Tampilkan postingan dengan label Debra Messing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Debra Messing. Tampilkan semua postingan
SEARCHING (2018)
Rasyidharry
“Could you please tell me everything you know about your son/daughter?”.
Tentu kita sering mendengar pertanyaan serupa diajukan pihak kepolisian
terhadap orang tua dalam film tentang hilangnya seseorang. Tapi David Kim (John
Cho) tidak benar-benar mampu menjawab. Dia tidak berteman atau mengikuti sang
puteri, Margot (Michelle La), di sosial media, tidak pula mengenal satu pun
temannya di dunia nyata. Kondisi yang menjadikan Searching—seperti tagline-nya—bukan
cuma usaha mencari keberadaan Margot, juga proses David mencari tahu siapa
Margot sesungguhnya.
Beberapa arsip dari kompter
keluarga Kim membuka filmnya, menunjukkan tahun-tahun bahagia mereka, sedari
lahirnya Margot, video aktivitas bersama, sampai foto-foto hari pertama tiap
Margot menempuh tahun ajaran baru di sekolah. Iringan musik indah berbasis
piano buatan Torin Borrowdale akan membuat hati terenyuh seketika. Musiknya bak
diambil dari katalog Pixar, dan secara kebetulan, ini merupakan montage pembuka paling menyentuh yang
pernah saya saksikan sejak Up (2009).
Sayang, seperti Up, montage dalam debut penyutradaraan Aneesh
Chaganty berujung duka kala istri David, Pamela (Sara Sohn), meninggal akibat
kanker. Lalu segalanya berubah.
David enggan membahas perihal
kematian sang istri, mengakibatkan hubungannya dengan Margot merenggang. Saat
suatu malam si gadis remaja tak kembali pulang, David pun kelimpungan. Polisi
dihubungi, kasus orang hilang dibuka, investigasi dimulai. David sendiri
melakukan pencarian via internet, memeriksa akun sosial media juga podcast buatan Margot, yang berperan membuka
mata David, bahwa ia sama sekali tak mengenal sang puteri. David tak mampu
mengunjungi langsung teman-teman Margot sebab ia tak tahu siapa mereka,
menjadikan proses mencari melalui internet suatu langkah masuk akal. Itu
bantuan terbesar yang bisa David sumbangkan untuk Detektif Rosemary Vick (Debra
Messing) yang bertugas menangani kasusnya.
Investigasi online David secara mengejutkan tampil realistis. Mencari kata
sandi akun melalui verifikasi surel, memanfaatkan Google guna mencari nomor
kontak, semua merupakan hal-hal yang bisa, bahkan kemungkinan sering penonton
lakukan. Dan—koreksi kalau saya salah—seluruh situs yang Searching munculkan benar-benar bisa diakses. Pada film di mana
internet berperan besar, tentu tidak lengkap jika kisahnya tak menyentil
perilaku warganet. Begitu pemberitaan kasus Margot membesar, rekan-rekan
sekelas yang tak terlalu akrab berbondong-bondong mengaku sebagai sahabat, latah
menyuarakan simpati melalui status media sosial. Tidak dalam kuantitas besar,
namun elemen di atas cukup memberi satir menggelitik seputar kepalsuan dan
panjat sosial dunia maya.
Beberapa penonton tentu akan
menyandingkan Searching dengan Unfriended (2014) mengingat keduanya
sama-sama mengambil sudut pandang rekaman webcam.
Tapi tidak. Searching mengembangkan
teknik itu lebih jauh. Bukan aja komputer, telepon genggam, CCTV, hingga
liputan berita turut dipakai, memberi variasi penjaga kestabilan intensitas tanpa
perlu melenceng dari konsep dasar. Variasi lain dimiliki tone-nya, yang meski serius dan sesekali menyentuh teritori yang
cukup kelam, naskah buatan Aneesh Chaganty dan Sev Ohanian masih punya waktu menyelipkan
humor, yang makin lucu karena bukan mustahil, beberapa kerap kita lakukan
selama menjalani keseharian bersosial media.
Sebagai sutradara, Chaganty melakukan
pekerjaan luar biasa ketika sanggup mengangkat tensi ke tingkatan lebih tinggi
ketika film memasuki pertengahan, yang biasanya, jadi momen saat thriller kehilangan daya cengkeramnya.
Peningkatan tersebutbertempat di “adegan danau”, sewaktu investigasinya “banting
setir”, bergerak ke arah tak terduga yang semakin darurat, semakin genting,
semakin menegangkan. Dan semakin intens filmnya, bertambah pula tantangan bagi
John Cho menghadirkan performa meyakinkan mengingat hampir sepanjang durasi, ia
hanya menatap layar komputer maupun telepon genggam. Tapi Cho lancar mengolah
rasa, mejadikan film ini layaknya rekaman pengakuan dosa yang jujur dan
personal.
Setiap fase pencarian mengungkap
fakta baru sedikit demi sedikit, dan setiap fakta, mengarahkan kita menuju
kejutan. Banyak kejutan. Setelah skenario suatu situasi berjalan, memang mudah
menebak apakah itu faktual atau misleading,
tapi anda takkan menduga kebenaran sesunggunya. Setidaknya, tidak secara detail
nan menyeluruh. Pun kebenaran tersebut masih selaras dengan tema utama film,
bukti jika keberadaannya bukan semata demi faktor kejutan. Twist terbaik tidak (hanya) dinilai dari seberapa mengejutkan. Twist terbaik tidak datang entah dari
mana, tapi serupa yang dicontohkan Searching,
tertanam sepanjang film. Andai kita dan David memberi perhatian lebih.....
Agustus 27, 2018
Aneesh Chaganty
,
Debra Messing
,
John Cho
,
Michelle La
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Sara Sohn
,
Sev Ohanian
,
Thriller
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

