REVIEW - LAUT BERCERITA

Tidak ada komentar

Sinema takkan mengubah bangsa apalagi dunia, tapi setidaknya ia punya kuasa untuk meniadakan lupa akan luka-luka. Mengadaptasi novel berjudul sama karya Leila S. Chudori, waktu perilisan Laut Bercerita tidak bisa lebih sempurna lagi, selaku pengingat betapa rezim antikritik dapat sedemikian mematikan. 

"Membaca adalah melawan", ucap Biru Laut (Reza Rahadian). Selama 135 menit, Laut Bercerita mengundang penonton membaca catatan sendu yang ditorehkan si tokoh utama. Melaluinya, api perjuangan bukan coba seketika dibuat membara hebat, namun dipantik perlahan lewat proses kita mengamati cuplik demi cuplik kisah di balik layar salah satu catatan sejarah terkelam negeri ini. 

Semua bermula pada tahun 1991 ketika Laut masih berkuliah di Yogyakarta, di mana kegemaran menulis membawanya berkenalan dengan Kinanti (Dian Sastrowardoyo) beserta organisasi mahasiswa Winatra yang ia pimpin. Kegerahan terhadap opresi rezim orde baru jadi motor penggerak aktivisme Winatra, yang bergerak diam-diam sembari menghindari pengawasan aparat.

Penuturannya meniadakan bumbu-bumbu pop tanpa khawatir penonton awam dengan ekspektasi berbeda bakal merasa teralienasi. Bahkan romansa Laut dan Anjani (Eva Celia Latjuba), salah satu anggota Winatra pun tak pernah mendistraksi elemen politisnya lewat taburan sakarin berlebih. 

Paruh awal narasi Laut Bercerita sarat rangkaian diskusi yang bertujuan mengupas masing-masing ideologi anggota Winatra. Kita pun dibawa mengunjungi ruang terdalam kehidupan aktivisme, yang kerap dikesampingkan karena mungkin dipandang kurang "seksi dan membara" di mata banyak sinema arus utama, yang sekadar tertarik menyulut dramatisasi. 

Sedikit disayangkan, isu soal bagaimana dunia aktivisme masih luput menyediakan ruang aman bagi perempuan, hanya disentil sambil lalu bak formalitas melalui sebaris keluhan singkat dari mulut Anjani, oleh naskah yang ditulis sang sutradara, Yosep Anggi Noen, bersama Leila S. Chudori. Tapi pilihan tersebut bisa dimengerti, sebab eksplorasi lebih jauh berisiko mengaburkan fokus dari pokok bahasannya.

Singkat cerita, pergerakan Winatra semakin masif. Laut pun semakin jarang mengunjungi ayah (Arya, diperankan Arswendy Bening Swara), ibu (Ratih, diperankan Christine Hakim), dan adiknya (Asmara, diperankan Yunita Siregar) di rumah. Sebagaimana rekan-rekannya, Laut diburu rasa keadilan, yang akhirnya membuat mereka diburu pula oleh barisan pembinasa keadilan. 

Paranoia mulai mengakrabi malam-malam Laut. Sekuen saat Winatra dikepung aparat sebelum sempat melangsungkan aksi di Desa Blangguan mampu dipoles oleh Anggi Noen hingga menjadi pemandangan yang aktif memicu kecemasan. 

Serupa pendekatannya di Istirahatlah Kata-Kata (2016) yang kebetulan mengangkat isu senada, sang sutradara memamerkan cara memainkan rasa melalui kecerdikan padu padan audiovisual alih-alih dramatisasi murahan. Komposisi musik bernuansa ritmis gubahan Ofel Obaja Setiawan yang tak jarang terdengar mencekam turut berjasa menyusun suasana muram nan mencekam yang mewarnai hari-hari Laut.

Tapi tiada yang lebih cerdik daripada permainan kata naskahnya yang tampil bak metode komunikasi bersandi, dalam upayanya menyuplai informasi secara subtil. Perihal mata-mata dalam tubuh Winatra (pembicaraan tentang ular di tengah sawah), atau konflik kepentingan dalam aktivisme (perdebatan mengenai pemakaian "saya" dan "kami" sewaktu orasi), jadi beberapa contoh kepiawaian olah kata naskahnya.

Tentu segala dialektika tersebut berhasil tersampaikan juga berkat performa para pelakon. Reza Rahadian otomatis berdiri di barisan terdepan yang lewat tutur katanya memudahkan penonton memercayai tingginya tingkat intelektual Biru Laut, pun tiap dituntut menuangkan emosi, sang aktor senantiasa mengedepankan keotentikan.

Barisan karakter pendukung yang menyusun figur-figur terdekat di hidup Laut pun tidak kalah hebat. Masing-masing mewakili mekanisme koping anggota keluarga dari mereka yang dihilangkan rezim: Arswendy Bening Swara dengan penolakannya menerima realita; Christine Hakim begitu kuat sebagai ibu yang menggeram dalam diam sehingga kualitas buruk dari rambut palsu yang dikenakannya bisa dimaafkan; Yunita Siregar berdiri paling tegak bak tiang kokoh sembari aktif bersuara; juga transformasi Eva Celia dari figur vokal menjadi individu yang runtuh akibat ketidakberdayaan dan melihat mistisisme sebagai satu-satunya tempat mengadu di saat dunia nyata dianggapnya tidak lagi sanggup mengulurkan bantuan. 

Jika diperhatikan, sejatinya tidak satu pun aksi Winatra berjalan lancar. Pada akhirnya mereka cuma sekumpulan anak muda yang ingin bersuara, bukan agen rahasia berbekal kemampuan tipu daya spionase canggih. Sungguh lucu ketika rezim begitu takut sampai merasa perlu membungkam, bahkan menghilangkan eksistensi mereka. Saya pun hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan kelucuan rezim pengecut.

Tidak ada komentar :

Comment Page: