REVIEW - TENTANG SUATU TEMPAT DI WILAYAH KINKI
Novel Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki buatan Sesuji adalah mahakarya horor. Mencekam, sarat kejutan, pula menawarkan dekonstruksi cerdik perihal tersusunnya cerita rakyat. Adaptasi filmnya, kendati jadi satu lagi persembahan solid dari Koji Shiraishi sang dedengkot J-horror, memilih menyederhanakan narasi demi mengakomodasi penceritaan yang lebih ringkas.
Mengikuti jejak bukunya yang dipaparkan bak catatan jurnalistik sungguhan, filmnya menerapkan hibrida antara format konvensional dan found footage yang sudah Shiraishi kuasai betul kala menelurkan Noroi (2005).
Alkisah, Yusei Ozawa (Eiji Akaso) harus menyelesaikan artikel utama dalam waktu singkat di majalah mistis tempatnya bekerja, menggantikan seniornya yang hilang di tengah pengerjaan. Dibantu penulis lepas bernama Chihiro Seno (Miho Kanno), hasil riset dari si senior pun kembali ditelisik, yang mengungkap misteri perihal suatu tempat di wilayah Kinki.
Hasil risetnya mencakup kumpulan video berisi berita lama serta rekaman peristiwa-peristiwa yang seluruhnya menyimpan kejanggalan, dengan wilayah Kinki dan kemunculan gambar bak azimat selaku benang merah. Shiraishi menangani visualisasi tiap video dengan baik. Hantu dibiarkan bergentayangan di latar ketimbang dipaksa meneriakkan eksistensinya guna menguarkan aroma kengerian sembari menjaga realisme. Sedikit disayangkan, pemakaian CGI berkualitas seadanya kerap melucuti "keaslian" yang jadi esensi found footage.
Tapi kekuatan utama Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki terletak pada kemampuan alurnya mengikat atensi penonton. Naskah buatan Koji Shiraishi dan Tetsuya Oishi sanggup mereplikasi ciri narasi Sesuji, di mana tanda tanya serta petunjuk disebar secara acak, sehingga memunculkan kepuasan bagi penonton kala berhasil menghubungkan titik-titik misterinya.
Bentuk video yang ditelusuri pun beragam, dari berita di televisi, rekaman ponsel, siaran langsung kanal YouTube, animasi bergaya lama mengenai "Mashira-sama" yang jadi salah satu figur sentral, dan masih banyak lagi. Biarpun pola "protagonis mengecek video" terus diulang, berkat variasi tontonan yang ditawarkan, kesan repetitif bisa dihindari.
Tapi para "penumpang lama" yang telah melakoni perjalanan menuju Kinki melalui novelnya mungkin bakal meminta lebih. Alasannya, Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki versi film mengubah dekonstruksi cerita rakyat dari Sesuji menjadi penelusuran yang lebih konvensional.
Atas nama menyederhanakan dan mempersingkat (saya rasa format serial akan lebih mendukung tersampaikannya gagasan Sesuji), eksplorasi soal bagaimana cerita mulut ke mulut yang dibagikan secara turun-temurun melahirkan kepercayaan yang dipegang oleh masyarakat.
Terutama sejak kunjungan dua protagonisnya ke rumah seorang rekan yang menandai awal dihapuskannya "kesetiaan mengadaptasi" dari prioritas naskah, banyak mata rantai antar kisash yang terputus, sehingga melucuti identitas unik milik ragam entitas mistis, sebutlah Mashira-sama atau hantu perempuan bergaun merah. Mereka berujung cuma menjadi makhluk mistis biasa, dalam sebuah horor adaptasi novel yang berpotensi memproduksi presentasi luar biasa.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar