REVIEW - SILENT FRIEND
Sekitar 117 miliar orang pernah lahir sampai hari ini, yang berarti ada 117 kehidupan berbeda. Tapi bagaimana bila seluruhnya dapat dipandang sebagai satu perjalanan besar peradaban manusia, yang terus berkembang melewati garis waktu dengan alam selaku pemerhati setia? Silent Friend karya Ildikó Enyedi menerapkan perspektif tersebut, hanya saja dalam cakupan waktu yang lebih singkat.
Disampaikannya tiga cerita dari tiga era dengan Universitas Philipp Marburg sebagai latar: Grete (Luna Wedler) di tahun 1908 selaku perempuan pertama yang berkuliah di sana dan mesti menghadapi ragam tindak seksisme; Hannes (Enzo Brumm) di tahun 1972 yang jatuh hati pada Gundula (Marlene Burow) yang tengah bereksperimen dengan geranium miliknya; dan Dr. Tony Wong (Tony Leung Chiu-wai) di tahun 2020, neurologis yang terpaksa tinggal sementara di kampus akibat pandemi COVID-19.
Setiap era menggunakan identitas visual berlainan (tahun 1908 memakai 35mm hitam putih, 16mm bernuansa grainy di tahun 1972, format digital bagi tahun 2020) sehingga memudahkan penonton mengidentifikasi tiap masa secara instan kendati masing-masing protagonis belum menampakkan diri.
Pohon gingko yang sudah berdiri di area kampus sejak 1832 menjadi benang merah. Tanaman satu ini lazim dipakai sebagai simbol jembatan antara masa lalu dengan masa depan, dan begitu pula peran yang diembannya di Silent Friend. Baik Grete, Hannes, maupun Dr. Wong punya keterikatan dengan pohon tersebut.
Di paruh awal, Dr. Wong sempat menjabarkan risetnya yang berpusat pada bagaimana bayi merespon stimulus. Hasilnya, berbeda dengan orang dewasa, bayi cenderung memandang fenomena di hadapan mereka secara holistis, berbasis kebebasan yang mengeliminasi sekat-sekat pikir.
Sebagai penonton kita dituntut menerapkan sudut pandang serupa, di mana alih-alih tiga hikayat terpisah, alurnya bisa dimaknai sebagai satu perjalanan panjang umat manusia yang senantiasa membasuh batin mereka dengan keingintahuan, ambisi, serta kerinduan akan koneksi antar sesama, yang dituturkan melalui sudut pandang pohon gingko. Sesekali sang sutradara menggunakan close-up cantik guna menyiratkan bahwa si pohon memiliki kesadaran atas ragam stimulus yang manusia berikan.
Eksperimen Gundula terhadap geranium miliknya pun didasari rasa ingin tahu, tentang "apakah tumbuhan mampu bereaksi atau menerima begitu saja hal-hal yang diberikan padanya." Penelusuran Silent Friend mengenai isu gender berangkat dari tanda tanya tersebut. Jika tumbuhan saja aktif merespon, bukankah merupakan tindakan natural tatkala perempuan menolak pasrah kala diperlakukan semaunya oleh masyarakat patriarki?
Tengok betapa kentalnya seksisme dalam pertanyaan-pertanyaan bernada merendahkan yang diajukan para profesor untuk Grete dalam wawancara. Grete menolak kalah, bahkan saat respon tegasnya dianggap menyebalkan oleh salah satu penguji. Keberhasilannya pun memantik efek domino terkait transformasi citra perempuan yang berlangsung selama lebih dari 100 tahun. Jika Grete masih dikerdilkan, Gundula berkesempatan berkuliah sembari menjalankan eksperimen secara bebas, sedangkan di tahun 2020, Dr. Alice Sauvage (Léa Seydoux) yang membantu eksperimen Dr. Wong, merupakan ilmuwan tersohor.
Manusia beserta masyarakatnya terus berprogres. Demikian pula teknologi, yang oleh Enyedi, tidak melulu dipandang selaku ancaman. Sebaliknya, pemanfaatan teknologi secara bijak justru berpotensi menjembatani harmoni antara manusia dengan semesta: Grete dengan kamera yang dipakainya memotret subjek riset; Gundula beserta kabel-kabel sederhana yang ia tempelkan di geranium; sementara Dr. Wong membekali diri dengan peralatan eksperimen yang lebih canggih.
Bentuk non-linear alurnya yang terus mengajak penonton bolak-balik dari satu masa ke masa lain memang cenderung menyulitkan terjalinnya koneksi emosional dengan trio protagonis. Belum sempat kita meresapi rasa salah satu dari mereka, kisahnya sudah lanjut melompat ke individu berikutnya.
Walau demikian, menyaksikan bagaimana setumpuk gagasan mendalam nan kaya empati dari naskah buatan Enyedi divisualisasikan tetap menghadirkan kekaguman. Apalagi sewaktu sinematografi arahan Gergely Pálos memamerkan kejeliannya mengeksplorasi framing. Sebuah shot berisi dua karakter duduk bersama yang nampak dari sela-sela daun rimbun pohon gingko, bak ingin menyadarkan betapa kecilnya manusia dibandingkan semesta. Maka alangkah bijaknya jika sesekali kita berhenti sejenak dari keriuhan dunia modern, kemudian menarik napas panjang supaya bisa merasakan magisnya alam raya.
(JWC 2026)

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar