REVIEW - SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY
Brand New Day menjelmakan sosok Spider-Man (Tom Holland) yang karirnya tengah moncer. Kriminal makin sering diringkusnya, warga New York memujanya, aparat pun sepenuhnya menyuarakan dukungan. Sementara Peter Parker justru makin berkutat dengan sepi. Film ini mengenakan topeng film pahlawan super, tapi di dalam, terkandung kisah soal manusia dewasa yang kepayahan mengatur work-life balance.
MCU memiliki satu-satunya waralaba Spider-Man yang tumbuh bersama penontonnya. Jika saat menyaksikan Homecoming (2017) kamu, seperti Peter, sedang menggeluti gegap gempita dunia SMA dengan segudang kawan-kawan, maka seperti Peter juga, Brand New Day bakal mewakili realitamu, berupa menyempitnya lingkaran pertemanan.
Bedanya, kondisi Peter lebih ekstrim. Mantra Doctor Strange menghapus memori seantero dunia terhadapnya, termasuk dari ingatan si sahabat, Ned Leeds (Jacob Batalon), juga kekasihnya, MJ (Zendaya). Di tengah kesendirian tersebut, muncul ancaman baru dari perempuan misterius (Sadie Sink) yang menebar ancaman bagi DODC (Department of Damage Control) dengan bersenjatakan kekuatan merasuki pikiran orang-orang.
Ketika saya menyusun tulisan ini, identitas dari sang perempuan misterius rasanya sudah bukan lagi suatu rahasia. Tapi demi kenyamanan bersama, anonimitas si karakter akan tetap saya pertahankan. Satu yang pasti, Sadie Sink mempersembahkan figur antagonis kompleks, yang bakal memiliki keselarasan dengan generasi sekarang: seorang anak muda yang terluka oleh keserakahan pemerintah.
Sedangkan Peter masih bergulat dengan silang sengkarut internal dirinya. Selain kegagalan mengatur work-life balance akibat ketiadaan hubungan antar manusia, fisik Peter turut mencuatkan keresahan tersendiri. DNA laba-laba yang selama ini terkendali bak mulai coba mendominasi. Emosinya mudah meletup-letup, indranya menajam, jaring organik pun keluar dari pergelangan tangannya.
Naskah buatan Chris McKenna dan Erik Sommers menyisipkan metafora dalam fenomena janggal di atas. Apa yang Peter alami jadi perlambang keengganan individu menerima perubahan (baik fisik maupun psikis) yang menemani perjalanan memasuki fase usia dewasa.
Di sini, pendewasaan disamakan dengan kesediaan mengamini perubahan. Relatable. Kita semua mengalaminya. Hanya saja, patut disayangkan Brand New Day menawarkan resolusi yang terlampau instan bagi problematika tersebut. Tanpa gradasi, pula begitu "ajaib" khas sinema Hollywood arus utama.
Tapi tiada keluhan terkait pengarahan Destin Daniel Cretton yang enggan menggarap porsi drama secara sekenanya. Sang sutradara begitu apik memainkan dinamika antar individu, benar-benar membangun ruang intim bagi dua karakter yang sedang terlibat interaksi alih-alih sekadar membiarkan mereka asal bicara guna mengisi waktu. Tengok caranya mengemas ending yang demikian hangat.
Sudah barang tentu performa Tom Holland memegang peranan besar dalam tersampaikannya elemen dramatik Brand New Day. Semburat senyum simpul bertabur sedikit rasa pahit kala Peter diam-diam mengamati Ned, hingga deburan haru yang seketika menusuk-nusuk hati sang jagoan ketika dekapan sang (mantan) kekasih kembali ia rasakan, hanyalah segelintir contoh mengenai kemampuan si aktor menangani emosi lewat tuturan non-verbal.
Ingar bingar aksinya tidak kalah mengesankan, sekali lagi berkat penyutradaraan Destin Daniel Cretton yang mau bersusah payah menggabungkan efek praktikal dengan komputer. Dibarengi daftar putar mengasyikkan yang ia susun, Cretton membawa kita berayun lincah bersama Spidey, sambil sesekali memamerkan keunggulannya merumuskan money shot.
Beberapa panel ikonik komik Spider-Man tidak luput Cretton reka ulang (kebanyakan terletak dalam montase pertarungannya melawan beragam lawan di paruh awal) sebagai upaya menyelipkan fanservis yang tidak pernah mencuri sorotan utama dari presentasi cerita.
Begitu pula humornya, yang berbeda dibanding tabiat buruk MCU beberapa tahun lalu, hadir dalam takaran tepat tanpa pernah menghancurkan keseimbangan tone. Contohnya banter antara Spider-Man dengan Frank Castle / Punisher (Jon Bernthal), yang sebatas bertugas memperkaya varian warna film daripada memaksanya bercampur aduk.
Segala keunggulan yang saya rangkum di tulisan ini sejatinya bermuara pada satu kesimpulan: Brand New Day merupakan karya yang berhasil mencapai keseimbangan di semua aspek. Itulah mengapa ia layak mendapat cap "terbaik" di antara tetralogi kepunyaan Marvel Studios.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar