REVIEW - NIGHT IN PARADISE

3 komentar

Modal filmografi impresif (I Saw the Devil, The Unjust, New World, The Wtich: Part 1. The Subversion) sebagai sutradara dan/atau penulis naskah, membuat karya terbaru Park Hoon-jung ini, yang ditayangkan perdana di Festival Film Internasional Venice tahun 2020 lalu, cukup dinantikan. Sebuah drama kriminal kelam, cenderung nihilistik, tentang sekelompok individu yang mengakrabkan diri dengan kematian. Rupanya sewaktu terjadi pertumpahan darah berujung banyak kematian, Pulau Jeju yang dikenal atas kedamaian serta keindahan bak surga pun tampak lebih pekat daripada kegelapan malam.

Berkat pengalamannya, Hoon-jung tahu bagaimana mesti mengolah film bertema dunia gangster, serta apa saja elemen yang membuat genre tersebut jadi salah satu identitas sinema Korea Selatan. Dunia tersebut tak ubahnya hutan liar. Semua saling mangsa. Barangsiapa menunjukkan kelemahan harus bersiap meregang nyawa. Also, no deed (good or bad) goes unpunished. 

Sehingga saat Park Tae-goo (Uhm Tae-goo), seorang anggota gangster, mendapati kakak perempuan dan keponakannya dibunuh oleh geng lawan, apa yang ia lakukan setelahnya bak proses hukum alam. Tae-goo menghunuskan pisau ke leher bos geng itu, dalam sekuen yang menandai kali pertama penonton menyaksikan pertumpahan darah di Night in Paradise. Tentu itu jauh dari yang terakhir.

Demi keamanannya, Tae-goo dikirim oleh sang bos (Park Ho-san) ke Vladivostok, Rusia. Sebelumnya, ia mesti singgah dulu di Jeju selama seminggu, menanti instruksi lebih jauh. Di situlah Tae-goo bertemu Jae-yeon (Jeon Yeo-bin), gadis berperangai dingin yang menderita sakit parah. Pamannya, Kuto (Keone Young), berniat membawa Jae-yeon ke Amerika untuk berobat, yang mana bakal meningkatkan peluang kesembuhannya, dari di bawah 10% jadi mendekati 20%. Bukan angka yang menjanjikan.

Night in Paradise berisi orang-orang yang menemui jalan buntu dalam hidup mereka, lalu memilih pasrah terbawa arus alih-alih berjuang sampai ke permukaan. Jae-yeon dan penyakitnya, sedangkan Tae-goo nantinya mengetahu bahwa akibat sebuah pengkhianatan, nyawanya jadi incaran Direktur Ma (Cha Seung-won), salah satu pimpinan geng lawan yang berniat balas dendam. Keduanya boleh tak lagi memedulikan keselamatan diri sendiri, namun bagaimana bila melibatkan orang lain? 

Pernyataan itu diutarakan, bersamaan dengan eksplorasi karakter melalui rangkaian interaksi panjang pula minim letupan, yang mungkin bakal terasa membosankan bagi mereka yang datang demi parade aksi brutal para gangster. Tapi untuk penonton yang bisa mengapresiasi akting, Night in Paradise tampil cukup memikat. Uhm Tae-goo dan Jeon Yeo-bin mewakili sisi humanis kisahnya, menghidupkan dinamika dalam interaksi dua manusia pesimistis. 

Sementara Park Ho-san dan Cha Seung-won datang dari sisi dunia hitam, membawakan peran masing-masing lewat attitude berlawanan khas kisah gangster. Ketika Ho-san adalah sosok penjilat yang menghalalkan segala cara (mengingatkan saya pada karakternya di drama Hush, hanya saja tanpa bumbu komedi), Seung-won merupakan figur keji nan intimidatif. Obrolan keduanya bak menghadirkan gravitasi yang menarik atensi kuat terhadapnya. 

Jangan khawatir jika aksi merupakan alasan anda menonton Night in Paradise, sebab Hoon-jung menyiapkan beberapa sekuen hard-hitting yang menumpahkan banyak darah, meremukkan tulang, dan melubangi kepala-kepala manusia. Pengarahannya mumpuni, dengan pilihan shot serta timing yang cukup untuk memancing teriakan penonton, baik berupa sorak sorai maupun ekspresi ngilu. Melihat klimaksnya, mungkin anda akan berpikir bahwa tubuh gangster Korea Selatan punya jumlah darah melebihi kadar normal manusia biasa. 

Selepas klimaks, terdapat aksi penutup selaku epilog. Aksi yang menjadikan Yeo-bin salah satu wanita paling badass (pemirsa Vincenzo siap-siap terkejut) di perfilman Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir sejak Kim Ok-bin membantai puluhan lawan di The Villainess (2017). Sayangnya dalam mempresentasikan konklusinya, Park Hoon-jung memilih jalan klise. Andai dia menghilangkan suara tembakan bisa jadi dampaknya berbeda. Mungkin itu dilakukan demi menghapus ambiguitas yang kurang disukai penonton arus utama, tapi bukankah konklusi nihilistik juga bukan kesukaan mereka?


Available on NETFLIX

3 komentar :

Comment Page:
Sapta nur hasan mengatakan...

Baru nonton semalam...
Sesuai ekspektasi aku,Cerita Ok,Brutal dan penuh darah...
Mungkin krn aku penggemar karya2 Park hoon jung jd selalu merasa puas dgn film2nya,Apalagi dia memang tau persis gmn membuat film Gangster yg Ok,Apalagi film2nya semua naskahnya dia sendiri yg nulis...!
Gak sabar menunggu karya2 Park hoon jung selanjutnya..
Kabarnya The Witch Part 2 akan jadi proyek film Berikutnya...!
Btw nice review...
Tks

agoesinema mengatakan...

Seperti nonton film2 triad ala hong kong 90an dgn bintang Andy Lau

Anonim mengatakan...

Yah,,, review bung Rasyid sudah cukup merepresantasikan bagaimana wujud film ini. Kata kuncinya cuma satu, NIHILISTIK.