bunda Dilan (Ira Wibowo) dan Ibu Milea (Happy Salma). Bunda lebih aktif dan lantang, sedangkan Ibu penuh kelembutan. Keduanya saling melengkapi, sama-sama sosok wanita mengagumkan, dan senantiasa menebarkan kehangatan kasih sayang ibu tiap kali muncul di layar.

Faktor lain di balik peningkatan pesat bobot emosinya dibanding film pertama adalah makin apiknya pengarahan Pidi Baiq dan Fajar Bustomi (Jagoan Instan, Surat Kecil untuk Tuhan, Dilan 1990) dalam meramu momen menyentuh, meski anda takkan menemukan kesubtilan dari pengadeganan mereka. Sementara lagu-lagu seperti Rindu Sendiri dan Dulu Kita Masih SMA yang telah mengakar di benak penonton turut berkontribusi melahirkan suasana manis. Saya tak malu mengakui bahwa di beberapa kesempatan, termasuk montase saat Milea mengenang memori di Bandung (adegan “kenangan” dalam film adalah kelemahan saya), air mata nyaris mengalir.

Penceritaan Dilan 1991 tak sepenuhnya mulus. Progresi ceritanya disusun lewat gaya episodik dan durasi 121 menit jelas terlampau panjang. Banyak poin minim substansi, seperti kemunculan kembali Kang Adi (Refal Hady) hingga subplot tentang Pak Dedi (Ence Bagus) si guru genit bisa dibuang tanpa merusak intisari kisah. Saya pun terganggu oleh dekorasi bioskop, yang meski telah mendesain ulang loket penjualan tiket, secara keseluruhan nampak begitu kekinian. Sisanya saya tak bisa banyak berkomentar karena tak mengetahui detail kondisi Bandung awal 90-an.

Memiliki sederet kekurangan tadi, Dilan 1991 jelas jauh dari sempurna. Tapi apabila sebuah romansa mampu melahirkan protagonis likeable (khususnya Milea), bahkan mengaduk-aduk perasaan, bagi saya itu sudah cukup. Dilan 1991 merupakan sekuel memuaskan yang tampil superior dibanding pendahulunya dan menyulut ketertarikan akan film berikutnya: Milea.

PS: Terdapat post-credits scene, namun sangat pendek dan tak seberapa penting kecuali bagi penggemar berat.

DILAN 1990 (2018)

Dilan 1990 diadaptasi dari novel buatan Pidi Baiq yang konon terinspirasi dari kisah nyata. Andai percintaan Dilan dan Milea sungguh benar adanya, saya yakin Pidi cuma mengambil garis besar kisah mereka. Sisanya, terlebih dialog yang ada, pastilah rekayasa. Sebab manusia mana yang mengucapkan kalimat seperti “Kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja” atau “Jangan rindu. Berat. Kau enggak akan kuat. Biar aku saja”. Terdengar menjijikkan? Mungkin. Tapi bukankah kita kerap menganggap kemesraan dan rayuan (sok) puitis itu menjijikkan sampai akhirnya kita sendiri melakukannya, menikmatinya kala terjebak asmara?

Menonton Dilan 1990 rasanya seperti menjalani sebuah hubungan cinta. Hal yang awalnya menggelikan kemudian berubah jadi manis nan memabukkan. Milea (Vanesha Prescilla) baru pindah dari Jakarta ke sebuah SMA di Bandung. Seketika banyak siswa terpikat padanya. Milea sendiri memiliki pacar di Jakarta. Beni (Brandon Salim) namanya. Tapi pikiran Milea justru dikuasai Dilan (Iqbaal Ramadhan), bocah begajulan anggota geng motor dengan julukan “Panglima Tempur” yang di awal pertemuan kerap melontarkan ramalan-ramalan. “Aku ramal kita akan bertemu di kantin”, demikian ucap Dilan. Aneh? Tunggu sampai ia menghadiahkan TTS yang sudah terisi penuh di hari ulang tahun Milea karena tidak mau membuat si gadis pusing.
Pokoknya Dilan unik. Begitu juga adiknya. Alasannya, sang bunda (Ira Wibowo) bukan ibu-ibu kaku, yang akhirnya membentuk kepribadian anak-anaknya. Saya dan para penonton lain yang telah memasuki usia dewasa bisa jadi menganggap Dilan beserta caranya mencintai aneh ketimbang unik apalagi romantis. Tapi mungkin saat SMA dulu saya akan memahami romantismenya. Mungkin saat SMA dulu saya akan menjadikan Dilan panutan supaya diidolakan gadis-gadis. Mungkin di masa saya SMA dulu, konsensus menunjukkan Dilan adalah laki-laki manis. Alhasil saya pun coba memandang Dilan 1990 sebagai sarana nostalgia. Lagipula setting 90-an miliknya memfasilitasi tujuan itu.

Memakai perspektif tersebut, filmnya lebih bisa dinikmati, mampu melemparkan saya kembali menuju manis dan pahit romantika masa remaja yang diisi kecemburuan, rayuan, kebahagiaan kala sang pujaan pertama kali bersedia membonceng motor, sampai perjuangan memacu adrenalin untuk merebut hati kekasih orang (ups!). Penyutradaraan duet Fajar Bustomi (Surat Kecil untuk Tuhan, Jagoan Instan) dan Pidi Baiq belum total dalam urusan merangkai momen asmara baik yang menggemaskan maupun romantis, tapi iringan nomor manis Dulu Kita Masih SMA selalu siap membantu menambal kekurangan terkait rasa dalam pengadeganan.
Pengarahan kedua sutradaranya memang kerap menghalangi suatu adegan memunculkan dampak yang diinginkan. Contohnya ketika komedinya sering berujung cringey. Ada peranan pemain yang kurang tepat penyampaiannya, tapi mayoritas didorong kecanggungan adegan. Seolah Fajar dan Pidi bingung harus mengemasnya bagaimana. Kebingungan serupa dialami Iqbaal. Sewaktu bermain santai, ia menyenangkan disimak, hidup dan dinamis sebagaimana ditunjukkannya lewat Ada Cinta di SMA. Kondisinya berbalik saat dipaksa melontarkan kalimat “khas Dilan”. Iqbaal kaku tatkala harus berbahasa baku. Setidaknya satu senyuman cukup mendorong penggemarnya berteriak histeris. Sementara Vanesha Prescilla berhasil membuat Milea gampang disukai penonton, walau seperti pasangannya, ia lebih menikmati saat menghadapi suasana santai.

Alur Dilan 1990 bergerak episodik layaknya memori, pula berlangsung tipis minim konflik. Kehidupan Dilan selaku “Panglima Tempur” di geng motornya, konflik keluarga, kehidupan sekolah dan lain sebagainya memang masih bisa digali demi mengakali tipisnya plot, tapi bukan masalah besar. Tujuan utama Dilan 1990 adalah mempresentasikan percintaan remaja SMA, dan bukankah pada umumnya permasalahan di jenjang usia serta pendidikan tersebut memang tidak jauh-jauh dari situ?