REVIEW - AKU SEBELUM AKU

Tidak ada komentar

Ketika orang tua mencederai jiwa anak, bisakah mereka sepenuhnya disalahkan, atau kita perlu menelisik lebih jauh perihal dampak trauma lintas generasi? Apakah "memahami" bersinonim dengan "menjustifikasi"? Melalui film orisinal Netflix yang digarap apik ini, Gina S. Noer selaku sutradara sekaligus penulis, menaruh lampu sorot pada benturan familial tanpa ujung tersebut.

Jati (Bima Sena) adalah siswa berprestasi. Kejuaraan olimpiade berskala nasional sanggup ditembus, sehingga wajahnya kini terpampang pada spanduk raksasa di sekolahnya. Tapi alih-alih kedamaian, justru serangan panik yang menyambangi Jati. Melihat kondisi tersebut, ayahnya, Jaya (Ringgo Agus Rahman), justru berkomentar, "Itu karena kamu jarang salat!" 

Jaya memang tidak menerapkan hukuman fisik. Memukul anak pantang ia lakukan. Itulah pasal Jaya merasa menjadi ayah terbaik yang paling mengerti tentang Jati. Tapi persoalan psikologis luput diperhatikannya. Jati tertekan oleh tuntutan sang ayah supaya ia menimbun prestasi akademis demi kesuksesan hari tua. 

Ada satu adegan menarik yang menunjukkan kejelian Gina mengutak-atik perspektif. Jaya jengah melihat kegembiraan Jati yang "hanya" mendapat posisi enam dalam perlombaan lari. Kalimat-kalimat seperti "Ayah bakal selalu ada buat kamu", "Kamu harus melihat masa depan", sampai "Kamu harus melakukan yang terbaik" mengisi ceramah Jaya kepada Jati. 

Di film lain, adegan serupa, dengan baris kalimat sama persis, bisa saja ditampilkan lewat bingkai motivasional bernuansa positif. Tapi Gina memandangnya dari sisi berbeda, lalu coba menyadarkan penonton mengenai adanya sisi toxic dari hal-hal beraroma inspiratif sebagaimana nasihat Jaya tadi. 

Singkat cerita, Jati makin tertekan hingga berujung keluar dari sekolah lamanya. Melalui dukungan ambunya (Prastiwi Dwiarti), Jati pindah ke sekolah baru yang bukan cuma mengedepankan prestasi akademik. Sudah barang tentu Jaya gerah akan keputusan tersebut, tanpa peduli bahwa sang putra akhirnya menemukan secercah kebahagiaan. 

Di sekolah baru, Jati segera terlibat proyek bersama Asa (Widuri Puteri), yang bertujuan mengupas sejarah keluarga masing-masing. Dari situlah Jati menyadari adanya posibilitas kalau tindak-tanduk sang ayah dibentuk oleh masa lalunya, pula masa lalu leluhur mereka. Diiringi kompilasi lagu-lagu para jawara indi (Goodnight Electric, Nostress, Frau, Monkey to Millionaire, dll.), proses pencarian protagonisnya pun dimulai.

Kita bukan diminta membenarkan cela-cela dalam diri Jaya, melainkan menemukan pemahaman guna mencetuskan solusi akan problematika yang telah menghantui banyak keluarga sejak dahulu kala. Akibat trauma masa lalu, alih-alih berusaha mengerti seluk-beluk anaknya, Jaya mendefinisikan "ayah yang baik" sebagai "ayah yang berbeda dengan ayahnya". Jaya terlampau berfokus pada luka lamanya sebagai anak, sampai membubuhkan bilur luka baru di hati anaknya.

Sayang, tidak semua elemen narasi dalam naskahnya berjalan baik. Signifikansi perihal rahasia di balik identitas Asa patut dipertanyakan. Gina mungkin hendak membandingkan dua situasi berlawanan terkait garis keturunan, bahwa adanya ikatan darah maupun tidak, mestinya bukan tolok ukur besarnya kasih sayang. Masalahnya, keberadaan poin tersebut cenderung mendistraksi ketimbang menguatkan narasi utama. Format serial rasanya lebih tepat jika cakupan penceritaan ingin diperluas dengan cara demikian. 

Naskahnya pun terkesan berlebihan dalam mencekoki penonton dengan kalimat quotable, entah yang beraroma positif (kata-kata mutiara, petuah bijak) atau negatif (biasanya tertuang dalam ucapan Jaya yang jamak kita dengar di dunia nyata). Aku Sebelum Aku bak terlampau berambisi mendorong penonton membagikan kutipan favorit mereka di media sosial pasca menutup halaman Netflix.

Sedangkan terkait penyutradaran, Gina masih piawai memainkan bahasa visual guna menggugah emosi lewat cara subtil. Sebutlah rasio yang beralih bak home video lawas kala Jaya pulang ke rumah masa kecil dan menyambangi ruang intimnya lagi, simbolisme dalam rapuhnya engsel pintu kamar Jati, hingga nuansa liris ketika Jaya berjalan beriringan bersama leluhurnya di tengah hutan selepas berdamai dengan trauma. 

Jajaran pelakonnya tidak kalah trengginas. Bima Sena, Widuri Puteri, serta Ringgo Agus Rahman, kendati karakter masing-masing bergulat dengan detail masalah berbeda, ketiganya bermain dalam satu benang merah: menghidupkan para lebah yang tengah gundah saat berjuang menemukan jalan pulang ke rumah. 

(Netflix)

Tidak ada komentar :

Comment Page: