Tampilkan postingan dengan label Akira Toriyama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akira Toriyama. Tampilkan semua postingan
DRAGON BALL SUPER: BROLY (2018)
Rasyidharry
Dragon Ball Super: Broly merupakan installment monumental dalam seri film Dragon Ball. Film ini jadi yang pertama mengusung merek dagang Dragon Ball Super, memberi Broly status canon setelah memperoleh popularitas
tinggi lewat kemunculannya di tiga judul, juga merupakan film Dragon Ball terbaik hingga kini. Dragon Ball Super: Broly sukses
memaksimalkan potensi Dragon Ball perihal
pertarungan over-the-top yang
mengguncang dunia, bahkan banyak blockbuster
Hollywood pun akan tampak kerdil di hadapan karya sutradara Tatsuya
Nagamine (One Piece Film Z) ini.
Filmnya bisa dibilang terbagi ke
dalam dua babak. Babak pertama membawa kita kembali menuju 41 tahun lalu,
menuturkan latar belakang Broly, yang dibuang oleh King Vegeta ke planet tandus
bernama Vampa sewaktu kecil, sebab sang Raja tak ingin ada anak yang lebih
superior daripada keturunannya, Vegeta. Ketika Frieza menghancurkan planet
Vegeta bersama sebagian besar ras Saiyan, Broly cilik tengah sibuk melawan
monster-monster Vampa bersama ayahnya, Paragus, yang datang untuk menyelamatkan
sang anak namun justru ikut terdampar di sana.
Cerita latar ini membangun beberapa
poin: Pemahaman bagaimana Saiyan dan Frieza memandang satu sama lain; menambah dimensi
penokohan serta bobot emosi bagi Bardock dan Gine yang mengambil keputusan
berat untuk mengirim putera mereka, Kakarot alias Son Goku ke Bumi demi
keselamatannya; hingga elemen sepele seperti wujud scouter (pendeteksi level kekuatan juga posisi seseorang sekaligus
perangkat komunikasi) versi lama yang bakal jadi trivia menarik bagi penggemar.
Terpenting, Broly digambarkan
sebagai sosok simpatik. Di Broly- The
Legendary Super Saiyan (1993), masalah psikisnya dipicu karena selalu
mendengar tangisan kencang Goku sewaktu bayi ditambah kontrol pikiran oleh
Paragus. Sekarang, lewat naskah yang ditulis sendiri oleh Akira Toriyama, meski
unsur alat pengendali milik Paragus tetap dipertahankan, tangisan Goku
ditiadakan, digantikan alasan yang lebih kelam, realistis, dan relatable.
Meski luar biasa kuat, Broly
sejatinya berhati lembut bahkan membenci perkelahhian. Dia hanya korban
tindakan kasar sang ayah yang secara paksa mengubahnya jadi mesin petarung.
Malah filmnya sempat menyelipkan momen menyedihkan yang melibatkan persahabatan
singkat Broly dengan monster terbesar planet Vampa. Jalan Broly bersinggungan
dengan para jagoan kita saat Frieza mengutus dua anak buahnya, Cheelai dan
Lemo, mencari petarung kuat guna membantu rencananya mengumpulkan dragon ball
di Bumi. Ya, salah kalau berpikir setelah Universe
Survival Saga (klimaks cerita anime dan
manga Dragon Ball Super) Frieza bakal
berubah.
Memanfaatkan dendam Paragus
terhadap garis keturunan King Vegeta, Frieza menjadikan Broly ujung tombak
invasinya, dan begitu mereka tiba di Bumi, Dragon
Ball Super: Broly memasuki babak keduanya: mahakarya aksi epic yang membawa pertarungannya hingga
ke inti Bumi yang membara. Di samping skala kehancuran, poin terbaik dari threesome Goku-Vegeta-Broly (sempat
melibatkan Frieza di satu titik) adalah kreativitas tak terbatas presentasi
visualnya, biarpun di luar adegan aksi kualitas animasinya kerap menurun yang
mana suatu kewajaran.
Bukan saja kaya warna, visualnya
pun senantiasa berganti gaya, enggan menetap terlalu lama di satu tipe sehingga
kesegaran mampu dipertahankan meski aksinya terus melaju kencang selama sekitar
satu jam, dan hanya sekilas diperlambat kala Goku dan Vegeta mundur sejenak
dari medan perang. Begitu bombastis pertarungan antar bangsa Saiyan ini, mereka
sempat seolah-olah menembus ruang dan waktu, memasuki lokasi yang nampak bak quantum realm dalam sekuen terbaik
sepanjang film. Musik gubahan Norihito Sumitomo (Color Me True) juga membantu
mempertahankan tensi.
Sejak diperkenalkan 26 tahun lalu,
saya selalu menganggap Broly sebagai sosok paling intimidatif dibanding
antagonis lain di seri Dragon Ball.
Dia brutal, besar, tak terkontrol. Broly versi baru tidak jauh berbeda, di mana
wujud normalnya saja mampu mengalahkan Vegeta dalam mode Super Saiyan Rosé (the one
with the red hair). Sekalinya ia berhasil menguasai transformasi Super Saiyan, bahkan kombinasi Super Saiyan Blue Goku dan Vegeta dibuat
tak berdaya.
Bukan Broly seorang karakter populer
yang memperoleh status canon. Seperti
telah diketahui melalui materi promosinya, Gogeta (fushion Goku dan Vegeta) pun turut ambil bagian. Kemunculannya tak
mengecewakan, walau memunculkan sedikit masalah kontinuitas. Saya ingat betul
Goku pernah mengajukan ide fushion di
tengah pertarungan melawan Kid Buu, tapi di sini, Vegeta seolah baru pertama
kali mendengar gagasan tersebut. Pun agak aneh mendapati film ini tak
menyinggung Ultra Instinct, mengingat
mode itu sanggup mengatasi Jiren. Tapi jika anda bukan penggemar berat, hal-hal
di atas takkan mengganggu.
Jangan khawatir 100 menitnya bakal
monoton, karena Dragon Ball Super: Broly
masih sempat menyelipkan beberapa momen komikal, dengan guyonan terbaik
membahas soal kemiripan permintaan yang ingin diajukan Frieza dan Bulma kepada
Shenron. Konklusinya menawarkan posibilitas menarik untuk kelanjutan film
maupun serinya. Menilik tradisi Dragon
Ball yang gemar mengubah lawan jadi kawan, sulit menahan antusiasme
membayangkan bersatunya trio Goku-Vegeta-Broly di masa depan. Kemungkinan tak
berujung macam ini adalah alasan saya begitu menggemari Dragon Ball.
Februari 18, 2019
Akira Toriyama
,
Animated
,
Bagus
,
Japanese Movie
,
Norihito Sumitomo
,
REVIEW
,
Tatsuya Nagamine
Langganan:
Postingan
(
Atom
)