KERAMAT (2009)

1 komentar

Indonesia punya segala macam kisah mengenai hantu-hantuan yang sangat dekat dan merakyat. Dan apabila digarap dengan benar dan setia dengan kisah yang ada maka sebuah sajian film horror yang seram bukanlah hal sulit dalam horror lokal. Tapi sayangnya atas nama komersialitas hal tersebut mulai dikesampingkan. Bumbu porno dan seksual yang tidak penting mulai menjadi tren di film horror kita. Bahkan penggambaran hantu seperti pocong tidaklah terlihat seram di filmnya. Tapi sekali lagi perlu ditekankan apabila seorang sutradara horror lokal menmapilkan segala kisah yang tidak dilebih-lebihkan dan bertutur apa adanya atau paling tidak mendekati hal tersebut, maka horror yang seram adalah sebuah jaminan. Dan seorang Monti Tiwa telah melakukan itu 2 tahun lalu melalui "Keramat".

Kru dan pemain dari film "Menari di Atas Angin" sedang melakukan perjalanan ke Jogja untuk pengambilan gambar sekaligus pra-produksi. Proses tersebut juga direkam oleh salah satu kru dengan kamera untuk behind the scene nantinya. Proses yang awalnya antusias bagi mereka lama-lama mulai berubah saat salah satu pemain mereka, Migi (Migi Parahita) tiba-tiba sakit parah dan tak sadarkan diri. Dan ternyata tubuh Migi sudah dirasuki oleh makhluk halus yang kemudian membawanya ke alam lain. Seluruh kru dan pemain tentunya berusaha mencari dan membawa pulang Migi. Dan hal tersebut yang akhirnya membawa mereka kedalam berbagai peristiwa gaib yang menyeramkan. Dan semua itu terekam dalam kamera behind the scene yang mereka bawa.

Pemilihan teknik mockumentary membuat film ini makin berasa "keasliannya". Tapi teknik tersebut belum tentu menjamin sebuah film horror mampu tampil natural sehingga bisa membuat penonton dekat dengan kengerian yang ada. Contohnya adalah "Terekam" dari tuan Nayato yang penuh ke-lebay-an disana-sini, dan pemilihan pemain yang jelas sudah dikenal orang, sekaligus premise yang sangat tidak masuk akal. Sedangkan "Keramat"menggunakan pemain yang belum begitu dikenal publik. Premise yang ada juga lebih masuk akal, dimana setting film menggunakan Jogjakarta yang memang masih kental unsur mistisnya. Sebagai orang yang bertempat tinggal di Jogja saya merasakan kedekatan tersendiri dengan film ini.


Monty Tiwa juga berhasil menghadirkan jenis-jenis teror yang memang dekat dengan kehidupan mistis Indonesia khususnya Jawa dan Jogja. Seperti contoh gamelan berbunyi sendiri, sosok nyai penunggu daerah tertentu, makhluk halus "kejawen" yang merasuki tubuh seseorang yang dia "suka",sampai rombongan pembawa keranda mayat dan masih banyak lagi. Semuanya adalah hal yang pernah kita atau paling tidak saya dengar dan sudah bisa dibilang sebagai kultur di negeri ini. Begitu juga kemunculan pocong yang tepat porsinya. Daripada mengandalkan tampilan muka rusak dan efek close-up yang malah membuat konyol, pemunculan pocong disini lebih diperlihatkan dengan membangun aura. Dalam waktu beberapa detik kita dibiarkan terdiam melihat bagian bawah pocong melompat-lompat mendekati kita. Sungguh yang ditawarkan di "Keramat" murni kengerian yang dibangun oleh suasana dan kultur yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Walaupun tidak memberikan efek seks yang sedang ngetren saat ini, bukan berarti film ini tidak punya wanita cantik sebagai penambah hiburan selain ketakutan. Miea Kusuma dan Poppy Sovia memegang peranan tersebut di film ini. Dan hebatnya mereka juga sanggup berakting pada porsi yang pas. Begitu juga Migi Parahita yang mampu memberikan aura creepy saat dia kesurupan. Selain itu film ini tidak lupa memberikan sedikit teguran bagi kita untuk lebih menghargai alam sekitar kita beserta penghuninya, baik itu yang nampak ataupun yang tidak. Meskipun terkesan agak menggurui buat saya. Masih banyak yang bisa saya tuliskan mengenai film ini, tapi berhubung saya terus merinding apabila mengingat tentang ini, saya memilih menyelesaikan review "Keramat" sampai disini. Bagi orang yang tidak terlalu percaya lagi pada hal mistis mungkin malah akan menganggap film ini konyol, tapi tidak buat saya.


OVERALL: Sebuah film yang horror yang mampu membuat saya begitu merasakan takut dan sering terkaget-kaget. Salah satu yang terseram buat saya.


RATING:

1 komentar :

  1. setuju dan setuju. Film horror indonesia paling berkualitas, memang sih agak ikut2 mockumentary film-film luar cuma atmosfir nya terasa banget. salah satu film Monty Tiwa yang tidak mengecewakan.

    BalasHapus