REVIEW - AYAH, AKU MAU CERITA
Kejutan! Versi Indonesia dari Drishyam (2013) yang memakai judul sentimental Ayah, Aku Mau Cerita guna menuruti kegandrungan publik atas drama keluarga penguras air mata, rupanya adalah remake yang apik. Adaptasinya cukup setia hingga bisa mempertahankan keseruan judul orisinalnya, namun tidak ragu memodifikasi kala diperlukan.
Bergulir selama 166 menit (terpanjang kedua dari semua versi, hanya kalah dari Papanasam, remake Tamil yang berdurasi 175 menit), Danial Rifki selaku sutradara sekaligus penulis naskah, langsung menggerakkan alurnya menuju inti konflik. Minim basa-basi, tanpa pembangunan latar belakang berkepanjangan ala sinema India.
Keputusan di atas dilakukan demi memfasilitasi tambahan eksposisi, sebagaimana bisa kita simak dalam diskursus dua polisi kala melihat protagonis kita, Andi (Vino G. Bastian). Berbeda dibanding Georgekutty (Mohanlal), Andi lebih hangat, emosinya tak mudah tersulut kala menghadapi dua putrinya, Aisha (Ziva Magnolya) dan Ditta (Queen Lubis), bukan pula pengusung paham patriarki dalam memandang peran sang istri, Marini (Niken Anjani).
Di luar caranya memotret si protagonis, alurnya cenderung setia, masih berpusat pada upaya Andi melindungi keluarganya yang terseret kasus hilangnya putra tunggal Iriana (Marsha Timothy), kapolres yang dengan senang hati menggunakan kebengisan demi menuntaskan kasus, yang kelak membawa kedua belah pihak terlibat adu kecerdasan sarat gesekan psikologis.
Hanya saja, Danial Rifki memilih menipiskan himpitan mental yang keluarga Andi alimi. Kekhawatiran mengintai, namun tak nampak membebani seberat yang jajaran protagonis di varian aslinya alami. Presentasi Ayah, Aku Mau Cerita pun terasa lebih ringan karena mengutamakan lika-liku permainan pikiran antara Andi melawan kepolisian.
Di lain sisi, kritik atas para penindas, baik pasukan berseragam yang hobi memungut pungli di siang hari dan gemar menebar kekerasan demi mencapai tujuan, maupun barisan penguasa sadis berdandanan necis, lebih dipertebal. Tengok saja nama-nama karakter aparatnya. Beberapa sentilannya tepat sasaran, sedangkan lainnya, seperti kemunculan kalimat "Yo ndak tahu, kok tanya saya?" atau foto lelaki berwajah bodoh yang terpampang di suatu restoran, sayangnya hanya dipakai untuk memancing tawa.
Poin yang saya kagumi dari naskahnya adalah kejelian memperbaiki lubang-lubang milik judul orisinalnya. Di Drishyam, beberapa muslihat Georgekutty terlampau bergantung pada kebetulan-kebetulan. Hal itu mampu diperbaiki. Rangkaian trik sang protagonis, dari cara Andi membuat Ditta terlibat obrolan dengan kondektur bus, sampai metode mengumpulkan nota restoran, orkestrasinya lebih terstruktur.
Pendidikan terakhir Andi hanya SD kelas 4, tapi toh polisi dibuat kelabakan berkat ilmu yang didapat dari kegemaran menonton film. Ayah, Aku Mau Cerita secara ciamik menegaskan statusnya selaku surat cinta pada sinema dengan mengungkai koneksi antara pertunjukan Andi dengan proses perumusan film, yang dilakukan secara superior nan lebih terdengar penuh kecintaan atas mediumnya, melalui monolog Iriana.
Keunggulan naskahnya sanggup menutupi kekurangan Danial Rifki menunaikan satu perannya yang lain, yakni menyutradarai. Hasil arahannya tidak buruk, tapi kentara betul ia belum menguasai seni menggenjot dramatisasi yang senantiasa jadi keahlian sineas India. Sedikit cela tersebut paling terasa di babak klimaks yang terlalu miskin gaya (terutama perihal pilihan shot) dan letupan intensitas.
Departemen lain untungnya tampil gemilang. Komposisi gubahan Mondo Gascaro memperdengarkan peleburan elok antara bunyi-bunyian tradisional dan musik atmosferik ala sinema noir, sedangkan akting jajaran pelakon, khususnya Marsha Timothy yang secara lincah membolak-balik wajah Iriana, dari figur kapolres keji dan seorang ibu yang didera kekhawatiran akan nasib putranya.
Ayah, Aku Mau Cerita adalah remake berkualitas. Konklusinya pun masih menyisakan pukulan telak bagi aparat. Tatkala Andi melangkah penuh keyakinan pasca mengungkap rahasia terbesarnya di penghujung kisah, kita pun diingatkan betapa pondasi institusi penegak hukum sudah sedemikian busuk, sehingga bisa menyamarkan aroma busuk yang lain.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar