REVIEW - GAK ADA MATINYA

Tidak ada komentar

Menyebut Gak Ada Matinya sebagai "Agak Laen-nya 2026" mungkin adalah penarikan kesimpulan yang terkesan malas namun tidak hiperbolis. Selain keterlibatan beberapa nama serupa (Muhadkly Acho selaku sutradara dwilogi Agak Laen merupakan produser film ini), keduanya sama-sama komedi situasi absurd hasil dari skenario kelam yang dibenturkan dengan elemen drama keluarga. 

Film arahan Etienne Caesar (Pesugihan Sate Gagak, Tiba-Tiba Setan) ini berangkat dari premis yang mengingatkan pada naskah lakon Gerr karya Putu Wijaya, yakni soal upaya tokoh-tokohnya menjaga tatanan kematian yang sudah disepakati, agar tak mengganggu kepentingan finansial mereka. 

Tokoh utamanya bernama Binsar (Oki Rengga) yang kerap bersilang pendapat dengan sang istri, Lisa (Ghita Bhebhita), seputar hubungannya dengan si ayah, Luhut (Mathias Muchus). Binsar menolak mengakrabi Luhut yang membuka usaha jahit di rumahnya. 

Keluarga ini menjadi disfungsional bukan semata karena sebagai anak laki-laki, Binsar merasa canggung di hadapan Luhut. Ada alasan yang lebih kompleks, yakni amarah si anak terkait keputusan si ayah melakukan poligami. Kompleksitas ini menarik, sebab naskah buatan Ridho Brado tentu tak semudah itu dapat membuat tokoh-tokohnya saling berpelukan dan memaafkan di penghujung cerita demi melahirkan konklusi menyentuh kegemaran pasar. 

Lalu kerumitan itu datang. Luhut meninggal akibat serangan strok, yang bakal sepenuhnya mendatangkan duka, andai tiada asuransi jiwa senilai 2 miliar yang akan diwariskan kepada Binsar, yang kebetulan sedang terlilit masalah ekonomi. Silang sengkarut bertambah pelik kala Luhut hidup kembali, memaksa Binsar menyembunyikan keajaiban tersebut dari semua orang, termasuk Viona (Mikha Tambayong), putri istri kedua Luhut yang tiba-tiba datang.

Proses Gak Ada Matinya menyeimbangkan drama dengan komedi situasi perihal hidup kembalinya Luhut belum sepenuhnya melaju lancar, terutama bagaimana segitiga Luhut-Binsar-Viona mengalami evolusi dinamika dari saling jengkel menjadi rukun, yang oleh naskahnya digerakkan secara buru-buru. Transisinya luput diberi gradasi. Lalai pula naskahnya menyediakan ruang katarsis memadai bagi putra-putri Luhut supaya penonton lebih memahami keruwetan hati mereka, yang berujung pada minimnya dampak emosional di momen-momen besar. 

Setidaknya film ini enggan menjustifikasi poligami hanya demi menggiring drama keluarganya bermuara ke arah yang lebih populer. "Bapak pikir bisa berlaku adil", ucap Luhut menyesali kegagalannya, sementara kata maaf tak pernah terucap dari mulut anak-anaknya. Binsar dan Viona tidak tertarik memberi maaf apalagi melupakan dosa sang ayah. Mereka hanya ingin memadamkan api kebencian di hati masing-masing, sebab eksistensinya menghalangi kebahagiaan. 

Butuh waktu cukup lama sampai Gak Ada Matinya mengeksplorasi premis uniknya, tapi begitu dimulai, ledakan-ledakan tawa tak lagi terbendung. Para pelakonnya berjasa besar. Oki Rengga, Ghita Bhebhita, bahkan Mathias Muchus di adegan gila berlatar nobar pertandingan PSMS, semua memamerkan kebolehan menangani humor. 

Jajaran individu di sekeliling Binsar, pun tidak kalah memancing tawa, dari Robert (Lolox) si sopir mobil jenazah, hingga karyawan usaha jahit Luhut: Feri (Arief Didu), Murni (Aci Resti), Tomi (Ilham Akbar), dan Bahlil (Benidictus Siregar) yang jadi sasaran hinaan-hinaan oleh karakter. Tapi sedikit berbeda dengan nasib serupa yang kerap dialami karakter peranan Beni, ada kepuasan lebih menyaksikan Bahlil diposisikan sebagai samsak. 

Selain lihai membawa bangkitnya Luhut ke arah rangkaian situasi absurd, menggelitik, sekaligus kreatif, naskahnya cukup cerdik membuat tiap "lelucon besar" saling terhubung untuk menciptakan reaksi berantai alih-alih sekadar kelucuan tanpa tujuan. Keinginan puta Binsar, Riko (Jared Ali), untuk mengikuti les panah misalnya. Hal remeh tersebut nantinya menghasilkan efek domino berupa serentatan kekacauan jenaka lain.

Humor verbal khas "film komika" di mana sebuah kelakar sepele berujung pada perbincangan panjang yang makin lama makin konyol pun sesekali masih jadi andalan, kendati tidak selalu mendatangkan tingkatan tawa yang sama. 

Tapi komedi terbesar film ini tentu berasal dari kedatangan maskot skena poligami, yakni Fedi Nuril sebagai Fahri yang bertugas menginvestigasi kesahihan klaim asuransi Binsar. Dari situlah Gak Ada Matinya menawarkan spesies komedi yang masih begitu jarang dijamah sineas tanah air: Komedi beraroma meta yang memanfaatkan kekayaan intelektual sebagai pondasinya. Melalui presentasi itulah filmnya membuktikan bahwa "memenuhi keinginan penonton" tidak harus bersinonim dengan kemiskinan kreativitas. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: